BMW-r-nineT-Clubman-Racer-46-Works-l

“The excitement of dreams coming true is beyond the description of words.” Ya, quotes yang digurat oleh seorang pengarang buku dan motivator asal Ghana bernama Lailah Gifty Akita tersebut bisa menggambarkan perasaan saya saat dapat melihat dan menyentuh langsung motor-motor yang masuk dalam BMW r nine T Custom Project gelaran BMW Motorrad Jepang. Pasalnya, saya kadung jatuh cinta dengan motor yang dikembangkan oleh Ola Stenegard (Head of Vehicle Design BMW Motorrad), Klaus Ottillinger (Bodywork BMW nineT BMW Motorrad), Roland Stocker (Project Leader BMW nineT BMW Motorrad) dan finishingnya diserahkan kepada Roland Sands (Builder RSD) tersebut.

BMW-r-nineT-Clubman-Racer-46-Works-q

Menurut Ola, motor ini tidak diposisikan sebagai sebuah retro café racer atau naked bike sekalipun. Melainkan seperti sebuah kanvas kosong yang bisa menjadi media kreasi para modifikator. Cocok! Wajar saja jika builder papan atas Negeri Sakura seperti Kaichiroh Kurosu (Cherry’s Company), Hideya Togashi (Hide Motorcycle), Go Takamine (Brat Style) dan Shiro Nakajima (46 Works) mencurahkan segudang idenya pada motor ini.

BMW-r-nineT-Clubman-Racer-46-Works-p

Dan Ola pun sependapat dengan TheGasPolCom saat kami memilih untuk membahas BMW r NineT berjuluk Clubman Racer karya builder yang kini bermukim di bawah kaki gunung Yatsugatake, Shiro Nakajima. “Sangat sulit jika harus memilih salah satu yang terbaik dari ke empat motor ini. Semuanya terbaik dan berkualitas. Saya akan memacu motor buatan Kurosu san di hari Kamis, bergaya dengan motor karya Takamine san di Jumat, bermalam Minggu bersama motor kreasi Hide san dan menghabiskan akhir minggu di sirkuit di atas Clubman Racer,” jelas Ola pada TheGaspolCom dan Djoko Iman, builder papan atas yang kini membela panji Gearhead Monkey Garage di booth BMW Motorrad di Yokohama Hot Rod Custom Show 2014 beberapa waktu lalu.

BMW-r-nineT-Clubman-Racer-46-Works-j

Pecinta old-school chopper yang belajar Industrial Design di Stockholm, Swedia ini berbisik bahwa sesungguhnya dia jatuh cinta dengan motor buatan 46 Works. “Karena saya tinggi, maka saya yakin bisa merasa nyaman saat memacu Clubman Racer. Kalau motor yang lain sulit, lutut saya harus ditekuk habis karena motornya pendek,” tambahnya.

BMW-r-nineT-Clubman-Racer-46-Works-i

Tidak seperti builder modern yang lebih memilih untuk menuangkan sketsa di layar komputer, Shiro Nakajima termasuk builder konvensional yang menyimpan semua data serta konsepnya di dalam kepala. Dan langsung menorehkannya di atas lembaran plat metal.  Semisal untuk pembuatan tangki bensin. Untuk fabrikasi penampung bensin ini Nakajima san merancangnya terlebih dahulu dengan menggunakan plywood untuk menentukan bentuk dasar tangki.

BMW-r-nineT-Clubman-Racer-46-Works-r

Setelah jadi, langkah selanjutnya adalah memotong dan menggunting lembaran alumunium berdasarkan bentuk dasar tadi. Baru kemudian masing-masing potongan dilas dan disatukan menjadi sebuah tangki. Tidak sembarang mengelas, durasi panasi yang diterapkan harus sesingkat mungkin agar lempengan alumunium tidak rusak.

BMW-r-nineT-Clubman-Racer-46-Works-a

Langkah serupa juga diterapkan pada bagian body lainnya. Mulai dari fender, tulang jok, hingga rear end. Hampir seluruh pengerjaan sasis, body hingga mesin dilakukan sendiri oleh pria dua anak ini. Sementara pembuatan jok diserahkan kepada Razle Dazlea dan Stupid Crown untuk pengecatan.

BMW-r-nineT-Clubman-Racer-46-Works-k

Kelar urusan body, saatnya menyelesaikan masalah sistem suspensi. Untuk mengakomodir gaya ridingnya yang agresif, Shiro Nakajima ngotot untuk mempensiunkan fork standar lansiran Sachs dan menggantinya dengan peredam kejut buatan Ohlins. Pria yang juga gemar balap mobil bersama Alfa Romeo Alfetta GT ini menyesuaikan jumlah oli di fork agar karakteristiknya sesuai dengan kebutuhan.

BMW-r-nineT-Clubman-Racer-46-Works-n

Piranti terakhir yang dikerjakannya pada BMW r nine T yang mengadopsi velg Bito R&D Magtans ini adalah exhaust system. Lagi-lagi Nakajima san menerapkan kepiawaiannya yang didapat berdasarkan pengalamannya meracik motor-motor Eropa di Ritmo Sereno, gerai modifikasi tempatnya bernaung sebelum mendirikan 46 Works. Dia menilai pipa knalpot standar membuat mesin BMW r nineT kurang bertenaga pada 4 – 5000 rpm. Dan untuk mengatasi hal ini sekaligus memangkas bobot, pehobi remote control ini menghitung secara presisi tekukan-tekukan yang akan diaplikasikan pada pipa titanium dan menekuknya secara manual.

BMW-r-nineT-Clubman-Racer-46-Works-h

Lagi-lagi proses ini tidak mudah. Proses pemanasan yang dilakukan butuh konsentrasi tinggi dan harus betul-betul sesuai. Jika terlalu panas, bisa terjadi karbonisasi yang mengakibatkan batang pipa titanium menghitam. Sementara jika tidak panas, maka pipa dimaksud akan sulit ditekuk dan bisa berkerut. Dan hasilnya, berat keseluruhan pipa knalpot mencapai 2,5 kg. Lebih ringan 7,5 kg dibanding pipa bawaan pabrik. Jika dijumlahkan dengan penggantian velg yang mereduksi berat hingga 8 kg serta penggantian beberapa komponen body serta suspensi, maka total bobot yang berhasil dipangkas menjadi 30 kg.

BMW-r-nineT-Clubman-Racer-46-Works-c

“Itu alasannya mengapa saya membiarkan jeroan mesin tetap standar. Dengan performa bawaan pabrik dan dikombinasikan dengan bobotnya yang ringan, Clubman Racer masih mampu melayani hasrat saya akan kecepatan,” tutup Nakajima san.