Sebagaimana bagian dari sebuah modifikasi, tren penggunaan pelek bagi para modifikator di Indonesia terus bergeser mengikuti pesatnya perkembangan zaman. Mulai dari model yang kian atraktif, konstruksi yang semakin mereduksi bobot tanpa mengurangi kekuatannya hingga inovasi terkini penggunaan materialnya.

Menurut pemantuan Thegaspol.com dari gelaran meet up yang sering berlangsung di hampir tiap akhir pekan, pelek konstruksi multipieces masih memegang peranan rumus jitu meningkatkan tampilan kendaraan. Sehingga mulai tahun lalu, pelek seperti ini mulai banyak beredar di pasaran.

Lalu bagaimana dengan memasuki 2017 ini. Pelek seperti apa yang diperkirakan akan booming pada tahun ayam api ini?!

forged-mesh

Forged Multipieces

“Dilihat pergerakan di 2016 lalu, pelek forged custom diperkirakan akan semakin menanjak pamornya di 2017. Terlebih pelek buatan Amerika yang mampu memenuhi kebutuhan spesifikasi konsumen by order,” tukas Mamat, punggawa gerai pelek Riverside.

Lebih lanjut pria yang memiliki ruang pamer di bilangan Kampung Melayu, Jakarta Selatan ini merincikan, pelek forged dengan rangka two pieces atau three pieces (multi construction) kini modelnya semakin berani dan unik. Bahkan pabrikan Litespeed Racing yang berdomisili di Amerika telah melansir pelek bermaterial forged composite carbon fiber wheels.

Penggunaan bahan ini diklaim mampu mereduksi bobot 45% lebih ringan daripada forged alumunium. Kendati pabrikan menjamin kekuatan material dari pelek, namun hingga kini belum ada pabrikan yang menjelaskan secara rinci soal teknologi dan fabrikasinya.

jdm

Japanese Domestic Market

Khusus di penganut aliran bergaya JDM, beberapa pelek masih akan “didewakan’ oleh para fans penggunanya. Sebut saja pelek lansiran Rays TE37 dengan konstruksi one piece, Advan RG yang hingga kini masih diburu oleh para pecinta kecepatan.

Terlebih Enkei bisa dipastikan ‘masa’nya masih akan terus berlangsung hingga setahun mendatang. Pasalnya hingga kini fans dari pelek aftermarket yang bermarkas di Hamamatsu, Jepang masih tetap solid dengan mendirikan komunitas tersendiri, Enkei Enthusiast di Jakarta.

speedline-corse-2118-clio-cup

Rally Style

Mamat yang juga sering menghabiskan waktu akhir pekan di sebuah gerai kopi ini memprediksi akan ada peningkatan permintaan pelek penggaruk tanah ini di 2017. Selain memang memiliki rancangan yang tahan banting, aplikasi gaya reli di mobil harian juga semakin menjamur berkat hadirnya komunitas Rally Look Indonesia.

tuner

Tuner Style

Seiring berkembangnya desain garis-garis membulat pada mobil zaman sekarang, membuat pelek tuner pabrikan ini perlahan mulai ditinggali. Alasannya, beberapa konsumen menganggap modelnya yang didominasi blok dan palang besar tak cocok dengan garis aerodinamika mobil baru.

“Terutama di Mercedes-Benz, belakangan pelek tuner dengan desain monoblok seperti Lorinser, Brabus dan AMG yang dahulu menjadi sebuah barang most wanted, belakangan mulai lesu. Karena jika dipaksakan akan terlihat lebih tua dengan desain pelek yang kaku,” cetus Mamat.

Lain lagi jika pelek tuner yang diperuntukan bagi BMW. Pria pembesut Toyota Great Corolla Station Wagon ini menekankan beberapa pelek tuner BMW sebagian masih dicari konsumen. Seperti AC Schnitzer dengan rangka tiga lapis hingga Hamann Pegasus yang masih satu fabrikasi dengan OZ Wheels.

Soal pasar yang sempat tersendat di awal 2016 lalu, perlahan mulai menampakan titik cerah jelang tutup penghujung tahun lalu. Para pengusaha aksesori mobil pun mendambakan kondisi ini dapat terus stabil bahkan lebih baik dari sebelumnya di 2017 mendatang.