Mobil sport identik dengan simbol kemapanan dan kekayaan, dan kini hal tersebut mulai menurun. Pabrikan besar Jerman, BMW, percaya bila kendaraan sport utilitas (SUV) adalah biang keladinya.

“Pasar mobil sport kini menurun menjadi setengah dari seharusnya. Pasca-2008, semuanya kolaps. Saya tidak begitu yakin bila itu akan segera pulih dengan cepat,” papar jubir BMW, Ian Robertson dalam sebuah interview dengan Bloomberg.

Memang sebelum krisis fiansial, penjualan global BMW Z4 dan kompetitornya (Audi TT dan Mercedes-Benz SLK) berada di 114 ribu. Sementara proyeksi untuk 2014, menurut HIS Automotive, menaruh total 72 ribu untuk seluruh dunia, hampir setengah dari jumlah yang terjual di 2007.

Pemulihan yang pelan di Amerika Utara dan Eropa dinilai berpengaruh besar, namun Robertson menilai bila China dan pasar-pasar berkembang lainnya juga mempengaruhi penjualan global dari atas-ke-bawah. Tidak dapat terelakkan, lingkungan yang terpolusi menjadi musuh besar bagi atap terbuka, jadi peluang untuk tumbuh di pasar-pasar tersebut bisa dinilai mustahil.

Dan selain hal-hal yang disebutkan di atas, pergeseran tren pembelian konsumen adalah ekspansi pabrikan atas SUV dan mobil berbasis crossover ke dalam segmen harga dimana mereka sanggup berhadapan langsung dengan pembeli berbudget rendah. Tetu saja ekspansi ini tidak seimbang dengan segmen mobil sport.

Kini, CUV dan sejenisnya menawarkan kedinamisan dalam kombinasi kepraktisan dan kemewahan, yang tidak dapat ditemui dalam 10 tahun belakangan. Dengan lebih banyak pilihan, tentunya hal tersebut sudah membuat para penikmat mobil sport berpaling. Inikah akhir dari era mobil sport?