Liberchies, Belgia, 23 Januari 1910 bisa jadi merupakan tanggal yang sangat penting bagi perkembangan musik jazz dunia. Tepat pada saat itu, lahir nama Jean “Django” Reinhardt dari seorang ayah yang berprofesi sebagai musisi. Keseharian ibunya juga tak jauh-jauh dari panggung hiburan.

Peugeot-Django-COVER

Sepertinya pada saat itu keluarga musisi top pun belum berpenghasilan besar. “Django” Reinhardt tumbuh tanpa pendidikan formal. Namun, secara otodidak ia berhasil menjelma jadi salah satu gitaris jazz paling berkontribusi di dataran Benua Biru, Eropa.

Peugeot-Django-COVER

Semasa remaja, “Django” Reinhardt banyak menghabiskan malam tampil dari satu klub ke klub lainnya yang berlokasi di kota Paris. Ia memainkan alat musik yang tergolong unik, kombinasi antara gitar dengan banjo. Begitu memasuki era 1920-an, pengaruh musisi sealiran dari negeri seberang, misalnya Duke Ellington, Louis Amstrong, dan Joe Venuti membuatnya penasaran ingin mencicipi jazz gaya Amerika.

Peugeot-Django-COVER

Kisah gitaris yang juga pernah tergabung dalam unit jazz berlabel major pertama di Eropa, Quintette du Hot Club de France, tersebut rasanya sangat pantas untuk menggambarkan reinkarnasi skuter dari produsen otomotif asal Perancis, Peugeot dengan salah satu model yang memiliki nama serupa dengan sang gitaris, Django.

Peugeot-Django-COVER

Awal dikenalkan tahun 2014, Django menjadi “peluru” Peugeot guna menembus pasar penyuka kendaraan klasik tapi dengan fitur-fitur masa kini. Skuter premium ini seolah membingkai gaya otentik Eropa bawaan sang pendahulu, S55 dan S57.

Peugeot-Django-COVER

Berada di atas saddle Peugeot Django bikin saya merasa romantis. Nyaris tak ada adrenalin yang tersulut untuk mengeksploitasi jantung mekanis 4-strokes 150 cc bertransmisi otomatis dengan kekuatan 8,3 kW. Yang muncul cuma perasaan rileks untuk melaju santai di bawah cerahan lampu jalan.

Peugeot-Django-COVER

Kalau boleh diiringi musik jazz 1940-an, “Swing 42” yang tidak berhenti terputar di kepala. Lagu ini dibuka oleh petikan gitar menentramkan. Iramanya memang sempat agak menanjak. Toh, tak pernah sampai puncak. Sebelum akhirnya kembali seperti awal. “Swing 42” merupakan bagian kisah sukses Django Reinhardt, yang kami ceritakan di awal.

Peugeot-Django-COVER

Menunggangi Peugeot Django secara rileks artinya punya banyak kesempatan mendalami setiap sensasinya. Beberapakali saya coba memindahkan titik tumpu tubuh ini di atas saddle yang lebar dengan seat height mencapai 77 mm atau setara 770 cm. Semua variasi posisi posisi duduk terasa nyaman. Saddle belakang bisa dilepas untuk menjadikan Django ibarat skuter single seater pelahap lintasan sirkuit. Meskipun, sudah jelas bukan di sana habitatnya.

Peugeot-Django-COVER

Melainkan, di rute-rute komuter yang punya banyak simpangan. Tempat ia selalu menjadi pusat perhatian. Bagaimana tidak? Coba saja tilik sisi ke sesi eksteriornya. Peugout merancang Django punya bagian depan sederhana. Dilengkapi lampu membulat tapi dengan pancaran headlight LED fokus secara horizontal. Walau speedometer semi-digitalnya berdesain klasik, penggunaan backlight warna biru jadi racikan kekinian.

Peugeot-Django-COVER

Di samping kiri kemudi ada emblem SBC, kependekan Sychro Braking Control, sistem yang jadi jaminan masalah penghentian skuter berbanderol Rp34,9 juta ini.

Gambaran kian kompleks mulai ditemukan di bagian belakang. Bodinya yang memanjang dihiasi tiga celah angin bertingkat. Lampu belakangnya tampil manis segaris. Dari samping, tampilan Peugeot Django disatukan oleh garis krom yang membentang sepanjang bodi. Yang jelas, Peugeot Django tampak ajeg berdiri di atas kawalan dua roda berukuran 12 inci yang punya velg berdesain rapat.

Peugeot-Django-COVER

Sepulang kantor, semua perlengkapan kerja masuk ke bagasi yang digadang merupakan bagasi dengan kapasitas terbesar di kelasnya. Atau memanfaatkan hook dek depan yang membentengi ruang kaki bergaya flat footboard. Semua terasa ideal, bahkan untuk saya yang punya tinggi 180 cm. Beres semua ditata, skuter ini siap diajak hijrah dari satu pub ke pub lainnya. Menebar pesona klasik yang kembali menjangkiti anak muda.