Nama Arie Yuwono memang tak terlalu dikenal di kalangan penggila modifikasi mobil yang tinggal di Jakarta. Namun bila kita sebut Arie Velg, kami jamin Anda langsung aware dengan nama pemilik toko ban dan velg Performance yang bercokol di kawasan Jl. H. Nawi, Jakarta Selatan ini. Thegaspol.com berkesempatan mengulik segenap cerita tentang pria kelahiran Cirebon tahun 1974 ini, mulai dari kehidupan pribadi hingga perjalanan bisnisnya.

Arieperformance-1.jpeg

Anda dikenal dengan sapaan Arie Velg. Bagaimana ceritanya nama itu menjadi melekat sampai saat ini?

Semua berawal ketika masa kuliah. Ya, saya ingat awal mulanya tahun 1997, dimana saat itu saya memiliki Nissan Sentra Coupe yang mesinnya mulai jebol karena sering dipakai kebut-kebutan. Untuk meminta uang ke orang tua dalam rangka memperbaiki mobil rasanya sudah malu. Dari situ rasanya saya harus asah otak untuk mencari uang. Akhirnya saya perbaiki semaksimal mungkin dan akhirnya saya jual. Dari situ saya ganti Peugeot 405 namun mesinnya bermasalah. Hingga akhirnya saya ganti Toyora Cressida dan mulai saya pasangi velg besar.

Lalu bagaimana kelanjutannya?

Di lingkungan kampus yang mendandani mobil dengan velg besar memang masih jarang. Dan ternyata penampilan mobil saya itu membuat banyak teman yang naksir. Velg Fondmetal ukuran 17” yang saya pakai itu dibeli teman ketika saya juga sudah mulai bosan dengan tampilannya. Saat itu insting bisnis saya mulai berjalan, demam modifikasi velg mulai saya tularkan di lingkungan kampus. Hingga Cressida itu saya pasangi Carlsson Evolution 17” yang makin membuat teman-teman ngiler memandangnya.

Arieperformance-2

Bisa ditebak. Anda mulai memutuskan untuk serius dagang velg?

Ya namanya ada uang lebih dari penjualan. Tentu saja saya mulai ketagihan meraup keuntungan. Dari situ saya mulai serius dan mulai cari ‘barang’. Velg-velg bekas itu saya bawa pulang ke rumah dan saya cuci hingga akhirnya saya gelar di bagasi mobil. Ya, di parkiran kampus saya mulai jualan velg. Saya juga mulai buka booth jualan velg di acara bazar kampus. Malah mobil Cressida saya akhirnya dibeli orang sekaligus dengan velgnya.

Jadi awalnya Anda nomaden dan ala kaki lima?

Ya, saya sempat jualan di kampus, di rumah hingga di pos keamanan dekat rumah. Kebetulan saya tinggal dengan kakak saya di daerah Pondok Indah, Jakarta Selatan. Hingga akhirnya kakak saya pun sudah mulai terganggu dengan banyaknya velg dan aksesoris mobil di rumahnya.

Arieperformance-7

Selain jualan velg, katanya Anda juga jual beli mobil bekas?

Sebenarnya kalau jual beli mobil bekas cuma hobi dan kebetulan cukup mengutungkan. Saya orangnya jahil, usil dan enggak bisa diam. Kalau ada celah untung ya saya mainkan. Dan misalnya saya beli mobil bekas dan kebetulan full aksesoris. Nanti velg dan aksesorisnya akan saya jual terpisah. Dan saya jual dalam kondisi standart. Pasca Cressida saya sempat pakai Merci Tiger, Boxer hingga Jeep CJ7. Nah di Jeep CJ7 ini ada cerita unik, waktu itu ada teman yang toko velgnya sedang sepi. Tapi dia naksir mobil saya, hingga akhirnya dia mengajak barter dengan tujuh set velg dagangannya. Dan pada akhirnya sama-sama untung, dimana velg itu di tangan saya bisa laris dan CJ7 itu bisa ia lepas dengan harga bagus juga.

Nah, sampai akhirnya Anda memutuskan untuk membuka toko velg, bagaimana ceritanya?

Saya sempat kerjasama dengan sebuah showroom mobil, dimana awalnya saya hanya sebagai penampung barang copotan mobil bekasnya. Seperti audio dan velg. Namun lama kelamaan si pemilik showroom mengajak saya untuk join secara resmi. Tapi itu tak bertahan lama hingga akhirnya kami jalan masing-masing. Nah di tahun 1999 saya mulai membuka toko velg di jalan Radio Dalam, Jakarta Selatan. Hingga akhirnya tahun 2000 saya buka gerai Performace yang terletak di jalan Haji Nawi no.29 ini.

Arieperformance-17

Belakangan ini kami lihat toko velg Anda seperti berubah menjadi bengkel Jeep. Bagaimana ceritanya?

Mulai tahun 2007 saat Jeep Wrangler JK ini hadir di Indonesia, saya sudah mulai tertarik karena unik lantaran 4 pintu. Kebetulan saya banyak jual velg dan aksesoris Jeep ini. ukuran velg besar yang saat itu belum bayak orang yang stok. Saya sudah berani stok yang berdiameter 20” sampai 26”. Dan saya juga banyak menjual ban MT berdiameter besar dengan profil rendah. Ya tak heran bila banyak Jeep yang mampir ke sini. Pun demikian saya juga aktif di komunitas JK Owners Club juga.

Di pergaulan modifikasi Jakarta Anda cukup punya nama, kami penasaran ingin tahu bagaimana latar belakang masa kecil Anda?

Sejak lahir hingga SMA saya di Cirebon. Masa kecil saya dihabiskan Seperti umumnya anak laki-laki, sejak kecil saya suka mobil-mobilan. Dari hasil mengumpulkan uang jajan saya bisa beli mainan Tomica yang dijual tak jauh antara sekolah dan rumah. Tapi dari kecil saya juga sudah kelihatan usil dan jahil. Semua mainan saya oprek dan bongkar. Sampai almarhum bapak saya sempat memberi julukan ke saya sebagai ‘tukang bongkar tapi enggak bisa pasang’. Hahaha. Hingga pada akhirnya setiap bapak saya pergi ke luar kota, hadiah maianannya lama kelamaan berbentuk mainan yang harus dirakit.

Arieperformance-15

Jadi siapa yang menularkan kecintaan pada dunia otomotif?

Nah, ketika saya SMP. Bapak saya membuka bengkel mobil. Setiap pulang sekolah saya senang mampir ke situ. Dan perlahan mulai mencuri ilmu dan sedikit demi sedikit mulai tahu tentang kerusakan mesin. Karena saya masih kecil ya tentu saja tidak ikut campur dulu. Bapak saya juga tak mengarahkan saya ke sana. Beliau cuma melihat saya senang dan cukup memiliki atensi.

Anda masih ingat kapan pertamakali belajar naik motor?

Yes, Honda Super Cup 700. Dan sampai menjelang kuliah pun saya masih pakai Honda Astrea 800 limpahan kakak. Saking senangnya naik motor pernah bohong sama orang tua. Waktu itu izin mau pergi dari Cirebon ke Bandung. Ngakunya naik travel 4848, kenyataannya naik motor sama teman dari siang sampai jam 8 malam. Itu motor Astrea dibonceng berdua, padahal badan kami besar-besar. hahaha. Kami makan di pemberhentian truk yang asal sekenanya saja. samapi di Bandung kami ke kost kakak saya.

Arieperformance-11

Kalau mobil? Kapan, dimana dan mobil apa yang pertamakali digunakan untuk belajar?

Saya belajar pakai Suzuki Jimny SJ410 saat duduk di bangku SMP. Padahal saat itu ibu saya yang latihan mengemudi dan saya ikut duduk di belakang. Tapi saya perhatikan terus cara-caranya. Nah saat sampai di rumah, saya mulai mencuri-curi mobil kakak saya yang kala itu Suzuki ST20 (trungtung). Mobil ini suka aya bawa dari rumah ke bengkel yang jaraknya sekitar 5 kilometer. Dan itu tak ada seorangpun yang tahu di keluarga, hingga akhirnya tertangkap basah oleh bapak saya. Herannya, bapak saya sama sekali tak marah ketika tahu saya nekat mengemudi. Hingga suatu beliau menyuruh saya untuk mengantarnya ke bengkel ketok magic yang jaraknya lumayan jauh dari rumah. Suasana hari saya saat itu bercampur antara senang dan takut. Syukurnya semua aman sampai tujuan.

Lalu bagaimana setelah itu?

Saya tentu saja bangga tak dimarahi. Keesokan harinya saya malah disuruh bantu kerjaan bapak saya. Nah, dulu itu pekerjaan bapak saya adalah supplier minuman. Ketika supir sedang enggak masuk, saya diberi kepercayaan untuk mengirim minuman itu ke toko-toko. Sampai kelas 3 SMP saya dipercaya untuk mengantar minuman itu. Malah ke sekolah saya sendiri..hahaha. saya cuek saja dan enggak ada rasa malu sama sekali. Malah bangga karena sudah lebih dulu bisa nyetir. Nah, pas SMA kelas satu saya mulai bawa Colt Diesel, tapi jaraknya tak jauh-jauh. Nah, tujuan bapak saya membuka bengkel mobil ini memang untuk perawatan dan memperbaiki armada niaganya.

Arieperformance-8

Nah, Anda sudah makin piawai mengemudi. Bagaimana dengan dunia perbengkelan?

Saya tetap belum into di bengkel. Hingga suatu hari ayah saya membeli motor Yamaha Virago 1100cc yang datang dalam kondisi terurai di tahun 1991. Saya, bapak saya dan satu orang mekanik mulai merakit motor itu sampai bisa dikendarai. Namun kegembiraan itu tak berlangsung lama, bapak saya meninggal karena kecelakaan motor di tahun 1992. Dari situ ibu saya melarang keras kami naik motor. Tak lama dari situ, saya dipercaya untuk menjadi kepala bengkel sekaligus tester untuk mobil-mobil yang baru selesai servis. Dari situ saya terus belajar dan konsultasi dengan mekanik. Hingga akhirnya saya semakin dalam dengan dunia perbengkelan.

Apa latar belakang pendidikan Anda? Apakah Anda pernah ikut pendidikan khusus teknik mesin?

Pendidikan saya sangat bertolak belakang dengan bisnis saya sekarang. Lulus SMA di tahun 1993, saya masuk ke Universitas Tarumanegara ambil jurusan Akuntansi. Sebenarnya saya kepingin sekali masuk teknik mesin. Tapi waktu SMA saya enggak beruntung dan tak bisa masuk IPA. Saya juga engak pernah ambil kursus. Ini semua saya lakukan otodidak.

Arieperformance-6

Oh ya, seperti yang kami ketahui. Anda juga aktif di komunitas motor besar. Padahal Anda dilarang keras naik motor?

Nah, terus terang saya diam-diam main motor besar. Ibu tentu masih trauma dengan kejadian yang menimpa bapak saya. Kalau di rumah saya ada motor besar saya selalu bilang itu punya teman. Dan kalau turing juga selalu saya bilang diajak teman dan disuruh bawa motornya. Bohong terus deh pokoknya. Sampai kurang lebih setahun akhirnya saya mengaku juga. Dan beliau percaya karena saya selalu safety. Dan kebiasaan hingga hari ini, setiap berhenti saat perjalanan touring saya selalu memberi kabar ke ibu saya.

Anda juga aktif di acara drag race Harley-Davidson dan balap superbike. Bagaimana ceritanya?

Dari tahun 2000 saya bergaul dengan komunitas Harley. Hingga akhirnya saya sempat bosan untuk ikutan touring karena destinasinya sudah itu itu saja. Sampai akhirnya tahun 2004 saya ikut drag race harley lantaran suka speed dan ngebut aman di sirkuit. Tak lama dari itu juga saya bergabung dengan komunitas motor balap R15 Sentul. Tak hanya sekadar balap, saya juga sempat mendapat prestasi sebagai Juara 1 Kelas Superbike kejuaraan FIM Asia 2010.

Arieperformance-2.jpeg

Wah, salut buat Anda. Lalu mengapa tak Anda lanjutkan hobi balap itu?

Terus terang, saat bergabung dengan R15 itu adalah saat saya mencapai suatu titik kekecewaan. Karena mindset saya main Harley awalnya memang mencari network. Tapi mindset itu salag. Di situ saya kecewa karena banyak teman dekat saya yang enggak beli barang dari saya namun malah ke orang lain. Tapi ya itulah karena sejak awal mindset saya salah. Kebetulan saya hobi ngebut akhirnya pilih serius balap di sirkuit. Namun saat itu hubungan dengan ana Harley tetap jalan. Sampai akhirnya saya nikah tahun 2006, hal yang pertama saya minta dari calon istri saya adalag jangan pernah melarang hobi balap saya itu. Beruntung istri saya sangat pengertian, malah sehari sebelum anak pertama lagir dia masih nonton saya balap FIM Asia. Walau saya hari itu tak finish karena jatuh.

Nah, berapa lama Anda bisa mengubah mindset yang terlanjur mengecewakan Anda?

Setelah merasa perkembangan di Sentul begitu-begitu saja, akhirnya saya mulai bosan dan saya main Harley. Akhirnya saya mengubah mindset untuk berbisnis menjadi cukup mencari hobi dan friendship. Malah di sini saya merasa lebih leluasa bila ada teman yang mau belanja sama saya atau tidak ya terserah saja. Akhirnya balik ke HD sekitar tahun 2011. Istri saya kebetulan juga suka dan kuat dibonceng saat touring. Contohnya Jakarta – Bali ia ikut. Sekitar tahun 2013 saya mulia keranjingan mengendarai BMW GS1200 yang memang sedang trend. Saya anggap motor ini cocok untuk Indonesia.

Arieperformance-12

Kemana saja Anda pernah touring?

Saya sudah melintasi seluruh wilayah Indonesia. Kecuali satu daerah yang hingga saat ini belum saya singgahi, yaitu Larantuka NTT. Saya ingin sekali ke sana.

Apakah Anda memiliki fasfasah hidup?

Berusahalah sekuat tenaga selagi mampu.