Sesuatu yang klasik akan menjadi abadi di kemudian hari

Kendati akrab dengan sedan keluaran Perancis saat kecil, namun eksotisme mobil-mobil Italia telah berhasil membuat salah satu kolektor mobil klasik bernama Cecil Bernard Silano jatuh hati. Desainnya yang tak lekang oleh waktu serta segudang teknologi mumpuni (di masanya) yang diusung dirasa sejalan dengan passionnya. “Mobil-mobil Italia selain mempunyai nilai eksotis yang tinggi, desainnya juga seolah memiliki alur cerita tersendiri. Dan orang Italia pasti bangga dengan hasil karya mereka sendiri,” jelas lulusan Universitas Jayabaya Fakultas Ekonomi Akutansi tersebut. Menurutnya, sesuatu yang klasik biasanya akan menjadi abadi di kemudian hari, selain merupakan sebuah kebanggaan hati tentunya.

Alfa Romeo Collector 3

Itallian Spirits

Kecintaannya terhadap mobil-mobil Italia semakin menjadi setelah Konsultan di bidang IT ini terinfluence saudaranya sendiri. Berbagai tipe Fiat dalam kondisi prima selalu dilihat Cecil saat berkunjung. Mulai dari Fiat Konde, Fiat 500 hingga Fiat 131. Jadi wajar saja jika setelah bekerja di tahun 1988 penggiat golf ini langsung menebus sebuah Fiat 124 Sport untuk mendampingi Alfa Romeo 2000 GTV miliknya. “Saya rasa tampilan sebuah mobil klasik yang paling sempurna itu berasal dari mobil Eropa, khususnya Italia,” ungkap Cecil.

Alfa Romeo Collector 1

Setelah sempat melanglang buana dengan mengkoleksi berbagai merek mobil asal negeri pizza, akhirnya kolektor mobil klasik yang pernah mengikuti pendidikan mekanikal di Australia itu merasa bahwa ketertarikannya ada pada merek Alfa Romeo. Cecil bisa lebih menjiwai Alfa Romeo. Sebab, Alfa Romeo adalah mobil yang memadukan antara nafas dengan hasrat atau passion orang Italia. The Itallian spirit always coming from Itallian cars. Pakem tersebut bisa diimplemetasikan dengan sempurna oleh para desainer Alfa Romeo. Mulai dari Bertone, Pinin Farina hingga Sattaculiga saat merancang Giulia Super 1300. “Sebuah hal yang luar biasa dalam sisi aerodinamika dan kehebatan mesin di eranya,” ujar kolektor die cast khusus Alfa Romeo ini.

Alfa Romeo Collector 4

Tiga Kali Restorasi

Ketiadaan informasi serta langkanya komponen menjadi kendala yang harus dihadapi saat bapak dua anak ini mulai berkutat dengan dunia mobil klasik. “Saya mulai merestorasi Alfa Romeo 1750 di tahun 1995 tanpa dibekali dengan literatur atau bahkan knowledge yang cukup. Membelinya dalam kondisi yang memprihatinkan, belum bertemu dengan anggota komunitas dan tidak tahu bagaimana cara membangun mobil tersebut hingga menjadi lebih baik,” tutur Cecil.

Alfa Romeo Collector 2

Dengan modal nekat akhirnya konsultan IT itu berusaha melengkapi setiap bagian mobil. “Sempat juga menggunakan spakbor milik Fiat 124Sport. Karena memang pada dasarnya saya sama sekali buta tentang Alfa Romeo, maka saya berusaha menebak-nebak bagaimana bentuk spakbor mobil tersebut, ” tambahnya. Proses restorasi menjadi lebih baik saat dirinya bertemu dengan para anggota komunitas pecinta Alfa Romeo. Setelah sempat 3 kali mengalami proses restorasi, akhirnya berkat bantuan mereka lah mobil tersebut bisa benar-benar kembali seperti baru keluar dari pabrik (concours).