Masih ingat dengan kisah seorang pebalap legendaris bumi pertiwi yang sempat kami angkat profilnya di laman TheGaspolCom bernama Tommy Manoch? Kiprahnya di atas aspal sirkuit membuat nama Indonesia kian semerbak, tidak hanya di ranah balap dalam negeri bahkan hingga ke mancanegara. Semangat pantang mundur dan tidak pernah mengenal kata menyerah yang ditunjukkannya patut diteladani oleh generasi muda saat ini. Kemauannya yang keras serta selalu mau belajar dari pebalap lain membuat juara GP Indonesia 1963 ini terus mencetak prestasi demi prestasi. Satu kata yang kerap dilontarkannya, “jiwa saya ada di motor.”

Honda-CB72-Tommy-Manoch-Ulah-Adigung-5

Berangkat dari semangat itulah, beberapa builder sepeda motor sepakat untuk menyatukan visi untuk membangun sepeda motor dalam sebuah proyek bertajuk Ulah Adigung sebagai apresiasi terhadap prestasi yang telah ditorehkan Tommy Manoch. Tidak hanya itu. Mereka juga mengajak pehobi dan pecinta motor klasik untuk turut berpartisipasi dalam proyek yang menggunakan basic motor Honda CB77 ini. Sama seperti yang dipacu pebalap kelahiran Bandung, 3 Maret 1947 dimaksud saat menjadi kampiun GP Indonesia yang digelar di Sirkuit Curug 1963 silam.

Honda-CB72-Tommy-Manoch-Ulah-Adigung-3

“Menurut saya Tommy Manoch adalah pribadi yang sangat mengagumkan. Konsep Ulah Adigung jelas sekali tercermin dalam pribadinya yang tegas, berani, santun dan bersemangat. Semangat tersebut yang menginspirasi kami bersama rekan-rekan pecinta motor klasik untuk membangun sebuah sepeda motor sebagai wujud apresiasi generasi muda terhadap seorang legenda seperti Tommy Manoch,” tutur Heret Frasthio, salah satu penggagas Ulah Adigung Project.

Honda-CB72-Tommy-Manoch-Ulah-Adigung-8

“Ulah Adigung Project merupakan semangat bagi saya. Di sini kami bersama-sama menghidupkan kembali semangat dari legenda balap Indonesia. Kita sebagai anak muda harus mau melestarikan sejarah. Atau minimal tahu dan menghargainya. Tommy Manoch mengakui bahwa jiwanya ada di motor dan motor adalah yang utama. Karena saya juga cinta sepeda motor, maka saya bangga bisa menjadi bagian dari proyek ini,” tambah Yusuf Abdul Jamil, punggawa Lawless Jakarta.

Honda-CB72-Tommy-Manoch-Ulah-Adigung-7

Kendala soal kelangkaan komponen diakali dengan mengajak sebanyak mungkin pecinta motor klasik untuk turut berpartisipasi dalam proyek ini. Untuk itu, Heret yang juga pendiri Elders Company ini sengaja menyebarkan virus lewat social media. Tak disangka, hasil maksimal berhasil diraih. Banyak sahabat yang dengan suka rela mendonasikan spare part yang dikoleksinya demi lancarnya proyek Ulah Adigung.

Honda-CB72-Tommy-Manoch-Ulah-Adigung-2

Dan sebagian builder yang sudah terlibat dalam proyek dimaksud mulai dari Seher Kembar, Elders Garage, Lawless Jakarta, Gearhead Monkey Garage hingga Rio Bronx. Sementara pecinta motor klasik yang telah memberikan dukungan untuk Ulah Adigung Project dalam bentuk spare part antara lain Bugi Adhi Purnomo, Igo, Tommy Sunu, Yaniadi Arif, Martin Sillueta, Hendra Karunia, Robby Yanto, Damar Cizz, dan beberapa rekan lainnya.

Honda-CB72-Tommy-Manoch-Ulah-Adigung-9

“Sebenarnya proyek ini sudah dimulai terlebih dahulu oleh Gilberto Manoch, putra Tommy Manoch. Namun memang menemui banyak masalah, yang paling utama adalah kelangkaan parts. Lalu tercetuslah ide untuk menyebarkan proyek ini lewat social media. Dan kami mendapat respon yang luar biasa dari sahabat serta rekan pecinta motor klasik. Kami yakin, dengan semangat rekan-rekan builder serta bantuan dari sahabat-sahabat semua, proyek ini bisa selesai tepat waktu,” tutup Heret.

Honda-CB72-Tommy-Manoch-Ulah-Adigung-1

Nah, untuk Anda yang mau tahu informasi lebih lanjut seputar proyek Ulah Adigung atau ikut serta memberikan support sambil mendonasikan spare part, bisa simak terus TheGaspolCom atau bergabung dengan Facebook Fan Page Ulah Adigung Project serta follow Tommy Manoch di Instagram.