Ridwan Jachrie 1

Menilik latar belakang pendidikannya,  Ridwan Zachrie memang terbilang berprestasi cemerlang. Sebutsaja, cum laude, lulus lebih cepat, beasiswa dan gelar Doktor di usia muda sudah ia raih. Berbagai bidang ilmu sudah dikuasainya, namun ada sisi lain yang kami rasa sangat menarik. Apakah itu?

Bagaimana kondisi bisnis di Indonesia saat ini menurut Anda?

Bila kita lihat di 2013,  dunia bisnis nampak quiet bit slow. Pengaruh ekonomi di AS dan tingginya nilai tukar Dollar jelas mengganggu perdagangan.

Oke, Anda menyebut adanya gangguan dalam dunia perdagangan. Nah, apa langkah pebisnis itu dalam menjalani tahun 2013 kemarin?

Jelas mereka melakukan langkah wait and see policy. Nampak jelas bahwa ekspansi bisnis di tahun lalu kelihatan kurang aktif, mereka lebih memantain bisnis yang sudah ada. Apalagi yang terjadi pada sektor pertambangan, peraturan pembatasan ekspor karena pertambangan dilarang mengekspor bahan mineral mentah. Lalu kewajiban penambang untuk memiliki smelter jelas membuat mereka harus lebih banyak memikirkan langkah bisnis.

Lalu bagaimana pandangan Anda di tahun 2014 ini?

Tahun ini adalah masa krusial bagi pebisnis. Sebab pemilu di Indonesia adalah hal yang sangat unik. Dimana selalu ada changing policy yang tentu saja akan membuat mereka takut untuk melakukan langkah-langkah. Mereka akan menunggu keputusan pemerintahan baru, apakah regulasi pemerintahan itu akan pro ke investor atau tidak?

So, apa harapan Anda terkait dengan regulasi pemerintah itu ?

Pemerintah tentu harus melakukan perubahan – perubahan untuk memberi jalan pada pengusaha lokal. Walau selalu timbul pertanyaan, apakah kita sudah mampu menjalankan bisnis tanpa bantuan ekspatriat? Itu memang menjadi sorotan besar. Namun saya yakin, untuk sektor pertambangan contohnya, transfer teknologi dari pekerja asing ke lokal harusnya sudah terjadi. Sebab mereka ada di sini kan sudah puluhan tahun, bukan baru kemarin saja. Kita sudah 20 sampai 30 tahun lebih menjalani kerjasama dengan asing. Dan sudah saatnya kita bisa mengelola sendiri.

Untuk membela pengusaha lokal, apa langkah yang sudah dilakukan pemerintah?

Langkah pembatasan modal asing agar tak lagi menjadi majority share holder saya rasa sudah tepat. Natural resources memang harus milik bangsa kita sendiri.  Namun hal ini ternyata masih menjadi sebuah hal yang dilematis, karena memang masih banyak yang belum siap dan perlu dipersiapkan.

Ridwan Jachrie

Nice, pandangan Anda tentang bisnis kami rasa sudah sangat mendalam. Namun kami ingin tahu lebih dalam tentang pribadi Anda. Dimulai dari apa latar belakang pendidikan Anda?

Saya tumbuh di lingkungan kawasan Kebayoran, Jakarta Selatan. Saya sekolah di Pangudi Luhur yang notabene adalah sekolah khusus laki-laki. Kemudian saya kuliah di Fakultas Hukum Universitas Trisakti dan lulus di tahun 1991, lalu saya berhasil mendapatkan beasiswa London School of Economics untuk mengambil gelar master di bidang ekonomi. Dan terakhir iya melanjutkan pendidikannya hingga tingkat doktoral bidang politik internasional di Victoria University of Wellington.

Bisa Anda ceritakan jenjang karir Anda?

Saya memulai karier profesionalnya sebagai staf, kemudian menjadi assistant manager di Citibank. Lalu pernah juga HSBC dan vice president di PT Bank Mandiri Tbk. Lalu saya sempat menjalani pekerjaan sebagai diplomat di Selandia Baru Ridwan Zachrie juga giat mensosialisasikan kebijakan dan praktik tata kelola perusahaan yang baik (good corporate governance) di Indonesia.

Ok, apakah Anda punya ketertarikan pada bidang otomotif?

Orang tua saya bekerja di Departemen Luar Negeri (Deplu) sebagai diplomat. Saya ingat betul dengan mobil-mobil yang mereka pakai saat itu. Chevrolet Impala maupun Valiant. Hingga saat ini saya punya niatan untuk kembali membangun mobil-mobil seperti itu, sepertinya asyik juga sebagai hobi. Nah ketika sayapun menjadi seorang diplomat di Selandia Baru, saya punya pengalaman yang seru.

Apa pengalaman seru itu?

Saat itu saya mengendarai mobil dinas saya berplat nomor CD. Saya sengaja pilih BMW Seri 7 saat itu. Nah di saat saya memacu mobil itu sampai 140 km/jam dari Auckland menuju Wellington, patroli jalan tol mengejar saya karena dianggap speeding (melebihi batas kecepatan). Saya pikir dengan plat nomor kedutaan bisa lebih santai, ternyata tetap diberhentikan. Ketika saya Tanya alas an kenapa saya diberhentikan, sang polisi cuma memperingatkan bahwa saya melebihi kecepatan.

Lalu apa argumen Anda saat itu?

Saya cuma senyum dan sedikit memberi sindiran, untuk apa pakai mobil 3000cc tapi gak bisa dipakai melebihi kecepatan 110 km/jam? Ya saya bilang saja ke petugas itu, kalo bisa New Zealand tak perlu import mobil cc besar aja lah. Percuma, hahaha

Lalu apa mobil pertamakali yang dibeli dengan hasil keringat sendiri?

Waktu itu saya sudah bekerja di Citibank, dan saya pilih BWM Seri 3 M40 awal tahun 90an. Mobil itu saya pakai hanya tiga tahun.

Suka dunia motorsport?

Saya suka MotoGP karena ada Rossi. Namun lebih suka nonton F1 sebenarnya. Saya suka melihat sebuah kompetisi, namun di lain sisi saya sangat memuja pembalap yang memang bukan mengandalkan mesin sebagai faktor utama. Saya suka Rossi karena dia very talented dan memang born to be champion.

Ridwan Jachrie

Trivia

BMW / Mercedes? BMW

Harley-Davidson / Ducati ? Ducati, saya Italiano

Asia / Buleasia ? Asia

MotoGP / F1? F1

Sedan / Jeep? Jeep

Laut / Gunung ? Laut

Café / Club ? Club

Film romantic / Perang ? Romantic true story