“He who works with his hands is a laborer. He who works with his hands and his head is a craftsman. He who works with his hands and his head and his heart is an artist.”

Kalimat yang keluar dari mulut St. Francis of Assisi ini seolah menjelaskan seluruh isi film garapan Clement Beauvais dan Arthur de Kersauson yang diproduseri oleh Orlando Bloom ini. Bagaimana tidak?

The Greasy Hands Preachers yang mendebut di San Sebastian Film Festival ini penonton bisa menyimak langsung keseharian custom builder sepeda motor papan atas. Mulai dari pekerjaan, kehidupan hingga motivasi seniman super kreatif. Sebut saja Shinya Kimura (Chabott Engineering), Roland Sands (RSD), David Borras (El Solitario), Fred Jourden (Blitz Motorcycles) hingga punggawa-punggawa Deus ex Machina.

Perjalanan di The Greasy Hands Preachers berawal dari padang garam tempat dipecahkannya ratusan bahkan ribuan rekor kecepatan, Bonneville Salt Flats, Utah dan diakhiri di sebuah kawasan di Jawa Tengah, Indonesia.

Potongan-potongan gambar candid yang disatukan dalam film ini mampu menangkap semangat dan filosofi budaya roda dua, khususnya di ranah custom.

The Greasy Hands Preachers merupakan gambaran sempurna dari sebuah ikatan antara manusia dengan mesin. Sebuah hubungan yang murni, terus mengejar petualangan tanpa akhir, penuh kreativitas dan tentunya haus akan kecepatan.