Berbicara soal Kodo, awalnya seni musik tradisional pukul drum ini ditemukan di pulau terpencil Sado, Jepang. Para pemain Kodo yang notabene pemusik lokal di kawasan Sado, merangkul masyarakat setempat untuk tetap melestarikan musik tradisional, mereka membuat persembahan dengan mengadakan kegiatan pukul drum bersama – sama. Seseorang mencetuskan namanya Kodo ‘detak jantung’, karena bunyi ketukan drum tersebut seperti detak jantung.

Sejak saat itu, kesenian ini semakin digemari di Jepang, bahkan setiap perhelatan akbar, Kodo selalu dipertunjukan sebagai persembahan pembuka. Contohnya pada ajang Festival Berlin tahun 1981, panitia mengundang sekumpulan pemain Kodo dari Jepang untuk tampil dalam acara pembukaan.

IMG_9653_resize

Sebagai salah satu wujud persembahan akbar, wajar jika banyak masyarakat lokal yang berucap Kodo untuk kata ganti penyebutan sebuah mahakarya. Selain memiliki reputasi nama yang baik, Kodo juga kental akan budaya tradisional Jepang. Salah satu sebutan yang sering terucap dan sangat familiar di Negeri Sakura, dengan reputasinya Mazda pun tertarik menggunakan nama Kodo untuk penamaan gaya desain terbaru mereka.

Produk – produk seperti Mazda2, Mazda3, Mazda6, Mazda CX-5, Mazda CX-9 dan CX-3 merupakan wujud nyata dari persembahan garis Kodo Design. Mazda menyebut Kodo sebagai penggabungan unsur kecepatan, kekuatan dan pesona. Sebelumnya, pada rubrik tes Drive bulan September lalu, TheGaspol sudah mengulas CX-5 baru yang mempesona dengan bentuk barunya. Kali ini, kami berkesempatan ‘menyiksa’ Mazda6, dan menggiringnya hingga pinggiran ibu kota.

IMG_9686_resize

Dirasa telat? Kami rasa tidak demikian, karena mobil ini selalu enak untuk dibahas. Apalagi teknologi canggih i-Activsense merupakan hal baru dalam industri otomotif yang perlu terus dijelaskan.

Memilih menyetir sendiri, Saya tidak perlu repot – repot olah gaya, tidak mesti terlalu bersolek, toh lekuk tubuh Mazda6 sudah mengisyaratkan penggunanya nampak berkelas. Saya pun hanya begaya casual, karena mengendarai Mazda6 bukan berarti supir, hahaaaa…

IMG_9706_resize

Buka pintu, sudah terlihat interior sangat istimewa dan elegan berkat penggunaan warna hitam. Duduk di posisi kemudi, dengan postur tubuh Saya setinggi 170 cm bukan masalah, meskipun Mazda6 punya moncong besar, toh kursinya dapat diatur maju – mundur, atas-bawah secara elektronik sehingga Saya tetap memiliki jarak pandang yang cukup dan baik untuk mengemudi.

Rute pertama untuk sampai ke lokasi pengujian yang Saya pilih, Saya memilih masuk tol Jakarta Outer Ring Road (JORR) dari masuk cawang hingga keluar di BSD. Sepanjang perjalanan, banyak cerita yang dapat Saya bahas. Mazda6 memiliki handling yang cukup baik, untuk urusan menyalip kendaraan di depan, dalam kecepatan 80 km/ jam saja tubuh mobil tidah terasa melimbung. Ban berukuran 225/45 yang terpasang di ring 19 terasa menempel di aspal jalan, meskipun Mazda tetap harus menanggung konsekwensi penggunaan velg besar dari stir yang terasa berat.

IMG_9966_resize

Namun tak apalah, itu semua tetap tidak sebanding dengan adanya fitur keselamatan canggih seperti Lane Departure Warning System (LDWS) yang memberikan peringatan kepada pengemudi apabila ada perpindahan jalur yang tidak kita disadari pada kecepatan 60 km/ jam atau lebih. Teknologi LDWS pun telah dikombinasikan dengan Lane-keep Assist System (LAS), Anda akan mendapatkan peringatan dan setir langsung mengoreksi jika gaya mengemudi mulai berpindah – pindah jalur secara tidak hati – hati.

Well, rasanya menjelajah luas tol JORR masih kurang untuk mengomentari pengendaliannya saja, belum lagi sepanjang perjalanan Saya dibuat tenang berkat teknologi Advanced Blind Spot Monitoring (A-BSM) yang memberikan peringatan apabila ada kendaraan lain yang mendekat dari belakang atau jarak blind spot mulai mendekat dengan kecepatan 50 km. Wah, dengan begitu pengemudi fokus melihat jalan ke depan.

IMG_9774_resize

Berjalan sejauh 50 Km, akhirnya Saya sampai ke tempat tujuan di di Indonesia Convention Exhibition ICE Center, BSD. Di sini Saya ingin mengabadikan gaya berkelas dari Kodo Design milik Mazda6 dari jepretan kamera, gayanya akan Saya sandingkan dengan kemegahan gedung pertunjukan a la Berlin Festival dulu.

Selain asik berfoto, Saya pun kepikiran untuk menguji teknologi Electric Parking Brake (EPB),  yaitu sistem parkir yang memudahkan pengemudi menghidupkan dan mematikan rem secara otomatis dengan menarik dan menekan tombol EPB. Mengasyikan mengeksplor fitur – fitur terbaru ini. Bahkan, dengan bantuan layar 3,5 inci di tengah, pengemudi juga dapat melihat jarak sekitar saat ingin memarikir, meski bertubuh bongsor, large saloon ini tetap mudah di parkir.

IMG_9716_resize

Asik berkencan dengan Mazda6, tak terasa awan hitam telah sebagian menutupi matahari, kondisi cuaca memang sedang tidak menentu di akhir Maret ini. Saya langsung memutuskan untuk bergegas dan kembali melanjutkan perjalanan.

Lelah berkencan seharian dengan All New Mazda6, Saya pun sempat mendapatkan peringatan fitur Driver Attention Alert (DAA). Teknologi ini mampu mendeteksi kelelahan pengendara dan memberi anjuran untuk beristirahat. Lewat peringatan di layar, fitur ini membaca gaya mengemudi Anda selama 20 menit, dan mengabarkan kondisinya. Lewat anjuran tersebut, Saya harus berhenti untuk beristirahat.

IMG_9939_resize

Beragam fitur yang dihadirkan generasi terbaru Mazda6 telah memberikan kesan yang sangat baik bagi para pengujinya, fitur – fitur canggih yang tertanam, dan handling terbaik yang ditawarkan, pantasnya menjadi perhitungan lebih bagi para calon konsumen di Indonesia.

Saya pun sangat tertarik, hanya saja untuk dapat memboyong lawan Toyota Camry ini, para eksekutif harus menyiapkan dana sebesar Rp 603.7 juta yang diminta Mazda Motor Indonesia (MMI) untuk menebusnya.

IMG_9929_resize

Hmmm, meski demikian, Saya rasa itu harga yang pantas untuk sebuah mahakarya buatan Jepang. Apalagi Mazda6 telah dilengkapi fitur – fitur keselamatan canggih yang harganya sudah tidak ternilai lagi. Nah, mulai sekarang Anda perlu menulis mobil ini dalam daftar belanja, jika ingin mengganti sedan mewah di rumah.