Siapapun tahu Mitubishi bukanlah pabrikan yang gemar merombak tampilan produknya dalam waktu yang cepat. Dalam satu model generasi, setidaknya Mitsubishi baru melakukan full model change setelah lewat lima tahun.

Eterna misalnya, masih menempel di benak kami bagaimana dulu sedan keluarga ini mampu mempertahankan modelnya hingga 7 tahun, mulai 1987 sampai 1993. Lantas belakangan, Pajero Sport pun mengikuti jejak serupa, dimana generasi pertama mulai diluncurkan 2008 lalu hingga tutup tahun 2015 baru diremajakan. Sepanjang masa pemasarannya, ubahan luar hanya bersifat minor pada gril dan lampu-lampu.

mitsubishi-new-mirage-15

Sama halnya pada New Mirage yang kami uji kali ini. Meski baru saja mendapatkan penyegaran pada akhir Juli lalu, nyatanya bagi orang awam pun tak banyak yang tahu apa saja perbedaan dengan pendahulunya.

Bisa dibilang ubahan tampang yang dilakukan Mitsubishi Motors Corporation terhadap city car ini, minim sekali. Perbedaan hanyalah pada garis kap motor, ornamen grill, rumah lampu kabut serta bumper belakang yang diberikan imbuhan reflektor model baru agar kesannya jadi lebih sporti.

mitsubishi-new-mirage-8

Menariknya, karena city car ini memiliki pangsa generasi muda atau orang yang memiliki jiwa muda dan aktif, maka PT Krama Yudha Tiga Berlian Motors (KTB) menghadirkan warna andalan baru yang lebih atraktif, khusus di varian tertinggi Exceed. Yaitu kelir Wine Red Pearl, seperti mobil tes yang kami bawa ini.

Tapi bukan soal tampang yang akan kami kupas lebih dalam kali ini. Melainkan soal rasa berkendara New Mirage, jika diajak beragam kontur jalan. Seperti jalan bebas hambatan, jalanan menanjak pegunungan hingga ketinggian 1600 mdpl dan habitat aslinya, jalanan perkotaan.

mitsubishi-new-mirage-14

Eksplorasi ini kami lakoni di wilayah Jawa Timur. Perjalanan dari Surabaya menuju kota Malang dan Batu tentu menyuguhkan apa yang kami cari. Mulai menyusuri jalan tol Surabaya hingga Pandaan, jalan antarkota menuju Malang dan tanjakan-tanjakan berbagai macam sudut kemiringan menuju kota Batu.

Dengan sumber tenaga 3-silinder 12 klep berkapasitas 1.200 cc dan berteknologi DOHC MIVEC, cruising di jalan bebas hambatan hingga berkecepatan maksimum 100 Km/jam bukanlah sebuah persoalan. New Mirage yang kami isi tiga orang dewasa dan tas penuh di bagasi dengan bobot total muatan mencapai lebih dari 200 Kg, masih terasa ringan saat injakan pedal gas ditambah.

mitsubishi-new-mirage-3

Usai melewati gerbang tol terakhir, kami memasuki ruas jalan Pandaan – Malang. Jalan antarkota dengan kontur yang terus menanjak landai tersebut, hari itu kondisinya terbilang padat. Truk-truk gandar ganda dengan tonnase besar, memenuhi jalanan dua lajur tersebut.

Disinilah kami menguji kemampuan transmisi otomatik CVT yang hanya terdapat di varian tengah GLS dan Exceed. Seperti halnya tipikal transmisi bersabuk baja ini, kinerjanya terasa lemah di putaran mesin rendah. Lain ceritanya jika putaran mesin telah mencapai lebih dari 2.500 rpm hingga 3.000 rpm, tarikan masih lebih responsif kala pedal akselerator diinjak lebih dalam.

mitsubishi-new-mirage-1

Ada yang tidak umum di tuas transmisi otomatik CVT milik Mirage, yaitu adanya posisi B (Brake) dibawah posisi D (Drive). Sejatinya, posisi B diberikan untuk menjaga kecepatan Mirage saat di turunan panjang atau curam dengan menahan gerakan kopling sentrifugal CVT dan putaran mesin, agar mobil tidak meluncur bebas.

Namun efek rpm yang menjadi lebih tinggi saat ‘pengereman mesin’ tersebut justru menjadi sebuah keuntungan untuk menjaga rpm agar tetap berada di putaran tengah. DImana posisi putaran mesin tersebut, seperti yang kami sebut sebelumnya paling ideal untuk menggali tenaga putaran sumber tenaga city car rakitan Thailand ini hingga ke puncaknya.

mitsubishi-new-mirage-6

Memasuki wilayah Batu, tanjakan pun semakin panjang dan curam. Rasa penasaran hinggap di kami, bagaimana dengan performa transmisi manual 5-percepatannya di jalan menanjak. Kebetulan kami juga membawa varian terendah, GLX sebagai perbandingan antarlini New Mirage.

Sebagaimana kota yang berkembang, perilaku angkutan kota pun sebelas – dua belas dengan di Ibukota. Kami kerap melakukan stop and go untuk membebaskan diri dari hambatan transportasi massal yang berhenti sembarangan.

mitsubishi-new-mirage-5

Ternyata, saat tenaga mobil mungil ini harus digali paksa dari putaran rendah ke tinggi untuk menghadapi tanjakan, transmisi manualnya membuat kami terpukau. Tenaga seolah terus tersalur pada roda di setiap putaran mesin dan tingkat percepatan transmisi. Kami suka varian manualnya..

Dengan memiliki pengalaman dan divisi tersendiri dalam pengembangan mobil kompetisi, membuat Mitsubishi paham betul bagaimana menciptakan sebuah pengendalian yang akurat. Paduan sistem Electronic Power Steering (EPS) yang notabene terasa lebih ringan dan over sensitif dan lingkar pelek naik satu inci di tipe Exceed, membuat handling-nya jadi lebih baik dan cukup presisi.

mitsubishi-new-mirage-16

Sayangnya improvisasi pada sektor suspensi yang telah dilakukan pada New Mirage masih belum mengurangi gejala body roll-nya saat dibesut cepat di tikungan. Namun menjadi lebih baik soal ayunan dan redaman suspensi saat roda menghadapi jalan keriting.

Lantas bagaimana rasanya duduk di dalam New Mirage, apa yang berbeda dengan pendahulunya yang telah dijual sejak 2012 lalu.

mitsubishi-new-mirage-instrument

Ternyata rasanya sama saja, tak ada yang berbeda. Perbedaan di bagian kabin hanya sebatas pada motif jok yang lebih terang, dasbor berwarna lebih gelap dan panel meter cluster yang lebih enak dipandang ketimbang generasi sebelumnya.

Tapi mesti diakui, duduk di city car built up berharga rentang Rp 171,5 juta – Rp 196 juta ini, memberikan kenyamanan paling baik dengan sudut pandang terluas dari balik setir, ketimbang rivalnya. Dengan sandaran bangku depan model terpisah dengan headrest, ketebalan busa optimal hingga fitur penyetelan ketinggian jok dan setir menjadi penyebab utama betah duduk didalamnya.

mitsubishi-new-mirage-mirror

Menariknya, sebagai produk global Mirage memang dirancang untuk memanjakan wanita, khususnya ladies driver. Ciri ini kami temukan dari hanya tersedianya sebuah kaca rias (vanity mirror) di penghalau sinar matahari (sunvisor) sisi pengemudi dan saku jok penyimpanan barang hanya dibalik jok kiri depan yang memudahkan pergerakan akses pengemudi.

Di bagian belakang, penumpang dengan postur mencapai 170 cm masih bisa dibilang duduk dengan ergonomis. Ruang kaki dan ruang kepala yang tersisa masih memberikan cukup ruang untuk bergerak.

mitsubishi-new-mirage

Sayangnya hanya tipe termahal atau Exceed yang mendapatkan tiga buah headrest yang dapat diatur ketinggiannya, sedangkan tipe GLS dan GLX hanya mendapat headrest ‘formalitas’, tapi masih terbilang aman melindungi leher penumpang belakang dari benturan.

Kendati di pasaran city car non-LCGC New Mirage tidak menampuk gelar market leader, namun apa yang disuguhkan Mitsubishi untuk para pembesut city car sudah lebih baik dari edisi sebelumnya. Termasuk soal build quality kabin dan kekedapannya, serta perbaikan sistem tata suara hiburan yang lebih enak diterima telinga.

mitsubishi-new-mirage-10

Sangat disayangkan Mitsubishi belum memberikan fitur konektivitas Bluetooth pada sistem audionya untuk menyambungkan lagu dari ponsel lewat aplikasi pemutar musik dan sambungan telfon, mengingat KTB akan meraup pangsa pasar kaum millenials yang menganggap fitur ini penting dan modern.

Padahal dengan warna barunya, penampilan New Mirage cukup menyita perhatian penyuka mobil mungil di jalan.