Subkultur Rockers diisi oleh Ton-up Boys jumlahnya terus bertambah selama medio 1950an. Karena penampilannya berantakan, mereka sering dicap sebagai golongan pemuda-pemuda naif.

Anggapan itu semakin dipertegas oleh pandangan mereka yang melihat obsesi pada fashion sebagai hal yang jauh dari kesan maskulin. Bertolak belakang dengan yang dilakoni oleh subkultur Mods. Walau begitu, bukan berarti Rockers tak punya gaya. Berikut ini unsur-unsur yang mengentalkan subkultur Rockers.

Rockers Subculture ace cafe

Fashion

Kalau subkultur Mods lebih sering terlihat berdandan smooth and clean, tak begitu dengan Rockers. Penampilan Rockers identik dengan jaket motor berbahan kulit dengan kancing logam. Berbagai emblem, pin, dan lencana ikut menghiasi jaket tersebut. Saat berkendara, Rockers kerap menggunakan syal putih, aviator google, dan helm terbuka. Untuk gaya rambutnya, Rockers sering terlihat dengan potongan pompadour.

ace-cafe rockers Subculture

Place

Selain memanfaatkannya sebagai tempat kumpul, Rockers juga menjadikan cafe sebagai garis start dan finish untuk adu cepat. Dari sinilah istilah Cafe Race lahir. Tempat yang jadi ikon subkultur Rockers sampai sekarang adalah Ace Cafe dan Chelsea Bridge. Pada masanya, Rockers tak diperbolehkan menginjakkan kaki di lantai dansa karena gaya pakaiannya yang tak sesuai dan kotor. Tapi, Rockers punya kontribusi besar dalam perkembangan dance Rock and Roll.

Ton-Up-CaraibiRockers

Motorcycle

Rockers menggunakan sepeda motor yang komponennya sudah dipereteli. Mereka melakukan penyetelan ulang, lalu mendandaninya agar tampil seperti motor balap. Rocker tidak hanya menggunakan sepeda motor sebagai alat transportasi tapi juga simbol masikulinitas. Mereka percaya motor merupakan objek yang bisa menggambarkan lekatnya kehidupan mereka dengan bahaya.

Elvis moto 3

Music

Untuk urusan musik,  pada era 1950an Ton-up Boys banyak menggemari hits beraliran Rock and Roll yang datang dari musisi kulit putih Amerika Serikat seperti Elvis Presley, Gene Vincent, Eddie Cochran.