Ada yang berbeda pada gelaran Intersport Passion Race Sabtu (24/9). Dibanding seri sebelumnya di 2016 ini, pada seri ketujuh yang dilaksanakan di Kompleks Pemerintahan Tigaraksa – Tangerang, tim Hotel Grand Mutiara Pangandaran (HGMP) tampil dengan memukau dengan senjata barunya Nissan Silvia Varietta.

Berbeda dengan Nissan Silvia coupe berkode S15 yang umum berkeliaran di ajang motorsport tanah air, Silvia andalan tim HGMP ini memiliki model atap terbuka atau konvertibel. Namun guna keperluan kompetisi, atap yang sedianya berpenggerak elektrik, diubah menjadi manual dengan menggunakan fiber untuk mereduksi bobotnya.

Tanpa persiapan khusus, unit yang didatangkan bulat dari negeri Jiran ini langsung merasakan panasnya aspal kompetisi slalom tanah air. Meski slalom bukan habitat mobil ini, namun hadirnya Varietta pada Intersport Passion Race akhir pekan lalu dimanfaatkan tim HGMP untuk mencoba komposisi dari Nissan Silvia bermesin Toyota Supra 2JZ-GTE.

“Sebetulnya mobil ini kami datangkan untuk kompetisi drifting yang akan berlangsung bulan depan. Namun karena trek pada Intersport Passion Race di Tangerang ini sedikit mirip Gymkhana Race yang memiliki tikungan-tikungan mirip drifting, maka kami langsung coba mobil ini,” ungkap Akbar Rais, drifter senior yang membesut Silvia konvertibel ini di tim HGMP.

Akbar menambahkan, ikut sertanya Silvia Varietta di Intersport Passion Race seri ketujuh ini tak murni hanya untuk berkompetisi sambil mencoba settingan. Namun juga tampil sebagai eksebisi untuk menghibur penonton yang hadir sekaligus perkenalan tunggangan baru tim HGMP.

Sementara itu, kompetisi menuju Grand Final Intersport Passion Race pada tiga seri yang akan datang, terasa makin panas. Pasalnya, regulasi menentukan setiap pembalap hanya boleh memenangkan kejuaraan salah satu seri untuk memperoleh tiket Grand Final.

Pada seri ketujuh ini, HGMP sedikit berduka dengan diskualifikasi yang dialami pembalapnya. Valentino Ratulangi di kelas Pro FWD dengan Toyota Yaris dan Aldhy Rais pada kelas Rookie FWD dengan Honda Jazz terpaksa harus merelakan pucuk pimpinan perlombaan dikelasnya tanpa ganjaran apapun, akibat pernah menjuarai seri ketiga di Tasikmalaya untuk Pro FWD dan putaran kedua di Yogyakarta pada kelas Rookie FWD.

Akhirnya pembalap dengan perolehan waktu dibawahnya lah yang didaulat sebagi juara pada putaran tujuh d Tigaraska Tangerang untuk berlomba pada Grand Final mendatang.

“Ya mau gimana lagi, padahal yang namanya slalom kan kompetisi pencarian waktu tercepat. Sayangnya ternyata malah babalas menjadi yang tercepat dibanding peserta lain dan harus  terkena diskualifikasi,” ungkap Valentino Ratulangi, peslalom HGMO seraya menunjukan sedikit kekesalannya.