Nyaris tidak ada pendidikan khusus yang dilakoni oleh pria bernama Muhammad Gumilar ini di ranah otomotif. Semua dijalaninya secara otodidak. Bakatnya di ajang adu kebut serta dedikasinya di roda dua, membuat dirinya berhasil menuai prestasi demi prestasi di ranah balap motor dan mobil sejak awal karirnya di medio 50-an. Tidak hanya di dalam negeri, kiprah kelahiran 19 Januari 1937 ini pun mendunia. Sang legenda yang selalu melakukan ritual khusus sebelum balap ini menjadi pebalap asal Indonesia yang namanya ditorehkan di Museum Ducati, Bologna, Italia. Bertepatan dengan reuninya dengan Tommy Manoch, TheGaspol mendapatkan kesempatan untuk mewawancarai suami dari Silvia ini. Simak perbincangan seru kami seputar memori, karir hingga rencananya kedepan.

Muhammad Gumilar 23

Hallo Om Gumilar.. Tampaknya segar sekali hari ini.. Apa kabar?
Kabar baik.. Alhamdulillah.. Saya senang sekali bisa kembali berkumpul dengan sahabat sekaligus seteru saya di balap motor, Tommy Manoch.

Bagaimana ceritanya bisa bertemu dan janjian di sini (Union Well-Bandung) dengan Om Tommy?
Inilah fungsi sejati dari social media. Saya mendapatkan kabar terbaru soal Tommy itu dari Facebook. Setelah beberapa kali mengirimkan pesan di sana, akhirnya kita bisa saling bertukar nomor telepon dan janjian untuk ketemuan saat saya ke Indonesia.

Muhammad Gumilar 23

Oke Om, sekarang kita sedikit flashback.. Bisa diceritakan awal karir Om Gumilar?
Sejak tahun 1953 saya sudah mulai ikutan balap di Sukajadi, Bandung. Cuma waktu itu masih balap kotak sabun yang dipasangkan roda dan ngeremnya sepatu langsung digesekkan ke aspal.

Muhammad Gumilar 23

 

Lalu bagaimana kisahnya Anda bisa terjun di balap motor?
Ceritanya Ayah saya meninggal saat saya berusia 5 tahun. Dan sejak saat itu saya merasa bahwa saya harus mulai mandiri. Entah kenapa, saat sawah milik ibu saya panen, hasilnya dijual dan dibelikan motor. Mungkin sudah suratan, motor Ducati 50cc tersebut saya utak-atik sendiri. Saya lakukan berbagai cara untuk mendongkrak performanya. Hingga di tahun 1954 saya nekat ikutan balap. Rutenya itu mulai dari Cihampelas sampai ke Siliwangi, muterin situ saja karena jalanan juga masih sepi. Kemudian naik kelas ke 98cc, pakai Ducati Moto Giro. Hingga di 1957 turun balap menggunakan Ducati 175 Sport. Bangganya, waktu itu Majalah Ducati Italia sengaja meliput saya lantaran prestasi demi prestasi yang berhasil saya raih.

Muhammad Gumilar 23

Tampaknya Ducati sudah mendarah daging dalam kehidupan Anda?
Memang demikian. Mungkin ada turunan dari ayah juga yang dari sebelum saya lahir sudah berprofesi sebagai mekanik. Akibat keterbatasan dana, saya terpaksa berhenti sekolah saat SMA. Lepas itu saya kemudian membuka bengkel sendiri, tapi tetap saja bengkel Ducati. Balapan juga tetap pakai Ducati.

Muhammad Gumilar 23

Apakah Anda sempat merasakan membesut brand lain selain Ducati?
Saya sempat pindah ke Spemotri, dealer BMW dan Harley-Davidson di Bandung. Di sana saya dikontrak untuk menjadi joki BMW R27 milik mereka. Susahnya minta ampun. Mungkin karena peruntukannya bukan sebagai motor balap. Setelah itu saya sempat menggantikan Cecep (Ewyong) yang pergi ke Jerman selama dua tahun. Balapnya pakai motornya Cecep, BMW R50. Susah banget bawanya. Malah saya sempat jatuh waktu balap di Cililitan. Setelah berhasil mengumpulkan uang sedikit demi sedikit, akhirnya saya membeli BSA 500 Clubman Racing.

Muhammad Gumilar 23

Bagaimana Om Gumilar bisa bertemu dengan Om Tommy Manoch?
Saya pertama kali kenalan sama Tommy waktu balapan di Curug (GP Indonesia) tahun 1963. Waktu itu beliau turun di kelas 250cc Junior dan 250cc Grand Prix. Saya sendiri ikut di semua kelas, mulai 125cc, 250cc sampai 500cc. Tapi saat itu Ducati yang saya pakai di kelas 125cc mogok. Lepas itu saya terus bersahabat dengannya hingga sekarang.

Muhammad Gumilar 23

Lalu soal Om Gumilar berkipah di Eropa?
Jadi ceritanya yang terlebih dahulu ke Belanda adalah istri saya. Kemudian dia mengatakan bahwa kalau mau melanjutkan karir di dunia balap, lebih baik ke Belanda saja. Sebab di sana semuanya lebih well organized, lebih teratur. Niatnya saya mau balap hanya setahun atau dua tahun saja. Soalnya di Eropa itu kalau mau balap harus full satu musim. Dalam sebulan bisa dua atau tiga seri. Nah, juaranya baru diambil di akhir musim. Baru di tahun 1968 saya pergi ke Belanda dan langsung bekerja di bengkel Ducati di sana. Karena dulu bengkel tersebut merupakan sponsor saya agar bisa mendapatkan ijin tinggal.

Muhammad Gumilar 23

Apakah karir om berlanjut?
Tentu! Tapi mungkin lantaran saya bertubuh kecil dan berkulit hitam, makanya bengkel tersebut tidak mau memberikan saya motor. Hingga akhirnya beberapa tahun kemudian saya berhasil membeli motor sendiri. Sebuah Kawasaki 350cc. Di sela-sela pekerjaan sebagai mekanik, saya memodifikasi motor tersebut hingga siap turun di sirkuit. Saya memacu motor itu sampai 5 musim. Setelah itu saya turun balap pakai Aermacchi. Dari 25 unit yang diproduksi pabrik Aermacchi di Italia, salah satunya adalah milik saya. Saya sempat merasakan 7 musim balap di benua Eropa dengan menggunakan motor itu.

Muhammad Gumilar 23

Kalau untuk balap mobil?
Kalau di Eropa itu umur 50 tahun sudah tidak boleh balap motor lagi. Jadi setelah Surat Ijin Balapnya dicabut, om sempat resah. Tapi dasar saya tidak bisa diam, saya iseng balap mobil. Pakai Porsche 911 yang dimodif jadi model Carrera. Jadi mobil tua keluaran 1971 berbody Porsche 2000 tapi mesinnya 3.4 liter. Musuhnya sih gawat-gawat. Ada Ferrari sama Porsche keluaran terbaru.

Muhammad Gumilar 23

Tidak ada diskriminasi lantaran mungkin Om Gumilar satu-satunya peserta di luar Eropa yang balap di sana?
Nggak ada! Balap di sana itu lebih sportif. Walaupun balapan hanya untuk kesenangan belaka, namun kalau kita kalah tidak pernah diejek. Malah akibat saya kerap berada di posisi depan, mereka jadi senang dan sering mengajak saya buat ikutan balap. Aneh memang. Tapi ya begitulah mereka.

Muhammad Gumilar 23

Diantara sekian banyak prestasi yang pernah Om Gumilar raih, yang mana yang paling berkesan?
Tentu saja saat saya bisa meraih peringkat tiga pada balap Grand Prix di Sirkuit Assen Belanda. Waktu itu musuhnya kencang-kencang semua dan rata-rata pengalamannya sudah segudang. Tapi berkat ketelatenan dan kerja keras, saya yang waktu itu membesut Aermachi Harley-Davidson berhasil naik podium.

Muhammad Gumilar 23

Kabarnya Om Gumilar selalu melakukan ritual khusus sebelum balap?
Hahahahaaa. Sebenarnya bukan ritual khusus. Cuma sudah menjadi kebiasaan saja. Biasanya sebelum balap saya membaca dua kalimat Syahadat serta berdoa, “karena saya dikasih keahlian oleh Allah, maka selamatkanlah saya.” Kita bukannya harus sombong karena sudah dikasih kemenangan, tapi kita harus selalu bersyukur karena sudah diberikan anugerah berupa keselamatan.

Muhammad Gumilar 23

Apa pengalaman Om Gumilar di dunia balap yang tidak pernah terlupakan?
Wah, banyak banget yah.. Saya sampai lupa.. Hahahaaa.. Tapi yang beneran membekas mah waktu saya jatuh dalam kecepatan 180 km/jam di atas Kawasaki 350. Waktu itu lagi ikutan balapan kelas internasional di Tilburg, Belanda sekitar tahun 1973.

Muhammad Gumilar 23

Apa rencana Om Gumilar kedepan?
Saya rencananya mau balik lagi ke Indonesia. Mau bikin museum balap. Biar anak muda jaman sekarang terpacu dan ingat terus sama pebalap-pebalap jaman dulu serta tidak meupakan sejarah balap Indonesia. Mungkin kalau untuk sepeda motor sudah tidak ada. Tapi saya masih banyak menyimpan memorabilia balap. Mulai dari foto, piala, helm, jaket hingga beberapa piagam penghargaan yang pernah saya terima.

Muhammad Gumilar 23

Pesan-pesan Om Gumilar untuk pebalap-pebalap muda?
Pebalap jaman sekarang harus lebih sportif. Terima kekalahan dengan lapang dada dan jadikan sebuah pelajaran. Berteman itu harus betul-betul berteman. Jangan iri dan saling memajukan.