Siapkan mobil double cabin, lalu rencanakanlah pelesir singkat ke pinggir kota. Pantai bakal jadi ide bagus. Jangan lupa masukkan agenda untuk bermotor di destinasi yang akan dituju. Bukan dengan motor sembarangan tapi menggunakan Yamaha Chappy LB50 seperti yang sempat The Gaspol jumpai belum lama ini. Sebuah moped klasik dari era 1970-1980-an yang tentunya punya tampilan unik.

Yamaha-Chappy-LB50

Sebetulnya, perjumpaan dengan Yamaha Chappy LB50 jajakan gerai Safari Motor ini berawal dari kegemasan kami terhadap motor-motor berdimensi ‘cilik’. Contohnya, seperti unit bawaan Polini yang konon cukup kencang itu. Belum lagi, minisport baru punya Kawasaki yaitu Z125. Ditambah, bayang-bayang motor sejenis keluaran Honda yang terus menggoda. Yap, mereka bakal jadi pemanis yang sempurna untuk mobil double cabin dalam sebuah perjalanan seperti yang disinggung di awal.

Yamaha-Chappy-LB50

Harus diakui kalau semua nama di atas pastinya dibuat secara sempurna oleh tangan-tangan dingin insinyurnya. Tapi kami merasa belum ada yang “sreg” seandainya diharuskan memilih. Sebuah barang klasik, hasil restorasi, tak banyak dimiliki orang mungkin adalah rumus yang cocok dengan selera kami. Beruntunglah, kami dipertemukan dengan motor yang satu ini.

Yamaha-Chappy-LB50

Tak ada salahnya terlebih dahulu menengok asal muasalnya sebelum bercerita tentang rasa menunggangi Yamaha Chappy LB50. Menurut sumber yang berhasil The Gaspol kumpulkan, Yamaha meluncurkan Chappy untuk menyaingi Honda yang memasarkan produk mini trail pada masa-masa itu. Yamaha Chappy LB50 (50cc) merupakan model yang paling banyak beredar. Walaupun, selain itu ada pula varian Chappy LB80 (80cc).

Yamaha-Chappy-LB50

Kedua varian tersebut sama-sama menggunakan mesin 2-tak dengan perseneling 2-percepatan otomatis. Teknisnya, secara total Yamaha Chappy punya 4 perseneling yang dibagi secara seimbang untuk penggunaan saat melaju di jalan datar dan menanjak. Dikatakan, untuk memindahkan giginya, motor harus dalam kondisi benar-benar berhenti. Kalau tidak, ya, bisa berujung pada kerusakan.

Yamaha-Chappy-LB50

Perbedaan paling mencolok antara kedua varian Yamaha Chappy adalah kecepatannya di atas kertas. Pada kondisi mesin yang prima, Yamaha Chappy LB50 bisa diajak melaju sampai kecepatan 33 – 37 km perjam. Sementara, LB80 tentunya lebih kencang yakni 56 km perjam.

Yamaha-Chappy-LB50

Singgah di atas saddle-nya, tak ada perasaan apapun selain gembira. Sejak awal kami memang tidak mematok ekspektasi untuk menjumpai motor dengan performa luar biasa. Melainkan hanya sekarung kesenangan yang dibawa oleh tampilan unik motor ini. Meski demikian, bagaimana pun juga kami merasa punya kewajiban untuk menceritakan impresi berada di balik kemudi Yamaha Chappy.

Yamaha-Chappy-LB50

Posisi duduk di atas motor ini tentunya punya ergonomi yang memaksa kaki untuk sedikit melebar. Karena kalau tidak, sudah pasti mentok dengan handle bar. Begitu mesin menyala, buka tuas gas, motor pun melaju secara perlahan namun pasti. Rengekan mesin 2-taknya terdengar bekerja cukup keras. Mendesing merdu di telinga. Membawa kembali memori saat generasi kami larut dalam tren motor yang butuh oli samping itu merajai jalanan Jakarta.