Sebagai pendukung tim Azzuri, pertemuan dengan Perancis di Final Piala Dunia 2006 tidak pernah Saya harapkan. Apalagi pada jumpa terakhir, Zidane cs mampu mengalahkan Italia 2-1 di Final Euro 2000. Pada babak tambahan kedua, David Trezeguet mampu menceploskan bola ke gawang Italia.

Alhasil, momen buruk tersebut selalu membekas dalam ingatan Saya. Seakan tidak percaya diri, Final 2006 tetap Saya saksikan dengan jantung berdebar – debar. Tahap pertama waktu normal selesai, ternyata Saya seakan menyaksikan partai ulangan Euro 2000 karena keduanya hanya mampu berbagi angka 1-1. Pertandingan pun dilanjutkan ke tahap kedua atau babak extra time, dari sini Saya baru melihat pertandingan nampak berbeda dibanding pertemuan terakhir. Kala itu, Zidane yang terprovokasi langsung terlihat menanduk dada Marco Materazzi. Zidane pun langsung diusir keluar. Dengan keunggulan pemain, ternyata Italia mampu mengiring 10 pemain Perancis ke babak adu penalty, atau tahap ketiga permainan sepak bola.

IMG_7252-1

Melalui tiga tahap tersebut, tim Azzuri baru mampu mengungguli Perancis lewat skor 5-3 dan mampu merebut Trophy World Cup 2006. Apakah mengalahkan Perancis harus dengan tiga tahap? Saya pun langsung kepikiran untuk menerapkannya dalam pengujian Renault Duster kali ini. Pertama, kami mengujinya di jalan perkotaan. Kedua, kami menumpangi Renault Duster 4×4 dengan diisi 4 orang dewasa lalu melakukan perjalanan keluar kota. Dan ketiga, lokasi uji kali ini, kami membawanya melintasi medan berat yang hanya bisa dilalui oleh mobil dengan gerak 4 roda.

Ketiga tahap pengujian tersebut kami coba sudah pikirkan, guna mampu menaklukan Duster. Sejak pagi hari, kami sudah mengepak barang untuk dibawa plesiran ke wilayah Rengasdengklok – Karawang yang terkenal masih tak terjamah dan masih memiliki tanah gembur akibat diguyur hujan semalaman. Bermodalkan ponco, senter dan sepatu hiking, kami sudah mempersiapkan kalau – kalau kami tidak pulang tepat waktu hari itu.

IMG_7331-1

Kondisi jalan pagi itu tidak menentu, selepas menghempas tol Pancoran, kami masih harus berkutat dengan riuhnya kepadatan mobil para pekerja kantoran yang sedang mengantri masuk ibu kota. Meski begitu, jengkelnya kemacetan dapat kami alihkan dengan coba merasakan gesitnya Duster di tengah kemacetan. Lingkar kemudi terasa ringan, akselerasi juga dirasa cukup mumpuni untuk urusan selap – selip di jalan raya. Melengkapi pengujian pertama, selepas exit Bekasi Timur kami mulai mengesplor mesin 4-silinder 1.5 dCI 110 Direct Common-rail Injection 8 valve yang dibopong varian 4×4.

Meskipun tidak menggunakan mesin besar, ya bisa dibilang hanya sepertiga dari kapasitas mesin Nissan Navara, namun Duster 4×4 yang kami coba punya keunggulan di dalam akselerasi rendah, hanya dengan melakukan satu kali ‘kick down’ beberapa mobil yang sedang melaju konstan di depan sudah dapat kami hempaskan dengan mudah berkat torsi yang mencapai 245 Nm pada putaran rpm 1.750.

IMG_7303-1

Kurang lebih 1 jam di jalan tol, kami pun langsung mengambil exit Karawang Barat – Rengasdengklok demi menemukan tempat yang kami rasa cocok untuk menguji performa sesungguhnya. Di tengah himpitan pabrik – pabrik dan keluar masuk kendaraan berat, kami melihat masih ada tanah kosong yang rasa bisa kami manfaatkan untuk mencoba performa sang Duster.

Well, seakan tak percaya Saya yang bertindak sebagai juru mudi langsung berpikir pendek dan membawanya nyemplung ke kolam lumpur yang tidak begitu tinggi guna melakukan tahap pengujian ketiga. Dengan sedikit helaan nafas, Saya sudah merasakan bahwa ban telah masuk ke tanah yang gembur, dan ini pun sudah membuat adrenalin Saya sebagai pengemudi terpacu. Pasalnya, Saya tidak yakin mobil ini bisa keluar dari kubangan, melihat mobil ini hanya dilengkapi oleh ban aspal berukuran 215/65 ring 16.

IMG_7218-1

Saya memindahkan mode pengendaraan ke Auto Mode sehingga mampu mendistribusikan fungsi gardan depan dan belakang secara otomatis sesuai dengan kecepatan dan kondisi jalan yang baik maupun licin. Seperti orang bergulat, ternyata Duster mampu keluar dari kubangan dengan mudah, bahkan Saya tidak menekan pedal gas dalam – dalam untuk dapat membuat mobil ini sedikit menepi.

Rasa pesimis Saya langsung dijawab oleh Duster saat itu juga, apalagi dengan Ground clearance setinggi 210 mm, rasanya kubangan seperti ini dapat dengan mudah Saya lewati. Meski begitu, nyatanya dalam pengujian tahap kedua, penumpang belakang tetap tidak kerasan dengan jok baris kedua yang terasa sangat tipis dan memiliki busa sedikit mengganjal. Ya, untuk ikut berkelana dengannya, memang pilihan duduk di kabin belakang bukan merupakan pilihan yang tepat. Apalagi, penumpang kami yang bertinggi hampir 180 cm, selalu tidak sengaja menekan rear power window yang letaknya terlalu mudah tertekan di bagian trim belakang.

IMG_7315-1

Kami pun memutuskan untuk lebih dalam masuk ke perkampungan guna menghasilkan jepretan – jepretan terbaik dan juga ingin mengetahui tenaganya lebih dalam lagi. Beberapa kontur jalan kami lewati tidak begitu baik, namun ucapan sang juru kamera selalu memuji suspensi Renault Duster yang ia rasa cukup menyenangkan, “tidak keras, tapi tidak empuk, ini pas”, tambahnya.

Penggunaan All Wheell Independent Multi-link Suspension yang terpasang di setiap roda, seakan memberikan keleluasaan Duster untuk terus bergerak, merayap dan memanjat sesuai kondisi jalan yang akan dilalui.

IMG_7226-1

Tak terasa kami sudah menghabiskan jarak tempuh mencapai 140 km dan ini menjadi pengujian tahap ketiga, guna mencari konsumsi bahan bakar luar kota. Dan yang membuat Saya kagum, 3 bar bahan bakar yang kami miliki saat masih di tol Pancoran tadi, belum juga habis padahal kami tidak melewati jalan yang baik selama menempuh Rengasdengklok – Karawang Timur.

Wah, salut untuk mesin Turbodiesel Duster yang tetap Eco Friendly meskipun berwujud mobil petualang. Dari situ, Saya mulai mengetahui mengapa populasi mobil ini belum banyak kita temui di jalan perkotaan di Indonesia.

IMG_7268-1

Dengan mementingkan kepraktisan berkendara, Saya rasa memang Duster bukan pilihan tepat untuk hanya digunakan ke kantor atau dari mall ke mall setiap hari. Mobil ini punya tenaga 110 Ps, selain itu gerak 4 roda dan Turbodiesel yang ia miliki, membuatnya tak level hanya digunakan harian di jalan perkotaan.

Anda harus melewati jalan yang lebih terjal, atau tantangan jalan berlumpur sekalipun untuk benar – benar memahami mobil ini. Untuk digunakan keluar kota dengan kondisi jalan yang belum dapat diprediksi? Saya rasa mobil ini tetap mampu. Apalagi kapasitas bagasi 410 liter yang mereka miliki mampu membawa 3 buah koper besar untuk digunakan berlibur seminggu. Hanya saja, kenyamanan penumpang juga perlu diperhatikan.

IMG_7303-1

Jangan tanya seberapa aman mobil ini dapat melindungi keluarga Anda. Dari mulai Monocoque Body yang menjadi struktur rangka sehingga mampu memberikan tingkat keamanan dan kenyamanan yang lebih baik, penggunaan dual front airbags juga sudah melindungi dengan baik para penumpang Duster.

Untuk dapat memilikinya, PT Auto Euro Indonesia distributor Renault di Indonesia, menawarkannya dengan harga Rp 333,5 juta untuk tipe E2, dan Rp 339,5 juta untuk tipe E3. Keduanya merupakan harga On the Road.