Suicide-Customs-Japan-7

“Why are young Japanese people love American car?” pertanyaan itu yang kami lontarkan ketika melihat banyaknya anak muda di kota Nagoya yang mengendarai mobil buatan Amerika. “Ya, memang ada kebanggaan tersendiri bagi anak muda pecinta otomotif mengendarai mobil besar dan tentunya setir kiri,” ujar Koichi Sakaguchi.

Suicide-Customs-Japan-2

Well, punggawa Suicide Customs yang menjemput kami di stasiun Mikawa-Anjo, Nagoya, selepas dari perjalanan kami 2,5 jam dengan kereta cepat Shinkansen Kodama, rute Tokyo – Nagoya ini. Ia mengendarai Ford F150 Extended Cab lansiran 2003. Selama perjalanan kami juga melihat beberapa mobil besar seperti Chevrolet Tahoe, Chevrolet Suburban, Cadillac Escalade hingga Dodge Challenger.

Harley-Davidson-Shovelhead-Suicide-Customs-e

“Itulah salah satu sub-kultur otomotif Jepang, dimana banyak mobil Amerika dari tahun lawas hingga anyar yang bisa kamu lihat juga di ajang Yokohama Hot Rod & Custom Show,” tambah pria yang akrab disapa Koh ini.

Suicide-Customs-Japan

Well, usut punya usut. Ternyata dengan memiliki mobil Amerika menandakan Anda adalah pecinta otomotif. Malah yang lebih lucu lagi, ketika musim panas tiba. Tangan kiri pengemudi sengaja dibiarkan keluar dan terjemur matahari. Dan saat berjalan-jalan di mal, tangan Anda yang gosong sebelah akan menjadi pertanda Anda sebagai pemilik mobil setir kiri made in USA. Hahaha…

Suicide-Customs-Japan-5

Nah, kultur American Minded ini juga berlaku di sepeda motor. Harley-Davidson Jepang adalah salah satu yang terbesar penjualannya. Budaya menunggang kuda besi ini sangat berakar. Malah aliran Japanese Style juga sudah sohor ke seluruh dunia.

Suicide-Customs-Japan-3

Koh, adalah salah satu anak muda yang menganut aliran itu. Pria yang mengawali bisnis customizing sejak tahun 2006 ini melihat peluang bisnis yang besar pada barang-barang asal negeri Paman Sam ini. “Suicide Customs saya dirikan di garasi rumah saya yang sempit. Awalnya saya melihat celah dimana tak semua custom builder memiliki tools yang lengkap. Dari situlah saya mulai memainkan mesin bubut canggih, tube bending, las TIG dan MIG dan sebagainya,” kenang Koh.

Suicide-Customs-Japan-4

Saat bisnis mulai membesar, Koh masih kekurangan dana untuk melebarkan sayap bisnisnya. “ Saat itu saya harus memikirkan bagaimana mendapatkan uang lebih di sini. Akhirnya saya datang ke Indonesia dan mulai mengulik banyak parts yang bisa saya dagangkan di sini,” cerita pria yang tubuhnya penuh dengan tato ini.

Suicide-Customs-Japan-6

Di Indonesia ia merasa sangat mudah mencari uang. Dengan memesan beberapa jok kulit dari Bandung, serta pembuatan helm custom buatan Ciracas, Jakarta Timur. Ia mulai menampung dan menjualnya di Jepang. Hasilnya sangat menguntungkan. Dua atau tiga tahun selanjutnya akhirnya saya mulai bisa membeli mesin bubut CNC. “Nah, karena garasi saya sangat kecil dan tak mungkin mesin CNC itu masuk garasi. Akhirnya saya mendapatkan sokongan dana dari partner yang membuat saya bisa membeli sebuah gudang besar di kawasan Industri di 2-12 Oomiko Izumi-cho Anjo-city Aichi”, ujar pria 39 tahun ini.

Harley-Davidson-Shovelhead-Suicide-Customs-h

Di tempat itulah proses pembuatan motor custom pertamanya terjadi. Ya, sebuah Softail Custom FXSTC ’96. Dan setelah membangun motor, kamu mulai memutuskan untuk membeli aneka parts, terima jasa servis dan perbaikan motor dan sebagainya. “Dengan mesin CNC ini juga membuat bisnis saya semakin maju. Ya, saya mulai membuat velg, belt drive cover, pushrod cover, rocker box, triple tree, parts frame dan swingarm.

Harley-Davidson-Shovelhead-Suicide-Customs-g

Ciri khas karya Suicide Customs memang dapat langsung dikenali. Ya, mereka selalu suka gaya modern, material mahal dengan teknologi hi-tech. “Saya tak suka gaya old-school, bagi saya motor bergaya itu hanyalah piece of shit! Alias mudah sekali membuatnya. Dan old school bagi saya bukanlah bike building, namun assembling,” cecar Koh. Wajar ia mengatakan itu, sebab dengan memiliki mesin CNC yang berharga milyaran ini. Semua parts bisa dibuat dengan tingkat presisi yang sempurna dan cukup rumit.  Dan old school tak perlu teknologi itu.

Harley-Davidson-Shovelhead-Suicide-Customs-i

Dengan empat orang kru, Yuki, Tani, Jo dan Izumi. Yang masing-masing bertanggung jawab pada desain, pengelasan, bodyworks dan administrasi. Suicide Customs kini sudah sangat besar dan terus melakukan riset penggunaan material terbaik. Well, mengapa mereka menamakan bengkel ini Suicide Customs? “Saya tak ingin orang bunuh diri dengan motor yang asal jadi dan tak aman. Karenanya saya menciptakan segala sesuatu yang indah dan tentu dengan menjunjung tinggi unsure safety,” tutup Koh.