Memang tak pernah terbersit sedikitpun bagi kelahiran Magelang 12 Agustus 1971 ini untuk menjadi seorang pimpinan di bisnis otomotif. Ketertarikan pada dunia otomotif pun tak ia miliki awalnya, namun pengalaman bekerja yang selalu berhubungan dengan produk hi-end dan tokoh VVIP ini membuatnya tak sulit untuk menjadi garda terdepan di PT Genta Surya Otomotif

Apa latar belakang pendidikan Anda?

Kalau berbicara tentang background pendidikan, mungkin saya termasuk yang agak unik. Sebab saat lulus SMA, sebenarnya saya diterima di IPB (Institut Pertanian Bogor). Tapi saya sedikit ‘mbalelo’ ke orang tua lantaran lebih memilih untuk mengambil kesempatan menjadi pramugari Garuda.

Lalu bagaimana keputusan yang Anda ambil saat itu?

Ya saya memutuskan untuk menjadi Pramugari, dimana akhirnya hampir sepuluh tahun saya di Garuda Indonesia. Tapi saya merasa beruntung karena sempat menjadi Pramugari VVIP di jaman Presiden Soeharto. Dan cerita yang paling sentimental adalah, last flight saya sama dengan last flight beliau. Ya, kami melakukan kunjungan kenegaraan ke Mesir.

Devi-Abarth-2

Wah, sebuah pengalaman yang luar biasa. Lalu Anda tetap tidak mengambil kesempatan untuk bersekolah?

Nah, sambil mensiasati jadwal terbang sebagai cabin crew. Saya barengi dengan kuliah jurusan Ekonomi di Universitas Mercu Buana, Jakarta. Saya juga mengambil pendidikan PR di London School of Public Relations, Jakarta.

Bagaimana rintisan karir Anda dimulai?

Saat itu saya mengambil program early retirement (golden shake hand) jaman Robby Djohan sebagai Dirut Garuda Indonesia. Nah, lepas dari Garuda, bidang kerja yang saya geluti awalnya lebih banyak bergerak di bisnis retail. Ya, saya bergabung di Time International. Perusahaan yang bergerak di bisnis jam tangan mewah ini menugaskan saya sebagai Store Manager.

Apakah ada ‘jet lag’ setelah hampir 10 tahun menjadi Cabin Crew dan kemudian menjadi Store Manager?

Intinya adalah melayani VVIP dan menjajakan produk mahal, jadi treatment-nya sama saja. Di Time International, saya bangga bisa menjadi Store Manager perempuan yang pertama di kawasan Asia Pacific. Dari awalnya saya ditugaskan untuk memegang satu store, hingga saya dipercayakan untuk pegang dua store. Dan pengalaman kerja saya selama lima tahun di sana tak hanya menjadi Store Manager, namun sempat setahun sebagai Operations Manager. Hingga akhirnya saya pindah kerja lagi.

Devi-Abarth-3

Kemana Anda hengkang?

Saya hijrah ke salah satu perusahaan MRA Group. Saya mendapat panggialn untuk menjadi Operation Manager di Bang & Olufsen, sebuah produk audio video kelas premium. Di situ lagi-lagi saya menjadi manager perempuan pertama se Asia Pacific. Hingga akhirnya setelah 4,5 tahun saya berkutat di produk elektronik ini, saya diminta pimpinan MRA untuk menjalankan peran sebagai Marketing Communications Manager Ferrari.

Ooh, jadi di sinilah awal Anda memegang produk otomotif. Lalu kemudian bagaimana?

Selama 2,5 tahun seluruh kegiatan Marcomm Ferrari saya kendalikan. Beberapa event seperti supercar rally ke Bali adalah gagasan saya. Hingga akhirnya ditiru oleh brand supercar lain. Lalu Ferrari Corso Pilota Around The World yang pertama kali digelar untuk kawasan Asia Tenggara juga saya arrange di Sentul. Dan akhirnya pada suatu ketika pimpinan kami ingin melakukan ekspansi bisnis otomotif dengan merangkul merek Abarth. Jadilah saya dipercaya menjadi Chief Executive Officer di PT Genta Surya Otomotif ini.

Anda kerap berpindah bidang kerja. Bagaimana penyesuaian yang Anda lakukan?

Seperti yang saya katakan tadi, saya sudah tebiasa bekecimpung di kalangan top level. Communication skills antara jam tangan premium dan mobil premium sama saja, hanya cara men-delivery infonya yang berbeda. Saya tahu betul bahwa di level ini semua customernya ingin suatu yang unik dan harus berbeda dengan yang lain. Tiap customer pendekatannya berbeda. Dan tantangan yang harus kita sikapi adalah, konsumen kebanyakan sudah jauh lebih pintar dan lebih mengetahui detail ketimbang salesman sekalipun. Jadi product knowledge harus kita tingkatkan terus dari hari ke hari.

Devi-Abarth

Abarth sendiri sangat segmented menurut kami. Bagaimana chance brand ini di tanah air?

Oh ya, sebelumnya saya ingin menjelaskan dulu bahwa posisi Abarth dan FIAT itu berbeda. Jadi ini bukan FIAT 500 versi modifikasi. Abarth adalah sport tuner tersendiri yang sejak 2007 manajemennya dipisahkan dari FIAT. Meski begitu, keduanya masih di bawah payung yang sama – FCA (Fiat Chrysler Automobiles). Kalau masalah chance, saya sangat yakin karena hobbiest car memiliki pecintanya. Ini adalah mobil kecil yang bisa dipakai untuk harian, lincah menembus perkotaan sekaligus bisa merasakan sensasi mobil sport.

Lalu apa kiat Anda?

Tak berbeda dengan Ferrari, langkah pendekatan kepada komunitas-komunitas yang passion-nya sama tetap kami lakukan. Yang jelas komunitas yang menyukai produk eksotis dan performa. Secara spread words mereka lebih ampuh. Dan kami juga telah mendirikan AOCI (Abarth Owners Club Indonesia) yang hingga kini sudah aktif menggelar berbagai acara.

Sudah berapa unit yang terjual sejak Abarth masuk ke Indonesia?

Sejak showroom ini dibuka 22 Februari 2014 lalu, sudah 22 unit kami lepas. FYI: ini adalah showroom Abarth terbesar se Asia Tenggara. Satu hal yang saya takjub, konsumen di sini lebih memilih ke item-item limited edition. Seperti Tributo Ferrari dan 50 Anniversario. Nah, disinilah terlihat bahwa para pembeli justru ingin membeli mobil yang terbilang langka dan lebih mahal. Tentu saja ini berkaitan dengan gengsi serta kebanggan memiliki.

Devi-Abarth-1

Ok, sekarang pertanyaan yang lebih santai. Kami ingin menanyakan tentang otomotif yang paling dasar. Kapan Anda belajar mengemudi?

Hahaha..pertamakali saya belajar jaman SMP. Itu saya bareng dengan kakak laki-laki saya di Parkir Timur, Senayan. Dan karena saya anak tentara, jadi enggak heran kalau belajarnya pakai Toyota Hardtop.

Siapakah yang meng-influence Anda pada dunia otomotif?

Sebenarnya saya tak begitu suka dan mengerti otomotif. Saya lebih cenderung hobi olah raga. Tapi sewaktu pegang Ferrari, yang mana adalah top of the range di brand otomotif, lama kelamaan saya menjadi suka otomotif.

Bidang olah raga apa saja yang Anda sukai?

Lebih tepat menggeluti rasanya ketimbang menyukai. Saya sejak sekolah di SMA 82, Kebayoran Baru, Jakarta, saya sudah masuk dalam tim Bola Basket. Dan ketika lulus sekolah saya mulai gandrung dengan sepeda gunung. Malah saya sempat mendalami kegiatan Downhill. Namun karena ingat umur dan anak sudah tiga, jadi saat ini saya mulai memilih olah raga yang lebih santai.

 

Lalu apa pilihan olah raga Anda saat ini?

Saya suka Triathlon, lagi-lagi anak tentara pasti harus bisa berenang, hahaha.. Dan keikutsertaan saya pada event besar juga cukup sering. Seperti Tokyo Marathon akhir Februari lalu.

Selain olah raga, apakah ada hobi khusus? Seperti mengkoleksi sesuatu mungkin?

Yang saya koleksi sama sekali jauh dari unsur wanita. Saya ini hanya casing-nya saja yang perempuan. Hahaha.. Saya mulai ketularan mengumpulkan diecast . Seperti Hot Wheels, Matchbox dan lainnya. Ini karena anak laki-laki pertama dan kedua saya. Kalau adiknya si bungsu perempuan. Jadi belum menularkan apa-apa. Nah, anak-anak laki saya ini hobi mengumpulkan diecast, hingga akhirnya saat saya bepergian kemanapun sudah mulai ikut kepikiran untuk hunting diecast. Terlebih anak pertama saya sangat freak pada semua hal yang berbau otomtif. Semua mobil baru dan spesifikasinya dia hafal.

Apakah Anda memiliki motto hidup?

There are no coincidences, everything happens for a reason