Sudah beberapa hari ini saya merasakan sensasi berkendara dengan Yamaha SR400. By the way, menunggangi motor lawas seperti ini membumbungkan imaji saya ke masa-masa kuliah saja. Rasanya memang lain dari biasanya.

Kok bisa?

Yamaha-SR-400-9

Jadi begini saja. Ibaratnya Anda adalah mahasiswa senior yang tiba-tiba datang lagi ke kampus karena suatu alasan. Tidak ada mahasiswa baru yang mengenal Anda. Semuanya cuek saja. Namun saat bertemu dengan kawan seangkatan, barulah obrolan mengalir deras. Lagi, lagi, dan lagi.

Yamaha-SR-400-2

Begitu memang analogi saat membesut Yamaha SR400 yang lahir ke muka bumi sejak 1978 ini. Mau sedang berhenti di perempatan jalan, sedang parkir, atau sekedar jalan-jalan santai, pengguna motor-motor keluaran baru mana ada yang melirik. Cuek saja. Tapi bagaimana kalau bertemu sesama pecinta motor lawas? Ya sudah… ditemani bergelas-gelas kopi selama semalaman pun obrolan akan terus mengucur.

Yamaha-SR-400-6

Mau merek apapun, motor lawas memang akan selalu mengundang cerita. Seperti motor berjuluk Thumper dimaksud. Meski motor ini masih diproduksi hingga 2015 ini, desainnya yang klasik seperti ini memang tidak ada matinya. Oldies never die!

Yamaha-SR-400-4

Tepat 37 tahun sudah Yamaha memproduksi SR400 ini. Dari era karburator hingga injeksi seperti sekarang. Tapi yang kebetulan saya pakai sih masih yang karburator. Sensasi desiran karbu saat throttle dipelintir itu tidak bisa didapatkan dari throttle body injeksi. Swirr… swirr…

Yamaha-SR-400-7

Aura klasiknya makin kental lagi dengan nihilnya sistem starter elektrik. Back to the old times boys… Kick it! Cuma itu satu-satunya cara untuk membuat mesin Big Single berkubikasi 400cc ini meraung. Untungnya sih di motor ini ada decompression lever yang letaknya di bawah tuas kopling untuk membuang kompresi berlebih saat starter. Fungsinya jelas! Meminimalisir betis yang keseleo kala terkena tendangan balik dari kompresi mesin.

Yamaha-SR-400-8

Jujur saja nih, soal handling SR400 terkesan tidak jauh berbeda dengan motor jaman sekarang. Berat kosongnya hanya 158kg seakan terlupa saat torsi sebesar 36Nm menyentakkan motor dengan entengnya.  Seat height setinggi 810mm mampu membuat saya menapak mantap di aspal. Perasaannya enggak jauh beda seperti naik cucunya alias Yamaha Scorpio.

Yamaha-SR-400-5

Memang tidak salah kalau Yamaha SR400 ini dibilang engkongnya motor-motor Yamaha jaman sekarang. Buat yang baru melihat SR400 untuk pertama kalinya mungkin bakal kecele. Pasalnya, sisi haluannya dijamin dianggap persis seperti Yamaha Scorpio. Dari lampu – lampu hingga bentuk speedometer. Bagian buritannya? Klop dengan Yamaha RX-K. Ciamik memang!

Yamaha-SR-400-10

Yah, soal motor klasik sih terkadang performanya sering disepelekan. Memang sih motor macam SR400 ini sungguh cocok jikalau saya mengajaknya bermain-main jauh alias cruising. Afdol juga sih buat ngeceng nongkrong di kafe. Ingat ingat peribahasa, makin tua makin jadi – makin jadul makin gaul – makin lawas makin berkelas. Ah sedap betul.

Yamaha-SR-400-1

Tapi toh, enggak salah juga dipakai harian di perkotaan. Saya cukup senang dengan aksinya menyelip diantara mobil dan angkutan kota yang sering sembarangan berhenti. Cukup lincah! Ada juga kalanya merasakan di-blayer blayer pengguna motor-motor lain saat berhenti menunggu di lampu merah. Mereka belum sadar sepertinya, ada 31 ekor kuda yang siap meronta saat throtel gas diputar. Saat lampu berubah hijau, saya sering geli tertawa dalam hati sembari memelintir gas dan melepaskan tuas kopling. Si ”engkong” pun langsung menyeruak ke barisan depan.

Hehehe… Jangan macam-macam sama Senior. Blarrr! Blarrr!!!