Beezy Kaffee f

Saya sempat berangan bisa mengumpulkan sisa-sisa masa lalu kedalam satu cangkir kopi. Dengan kata lain saya ingin sekali mengajak para sahabat semasa kuliah termasuk mantan kekasih untuk ‘ngopi cantik’ dalam suasana santai dan hangat di sebuah coffee shop. Lima tahun tak bersua, akhirnya saya memutuskan untuk berkumpul kembali dan memusnahkan rasa rindu di sebuah gerai bernama Beezy Kaffe.

Beezy Kaffee g

Dan kecintaan kami untuk kumpul-kumpul, ngobrol seru sembari nyemil dan ngopi di sore hari, tampaknya serasi dengan konsep filosofi lebah yang suka berkerumun, yang dibesut gerai yang berlokasi di jalan Wijaya 1 no 11 ini. Jadi wajar saja ya, jika dinding dan atap coffee shop yang biasa digunakan untuk press conference, launching produk, kopi keliling dan pemutaran penjurian film indie ini dipenuhi dengan ornamen khas honeycomb. Dominasi nuansa tanah berkelir cokelat, kian menghidupkan atmosfer natural ke seluruh aspek tatanan baik indoor maupun outdoor.

Beezy Kaffee m

Untuk menterjemahkan pakem lebah yang diusungnya, pengelola Beezy Koffee sengaja memajang satu unit Vespa GTV yang bertengger di salah satu sudut. Pasalnya, saat disodorkan konsep scooter MP6 oleh teknisi bernama Corradino D’Ascanio, Bos Piaggio, Enrico Piaggio sontak berkata “Sembra una vespa!” atau “itu menyerupai lebah!”. Jadi, wajar saja jika Vespa digunakan sebagai ikon di gerai ini. Cocok!

Beezy Kaffee k

Lebih melesat masuk ke dalam, kami melihat, bahwa desain café yang terinspirasi dari potato head Bali tersebut, juga menggabungkan nuansa manly dengan warna-warna hitam, putih dan abu-abu.

Beezy Kaffee h

Tak menunggu lama, senyum ramah dari sang waitress mengantarkan kami ke salah satu sudut paling strategis untuk leyeh-leyeh, dengan gelaran sofa empuk plus kursi malas serta rak buku bacaan khas negeri sakura. Tapi tiba-tiba, salah satu dari kawan lama-pun berceletuk, “ Yuk pindah ke area outdoor, kalau di sini sudah terlalu mainstream atmosfernya.”

Beezy Kaffee e

Ok!. Kami pun mengiyakan keinginannya. Kebetulan cuaca cukup bersahabat untuk menikmati sore di selatan Jakarta. Meski tak terlalu luas, hanya dengan beberapa sofa panjang dan meja warna-warni, bagian roof top berdesain ala Korea ini kian menggelanyutkan waktu kami untuk bercengkrama, membahas banyak cerita lucu di masa lalu. Homie… Tak lupa secangkir kopi Arabica beraroma pekat nan legit bercampur susu, dengan foam sebagai garnish, bergelar Cappuccino menemani tiap bait kisah yang kami kulik hari itu.

Beezy Kaffee

Tak lama berselang menu pesanan kami pun tergeletak manis di atas meja, dan siap kami santap. Termasuk Beezy Chicken Steak, yang menjadi unggulan di coffee shop ini. Tapi wajar sih, ia menjadi unggulan, karena saat kami lahap, bumbu dalam potongan paha ayam yang di pan fried kemudian di grill tersebut seketika lumer dimulut, dan merasuk dalam jaringan indra pengecap kami. Saking lembutnya, daging ayam yang disajikan dengan saus mayonnaise, dan french fries ini tak membuat gigi kami lelah untuk mengunyah.

Beezy Kaffee b

Ya ya ya… kami akui, masalah perut, Beezy Kaffe yang diciptakan oleh tiga anak muda ini memang top, dari starter, desert hingga appetizer disajikan dengan taste sempurna disini. Dan di atas roof top mungil ini, kami pun memilih untuk menutup malam dengan rasa legit, manis, lembut bercampur gradasi cantik ala ombre dan rainbow cake. Buaian lagu berjudul Jingga yang didendangkan oleh Andien-pun menyempurnakan tangis dan gelak tawa dari reuni kecil kami.