Negeri Paman Sam merupakan tempat berkembangnya board track racing, balapan yang berlangsung di atas lintasan sirkuit dengan material kayu papan. Kayu-kayu tersebut disusun sedemikian rupa hingga membentuk lintasan oval yang kemudian disebut motordromes.

1920-Harley-Davidson-Board-Tracker-COVER

Motordromes dibuat lebar untuk memudahkan pebalap beraksi melakukan take over dengan stabil. Penonton menikmati setiap aksi dari tribun bergaya stadion yang mengelilingi lintasan. Sekilas, motordromes mirip dengan velodromes tempat balap sepeda.

1920-Harley-Davidson-Board-Tracker-COVER

Tahun 1929 bisa dibilang sebagai masa-masa keemasan board track racing. Pembangunan motordromes menjamur sampai ada 24 sirkuit kayu yang tersebar di berbagai kawasan. Keberadaannya menyusul Los Angles Motordromes sebagai sirkuit kayu pertama yang lahir tahun 1910.

1920-Harley-Davidson-Board-Tracker-COVER

Sejarah mencatat, anti klimaks olahraga ini terjadi saat memasuki era 1930an. Sampai tersisa hanya sebanyak dua sirkuit kayu yang beroperasi. Kepunahan sirkuit dan olahraga ini tak lepas dari kendala finansial yang dihadapi pengelola.

1920-Harley-Davidson-Board-Tracker-COVER

Pembangunan lintasan sirkuit dengan bahan baku kayu memang lebih ramah di kantong para investor. Sayangnya, biaya justru membengkak untuk urusan perawatan. Belum lagi badai ekonomi Great Depression yang memporak-porandakan ekonomi Amerika Serikat, bahkan berlanjut hingga skala global.

1920-Harley-Davidson-Board-Tracker-COVER

Hingar-bingar kejuaraan board track racing benar-benar lenyap di tahun 1932 dan hanya menyisakan memori berisi nama-nama besar yang pernah terlibat. Contohnya, pabrikan sepeda motor Harley Davidson yang produknya acap kali menorehkan prestasi di ajang tersebut.

1920-Harley-Davidson-Board-Tracker-COVER

Hingga akhirnya, memori itu kembali hidup melipur rindu di pesta kustom kultur bertajuk Kustomfest 2015 di Yogjakarta, 3-4 Oktober lalu. Ajang dimana sepeda motor Harley-Davidson Board Track Racer garapan Lowo Abang Art Cyle menarik ribuan pasang mata. Tidak hanya itu, motor yang sebagian besar komponennya handmade tersebut juga berhasil menyabet titel Champion Bike Show – Free for All (FFA) dan People’s Choice Kustom Bike Show.

1920-Harley-Davidson-Board-Tracker-11

Butuh waktu satu tahun bagi Mbah Yusuf, orang yang menggawangi Lowo Abang Art Cycle untuk menjadikan Harley Davidson lansiran 1920 ini punya tampilan begitu mengesankan seperti sekarang. Pembangunannya dimulai saat Yusuf menemukan mesin berkubikasi 1.000cc tersebut di Kab. Temanggung dengan kondisi ala kadarnya.

1920-Harley-Davidson-Board-Tracker-11

“Nemunya ya mesin saja. Kondisinya tentu saja mati dan berkarat. Komponen di dalamnya banyak yang sudah tidak bisa dipakai. Tapi ya tetap saja bersyukur karena mesinnya sangat langka,” kenang Si Mbah.

1920-Harley-Davidson-Board-Tracker-11

Restorasi pun dilakukan guna menjadikannya layak ditunggangi. “Kesulitan utama di engine. Detail di dalam engine-nya itu, kan, susah karena piston terbuat dari besi. Di situ kita adakan observasi, ditimbang, diteliti, menggunakan besi apa supaya hidup,” jelas Yusuf.

1920-Harley-Davidson-Board-Tracker-11

Kelar meracik mesin, langkah selanjutnya adalah membangun body dan frame tempat dapur pacu dimaksud bertumpu. Kendala pengadaan spare part diakali dengan menumpahkan semua kreasi langsung dengan menggunakan tangan sang seniman. Ya, seniman. Bukan mekanik. Lantaran guratan demi guratan yang ditorehkan di beberapa bagian membutuhkan imajinasi. Mirip saat seorang pelukis memulas kuas pada kanvas. Sangat detail.

1920-Harley-Davidson-Board-Tracker-11

Saya sempat terperangah dan langsung menyerah saat Mbah Yusuf menantang saya untuk menghitung berapa banyak detail di motor ini. “Coba silahkan hitung dan terka ada berapa detail di sini?” tanyanya.

1920-Harley-Davidson-Board-Tracker-11

Seperti karya Lowo Abang Art Cycle lainya, komponen handmade mendominasi di setiap sesi. “Yang orisinil hanya karburator, mesin, pelek, jari-jari. Orisinil dalam arti kita membeli komponen tersebut, selebihnya buatan sendiri,” tambahnya.

1920-Harley-Davidson-Board-Tracker-11

“Motor ini saya buat biar anak-anak muda Indonesia bisa memegang, mecoba sepeda motor yang katanya di museum mahal sekali. Kenyataannya anak-anak desa Indonesia bisa punya,” tutup Yusuf.