Triumph Scrambler (4)

Melihat oknum bermotor besar seliweran di jalan raya dengan arogan dan bahkan sesekali melaju di jalan bebas hambatan membuat saya kurang simpati. Ditambah lagi dengan dandanan monoton mulai dari kepala sampai kaki. Lah wong sejak Sekolah Dasar sudah berseragam, kenapa mau having fun sambil riding motor masih harus seragaman pakai sepatu, celana, kaus, jaket hingga bandana bermerk sama. Apa tidak lebih enak tampil santai? Ah, sudahlah.. Biarkan mereka asyik dengan dunianya sendiri. Saya enggan berkomentar terlalu jauh.

Triumph Scrambler (1)

Berbicara soal dandanan, menurut pengamatan saya memang lebih asyik menyimak gaya anak-anak motor lansiran negaranya Pangeran Charles. Mulai dari jaket kulit, denim dan boots bergaya Rockers ala Marlon Brando di film The Wild One, atau gaya casual mengandalkan t-shirt dan sneakers. Kalau katanya Derby Romero sih “gayanya anak muda banget”. Mengingat dulu sempat akrab dengan brand seperti AJS, BSA, Ariel dan beragam motor keluaran Inggris lainnya, saya tidak sabar untuk mencari motor yang bisa dibesut sekaligus reuni dengan koleksi baju yang lama terpendam di dalam lemari.

Triumph Scrambler (8)

Pucuk di cinta ulam pun tiba. Kebetulan beberapa waktu lalu saya dijejali satu unit Triumph Scrambler untuk dijajal performanya. Ini yang saya tunggu-tunggu. Kecintaan saya terhadap motor-motor asal Inggris membuat saya langsung mengiyakan ajakan tersebut tanpa banyak alasan. Desain klasiknya yang abadi kerap dianggap sebagai pesona yang tak lekang dimakan jaman dan yang pasti tidak mainstream. Yuk ah dicoba..

Triumph Scrambler (9)

Lahir sebagai versi off road dari Bonneville sontak menjadikan tampilan Scrambler jauh lebih sangar, mencerminkan kesan rebel. Malahan model ini dikenal sebagai model  paling sohor yang menjadi tunggangan selebriti dunia. Mulai dari bintang Shakespeare in Love-Joseph Fienes, Norman Reedus (The Walking Dead), hingga David Beckham.  Diperkenalkan di 2006, Triumph Scrambler adalah model terakhir yang digarap langsung oleh John Mockett, desainer andalan Triumph. Desain modular varian ini menjadi yang tersukses dengan gaya unik yang terinspirasi dari TR6C Trophy Special. Ketimbang membahas terlalu dalam tentang sejarah, lebih baik langsung memanfaatkan kesempatan untuk menjajal motor yang hadir di Indonesia lewat tangan Triumph Motorcycle Indonesia ini.

Triumph Scrambler (7)

Sebuah motor harus sanggup menghasilkan emosi. Dan bagi saya, Triumph Scrambler mampu mememancarkan aura serta getaran-getaran yang dapat menstimulasi semua rasa. Tampilannya yang garang dan agresif langsung menyihir setiap mata yang melihatnya. Hmm… Sekarang saatnya menikmati lonjakan adrenalis saat memacunya menempuh beragam karakter jalan di akhir pekan. Menyiapkan seragam seperti rekan yang hanya memanaskan motor menempuh untuk perjalanan singkat menuju mal mentereng menembus jalur cepat saat Car Free Day? Tidak! Cukup jeans belel , flanel usang dan Red Wing butut. Toh yang penting ridingnya.

Triumph Scrambler (12)

Kondisi jalan yang awalnya padat, perlahan mulai lengang seiring kembalinya sang mentari keperaduan. Berganti dengan senyuman rembulan ditemani gemerlap bintang. Sayup-sayup terdengar suara burung kembali ke sarangnya berkolaborasi dengan merdunya dentuman knalpot. Bukan laras knalpot standar, melainkan sebuah low mount exhaust system produksi Zard. Sebuah harmonisasi orkestra unik sebagai peneman perjalanan.

Triumph Scrambler (11)

Gemuruh mesin 865cc  menjadi penyemangat saat akan melahap medan menanjak. Lumbung pacu delapan valve ini diklaim mampu menyemburkan torsi lebih besar pada putaran mesin bawah. Seperti dilansir laman resmi Triumph, 90% torsi Scrambler sudah dihasilkan mulai dari 2500 rpm. “Coba ah,” gumam saya. Dan benar, menaklukkan jalan menanjak tadi penunggangnya tidak perlu membetot dalam-dalam throttle control.

Triumph Scrambler (6)

Handle bar-nya cukup lebar dibandingkan model lain yang ada dalam kerajaan Triumph juga membuat saya  mudah mengendalikan motor  yang mengadopsi sasis baja tubular twin cradle ini. Klasik! Usah risau dapur pacu berkelir hitamnya rusak akibat hantaman kerikil jalan. Kan sudah dilindungi dengan skid plate di kolong mesin. Sayangnya, exhaust system aftermarket asal Italia tersebut membuat saya harus sedikit berhati-hati. Lantaran posisinya yang mengingatkan saya pada tren knalpot kolong di motor-motor lokal era 90an otomatis memangkas ground clearance. Hanya sedikit sih, tapi cukup bikin jantung berdebar.   Tahu begitu tadi saya kembalikan saja high level twin chromed stainless steel exhaust pipes bawaan pabrik.

Triumph Scrambler (10)

Untungnya siksaan tadi tidak berlangsung lama. Hamparan aspal mulus membentang sepanjang jalan menuju tujuan. Kini giliran tugasnya sistem suspensi Kayaba di depan dan belakang untuk membuat saya merasa nyaman sekaligus aman. Peredam kejut dengan travel 120mm di depan serta shock kembar adjustable preload 106mm di buritan terbukti mumpuni untuk melibas sudut-sudut tajam tikungan dalam kecepatan sedang. Lalu bagaimana dengan sistem pengereman? Cakram 310mm dengan floating caliper 2 piston dari Nissin di depan dan disc 255mm yang dijepit floating caliper Nissin 2 piston rasanya cukup. Toh motor ini memang bukan buat kebut-kebutan kendati punya tampang pemberontak.

Triumph Scrambler (5)

Mengistirahatkan diri di sebuah gerai kopi, saya pun sebentar meluruskan kaki sembari menghangatkan diri melalui secangkir espresso. Indahnya panorama kota di malam hari ditingkahi dengan kilauan lampu serta kedipan bintang di angkasa sanggup membunuh lelah. Segarnya udara yang masuk ke dalam paru-paru seolah me-recharge sekujur tubuh dan pikiran. Nikmat.. Sembari mengecap tumpuk demi tumpuk kudapan ringan saya sempat melihat bahwa Triumph Scrambler yang saya bawa menjadi primadona di tempat parkir, menyita setiap mata pengunjung yang datang. Well, silahkan ditelanjangi. Saya cukup mengagumi si “Glorious Rebellion” dari jauh saja.