Royal Enfield Continental GT d

Nama Royal Enfield memang saat ini kalah pamor dibandingkan motor racikan Jepang, AS atau Italia. Jadi wajar saja, jika pada gelaran IIMS 2014 silam banyak khalayak yang mengira kalau produk made in India ini adalah motor modifikasi saat singgah ke booth TheGasPol. Tapi di mata pemain lama, Royal Enfield merupakan salah satu brand legendaris asal Inggris, yang sudah memproduksi sepeda motor sejak tahun 1890.

Royal Enfield Continental GT c

Namun di 1955, 50% saham milik Royal Enfield dikuasai oleh Madras Motor asal India dan mulai memproduksi Royal Enfield Bullet 350cc di Madras untuk memasok kebutuhan akan motor polisi dan angkatan bersenjata India. Dan pada 1957, mereka juga membeli beragam perlengkapan produksi dan mulai merakit komponen. Hasilnya, penjualan Royal Enfield India melonjak drastis dan membuat mereka harus menggandakan shift kerja guna memenuhi permintaan. Sayang memang, apalagi pada 1970 royal enfield Inggris mengalami kebangkrutan dan akhirnya gulung tikar.

Royal Enfield Continental GT

Lalu apakah nuansa klasik yang kental akan aroma masa lalu khas Britania sontak pudar saat Royal Enfield diproduksi di India? Tentu saja tidak. Pasalnya, meski sudah berganti kewarganegaraan, namun ragam produk Royal Enfield tak sedikitpun meninggalkan cita rasa Inggris. Dalam artian perusahaan ini akan tetap mengadopsi desain, juga teknologi motor-motor lawas khas Britania Raya untuk menggaet para penggemar motor-motor klasik di seluruh dunia.

Royal Enfield Continental GT g

Lihat saja Royal Enfield Continental GT berkelir merah yang saya tunggangi ini. Ia masih saja tampil klasik, simple, atraktif dan tentu saja sporti lantaran gaya café racernya yang kental. Jujur saja, desain kompaknya, membuat saya nyaman mengoyak aspal ibu kota. Menembus belantara kemacetan? Tidak masalah. Jadi sangat tak masuk akal untuk saya menampik tawaran untuk berkencan dengannya sore ini. Sepulang kerja, masih menggunakan setelan denim, dan leather boot, saya pun langsung menyabet helm retro berkelir emas, dan berlalu dengannya.

Royal Enfield Continental GT h

Ditemani senja, gaya retro dan café racer, paket weekend saya pun jadi sempurna!. Tapi kali ini, saya sengaja tak memilih jarak ratusan kilometer untuk bersenang-senang. Ya, cukup dalam kota saja, sembari tebar pesona. Yang penting saya bisa mengulik semua unsur terindah motor ini di jalanan berliku, sambil merasakan sensasi berkendara dan handlingnya yang digadang prima.

Royal Enfield Continental GT e

Dan  untung saja, di etape  pertama, acara ‘kencan’ dengan Royal Enfield Continental GT ini tak disambut oleh traffic jam, sehingga sayapun masih bisa merasakan handling yang diagungkan oleh para fans Royal Enfield itu. Hasilnya, benar! Saya cukup mudah melahap tikungan dan langsung membuka throttle untuk keluar tikungan secepat kilat.

Royal Enfield Continental GT j

Ok, saya pun kembali menarik tuas gas dan masuk ke jalanan lurus. Di etape kedua ini, performa Continental GT terbukti mumpuni. Kapasitas mesin 535cc yang diusungnya membuat saya bertanya-tanya, apakah performa yang ditawarkan bisa lebih ‘mengigit’? Dengan beragam komponen yang diracik ulang plus ECU baru yang sudah diprogram ulang, tentunya membuat saya penasaran. Seperti karakter mesin satu silinder berkapasitas besar, motor ini tidak enak jika langsung dibetot. Mesti diurut dari bawah hingga putaran mesin sempurna baru nikmat.

Royal Enfield Continental GT i

Dentuman yang keluar dari laras knalpot terdengar sangat merdu dan khas Inggris, laksana gebukan Keith Moon, drummer The Who di tembang Heaven and Hell. Tenaga sebesar 29,1 hp yang diimbangi dengan torsi 44 Nm yang diklaim pabrikan terasa cukup untuk mengatasi lonjakan adrenalin. Tidak berlebih memang. Sekali lagi memang bukan performa yang dititikberatkan oleh punggawa Royal Enfield. Melainkan kenyamanan dan kenikmatan berkendara. Dan yang membuat saya lebih percaya diri adalah racikan sasisnya yang ternyata diciptakan langsung oleh Steve Harris Performance asal Inggris. Stabil.

Royal Enfield Continental GT a

Kenikmatan ini yang membuat saya terlena. Tanpa sadar jalan lurus sudah habis dengan tikungan menyongsong di muka. Jujur saja saya tak pernah takut untuk melakukan hard braking saat melaju di atas Royal Enfield Continental GT. Pasalnya paket rem depan cafe racer ini adalah Brembo 300mm floating disc, dengan dua piston floating caliper. Sementara di buritan cukup dicangkok cakram berdimensi 240mm yang dijepit single piston floating caliper. Pakem? Pastinya.

Royal Enfield Continental GT l

Yah… hingga akhir perjalanan, ada satu poin yang membekas di benak saya. Handling Continental GT 2014 ini memang istimewa. Bahkan, kalau boleh memberikan penghargaan, model kendaraan seharga Rp.225 juta ini adalah Royal Enfield ternyaman yang pernah saya rasakan.