Built Like a Gun, Goes Like A Bullet. Petikan motto inilah yang bagai membius sisi sentimentil para pemilik Royal Enfield hingga hari ini. Rasa bangga memiliki brand motor kelahiran Inggris tahun 1890 yang berawal dari perusahaan pembuat senjata yang bermarkas di Redditch, Worcestershire, ini memang merasukk ke hati pecintanya.

Royal-Enfield-8

Adalah Riza Rivai, Andy Buell dan Chris Salam. Pengusaha sekaligus Pengacara yang bisa disebut sebagai “anak motor” ini merupakan salah satu dari pemuja produk yang sejak tahun 1956 mulai dirakit di Chennai, India.

Royal-Enfield-3

Lewat  PT Rizky Enerji Indomotor, trio bikers ini mulai merintis penyebaran Royal Enfield di tanah air, melalui ruang pajang sederhana seluas 1000 meter persegi di kawasan Rawamangun, Jakarta Timur.

Royal-Enfield-6

“Brand ini memang sudah besar namanya. Lahir di Inggris dan besar di India. Konsistensi pada karakter klasik di produk ini masih sangat kental. Soal ketangguhannya, kami sudah mengujinya untuk mendaki di pegunungan Himalaya. Itulah alasan kuat kami untuk masuk ke kancah permotoran di Indonesia,” ujar Andy.

Royal-Enfield-2

Well, ruang pajang Royal Enfield memang masih dibuat sederhana dan jauh dari kesan glamour layaknya merek mahal. Di sinilah kita merasakan soul dari dunia motor yang sejati. Hangar besar yang bisa disesaki 100 unit sepeda motor ini tampil seperti gudang motor. Namun begitulah simplisitas yang kami rasakan bagai seorang bikers yang tak perlu terpasung atribut berlebihan malah semakin kental.

Royal-Enfield

“Untuk awalan, konsep showroom sementara ini masih “open garage”. Semua display dan stok masih kami gabung dalam satu ruang. Parts serta aksesoris juga langsung tampil tanpa perlu ruangan terpisah. Dan tak hanya jual motor, kami juga tahu betul apa yang harus dilakukan sebagai peniaga yang bertanggungjawab. Satu orang mekanik kepala dan tiga orang mekanik terampil sudah kami siapkan” tambah Andy.

Royal-Enfield-5

Suasana showroom bergaya industrial ini memang sangat klop dengan profil customer RE yang berbeda dari budaya motor besar yang pernah dan sudah ada di tanah air. Peminatnya sangat jelas,  dari anak muda pecinta retro classic, hingga orang tua yang memang pernah punya pengalaman masa muda dengan motor Inggris.

Royal-Enfield-7

Nampak dari display yang terdapat di ruang pajang, tipe yang dijajakan saat ini memang masih Classic 500 dan Continental GT 535. Walau ke depannya mereka ada rencana untuk menggelontorkan versi 350cc yang diharapkan bisa lebih mudah diserap pasar. Nah, banderol (off the road) 160 juta Rupiah untuk tipe Classic dan 195 juta Rupiah pada Continental ala Café Racer bagi pecinta motor besar memang bukan harga yang mengejutkan. Apalagi RE memberi penawaran paket cicilan serta garansi 1 tahun yang tentu menggiurkan.

Royal-Enfield-4

So, bagi kami timing RE masuk ke Indonesia memang cukup tepat di kala demam motor Café Racer dan Retro Classic mulai menyeruak. Dan ya, siapapun yang meminang motor ini pasti memiliki pride yang tak bisa didapatkan dari brand lain. Well…