Seperti semua hal yang ada di dunia, membeli mobil bekas pun ada seninya. Terlebih lagi bila membeli secara online seperti yang sedang marak belakangan ini. Meski diakui memberikan banyak manfaat bila dibandingkan dengan pembelian konvensional, namun metode ini juga tidak luput dari penipuan.

Diakui oleh Gunnar Rentzsch co-founder dari Carmudi.com, online fraud atau penipuan online marak beredar di Indonesia. Tidak seperti negara-negara maju yang penduduknya takut untuk melakukan penipuan lantaran proteksi pihak berwenang yang sangat kuat, Indonesia memiliki banyak celah untuk melakukan kejahatan. Karenanya Gunnar membeberkan beberapa tipsnya.

Menurutnya, yang pertama dilakukan adalah jangan pernah berhubungan dengan penjual yang tidak pernah mau bertemu.

“Kebanyakan dari mereka biasanya memberikan beragam alasan untuk tidak bertemu dan menginginkan kesepakatan terjadi di telepon,” jelasnya.

Berangkat dari hal tersebut, Gunnar menyarankan untuk mencurigai jenis-jenis penjual seperti itu. Terlebih lagi mereka yang cenderung melakukan “pendorongan” transaksi terlalu cepat. Model-model seperti itu akan memaksa korbannya untuk menyetorkan DP terlebih dahulu dengan transfer dana melalui ATM.

“Maaf pak, mobil ini sudah mau dibeli orang, kalau bapak masih berminat lebih baik bapak setorkan dp-nya terlebih dahulu,” Gunnar menirukan jenis percakapan dari sang penipu.

Tidak hanya di situ saja, pengecekan kendaraan sesuai dengan surat-surat juga diperlukan. Jangan pernah mau untuk menandatangani tanda terima bila nomor kendaran tidak seusai. “Kita bisa mengeceknya secara online di situs-situs kepolisian, apakah itu mobil curian atau bukan,” bebernya.