Aksi geng motor berdandan lengkap dengan jaket kulit, celana denim plus sepatu boots bernama the Black Rebels Motorcycle Club di kota Wrightsville menarik perhatian penduduk kota. Pasalnya, geng motor berandalan yang dipimpin oleh Johnny Stabbler ini kerap berbuat onar dan memacu motornya di mana saja. Seperti film bertema sepeda motor lainnya, The Wild One juga berlatar soal perseteruan antar geng motor di Negara Paman Sam dibumbui dengan secuil romantisme.

1950-Triumph-6T-Thunderbird-Custom-4

Namun bukan kekuatan cerita film yang sempat dilarang beredar di Inggris selama 14 tahun ini yang menarik perhatian saya. Melainkan aksi dari Triumph 6T Thunderbird besutan Johnny yang diperankan oleh Marlon Brando yang memancarkan pesona tersendiri. Mengadopsi mesin bawaan Speed Twin yang kapasitasnya didongkrak hingga 650cc, motor yang namanya merupakan buah ide Edward Turner ini menjadi anak emas di AS. Maka tak heran jika produser film, bintang film hingga musisi mengidolakan T-Bird. Bahkan gosipnya, selain jaket kulit, penjualan sepeda motor khususnya Triumph di AS melonjak tajam lepas booming film The Wild One.

1950-Triumph-6T-Thunderbird-Custom-1

Terinspirasi dari film tersebut, seorang karyawan swasta bernama Tommy Sunu segera berburu motor incarannya. Pucuk di cinta ulam pun tiba. Lewat iklan yang tayang di Facebook, pria yang berdomisili di wilayah Bintaro, Jakarta Selatan ini dijumpai sedang bersemayam di sebuah gerai modifikasi di Denpasar, Bali. Tak mau buang waktu, Tommy segera menebus motor yang saat itu dalam kondisi sudah dicustom dan hanya menyisakan beberapa komponen orisinil. Seperti frame, mesin, gearbox, tangki bensin, tangki oli dan springwheel belakang.

1950-Triumph-6T-Thunderbird-Custom-12

“Kalau tidak salah di tahun 2013 saya melihat iklan di FB-nya Yusuf Sam, juragan Lowo Abang Art Cycle. Karena kadung jatuh cinta, saya langsung menebus motor tersebut. Motornya sih jalan, namun sudah dicustom sederhana,” ujarnya.

Lantaran bentuk standar pacuan pria flamboyan, Marlon Brando, telah tertanam di dalam benak, maka Tommy memutuskan untuk mengembalikan kondisinya seperti bawaan pabrik. Beragam kendala mulai muncul. Yang paling utama adalah masalah ketersediaan spare part orisinil.

1950-Triumph-6T-Thunderbird-Custom-11

“Selain sempat bertanya ke si mbah (sapaan akrab Yusuf Sam), saya juga browsing ke berbagai toko online yang menjual spare part Triumph serta masuk ke dalam beberapa forum Triumph. Hasilnya adalah proses pengembalian Triumph 6T Thunderbird ke kondisi semula sangat rumit. Spare partnya jarang. Sekalinya ada, banderolnya selangit. Itulah yang membuat saya harus mengambil keputusan untuk memodifikasi total motor ini,” tambah pria yang telah dikaruniai tiga putra ini.

1950-Triumph-6T-Thunderbird-Custom-9

Gayung bersambut. Mbah Yusuf langsung mengamini permintaannya. Sentuhan midas punggawa Lowo Abang pada beberapa motor kreasinya terdahulu membuat Tommy langsung jatuh hati. Ditambah pulasan hand made yang kerap diterapkan membuat motor-motor pre war yang lahir dari gerai yang berdiri di tengah pematang sawah ini laksana sebuah karya seni.

Berbekal foto-foto motor racikan Falcon Motorcycle dan kampiun AMD Championship, Chicara Nagata, Mbah Yusuf langsung menorehkan kreasinya.

1950-Triumph-6T-Thunderbird-Custom-6

“Saat itu saya memang sedang kesengsem sama motor-motor buatan Ian Berry punggawa Falcon Motorcycle dan Chicara Nagata. Jadi saya sengaja memberikan gambar dari motor-motor mereka ke si Mbah sebagai panduan. Pada dasarnya builder-builder itu adalah seniman. Jadi saya membebaskan Mbah Yusuf berkreasi dan tidak membatasi. Tinggal bagaimana beliau memadankan antara idenya dengan konsep yang saya mau. Sementara proses update berlanjut lewat Whatsapp,” jelas kolektor Honda CB bermesin twin ini.

1950-Triumph-6T-Thunderbird-Custom-5

Hasilnya luar biasa! Sang T-Bird kini disesaki puluhan komponen hand made dengan detail sempurna dan hanya menyisakan frame dan spring wheel orisinil. Simak saja detail tangki bensin yang dibikin terpisah, springer depan yang dilengkapi dengan lubang untuk mengisi oli suspensi, selang-selang yang terbuat dari material kuningan, tangki oli, adjustable handlebar, jok, hingga lampu-lampu. Yang unik, Mbah yusuf juga mengkreasikan peranti yang dicangkokkan di arm belakang sebagai tempat untuk menyimpan busi cadangan.

1950-Triumph-6T-Thunderbird-Custom-13

“Motor itu jangan dibangun sembarangan. Mereka butuh taksu, butuh jiwa. Agar auranya tetap bisa terpancar.  Berapa banyak komponen detail yang hand made di motor ini? Silahkan hitung. Jangan heran jika butuh waktu hampir satu tahun untuk menyelesaikannya,” jelas Yusuf Sam.

Urusan pelaburan kelir, Tommy percaya kepada Fahmi dari Free Flow Kustom. Apalagi dia sempat satu kamar di Jepang saat menghadiri gelaran Yokohama Hot Rod Custom Show. Jadi proses tukar pikiran bisa berlangsung dengan mudah.

1950-Triumph-6T-Thunderbird-Custom-2

“Selama satu minggu, hampir setiap malam saya curhat ke Fahmi soal motor ini. Kebetulan di Jepang, Fahmi juga sempat menyimak beberapa trend cat yang ditorehkan di motor-motor peserta kontes. Alhasil, tangki saya kirim ke Bandung setelah pulang dari Jepang,” tegas Tommy.

“Untuk Triumph 6T Thunderbird ini, Fahmi menerapkan teknik yang baru saja didapatnya. Dia memadukan antara siluet dan flakes di background dengan motif sayap yang dipercantik dengan aksen gold leaf,” tambahnya.

1950-Triumph-6T-Thunderbird-Custom-14

Sebagai bukti kasih kepada buah hati tercinta, Tommy menyematkan emblem bertuliskan ANDARA. “Jadi sebenarnya motor ini saya kasih nama ANDARA, yang merupakan singkatan dari ketiga nama anak saya; Arkana, Andafa dan Rafi. Namun karena inspirasinya datang dari Marlon Brando yang jaman dulu terkenal sebagai pemuja wanita, maka banyak yang menggadang motor ini sebagai Flying Don Juan,” tutupnya.

1950-Triumph-6T-Thunderbird-Custom-15

Segudang kreasi sempurna yang telah diterapkan hingga meraih gelar Best People Choice di ajang Deus Bike Build-off di Bali mampu memuaskan hasrat Tommy. Namun agar tetap sesuai kodratnya yang bukan hanya sekedar trailer queen, sebagai finishing, pehobi downhill ini sengaja memboyong T-Bird kesayangan ke Jakarta dan diserahkan ke Alel dan Ipin dari Classic Batavia untuk memulas sektor penghasil daya dan Andi Akbar yang mempercantik tampilan.