Alinka Hardianti : Drifting Itu Indah

Terlahir sebagai seorang putri dari mantan pembalap nasional multitalenta Didi Hardianto, gadis cantik kelahiran 1992 ini pun turut mengikuti jejak sang ayah untuk berkarir lewat kompetisi di balik setir. Keseriusannya menggeluti beberapa cabang kompetisi balap mobil, membuat Alinka masih terus menuai beragam prestasi hingga hari ini.

Belum puas sampai disitu, ia pun masih membidik untuk mendapatkan gelar juara dan berpartisipasi dalam kompetisi kelas internasional di mancanegara. Keinginannya perlahan mulai tercapai, termasuk belum lama ini tampil bertandang dalam kompetisi internasional drifting di Malaysia.

Seperti apa kisah wanita yang mengaku tak pernah mengoleksi ‘girls stuff’ ini dapat terjun ke arena balap? Simak petikan pembicaraan kami saat menyambangi kediaman Juara Nasional Slalom 2016 tersebut.

Ngomong-ngomong pertama kali bisa nyetir mobil tuh kapan sih, terus siapa yang mengajarkan?

Kalo nggak salah sekitar 2003-an deh, waktu itu masih di Sekolah Dasar. Tapi waktu itu ya baru bisa mobil otomatis saja awalnya.

Lalu bagaimana sebuah profesi pembalap bisa memotivasi seorang Alinka Hardianti, apakah dorongan Orangtua?

Nggak. Motivasinya justru datang sendiri. Bokap hanya mengarahkan secara halus awalnya. Kayak waktu kecil dibeliin baju balap, sepatu balap, sampai helm. Padahal naik motor aja nggak boleh.

Lalu bagaimana bisa kepincut balapan?

Pada suatu ketika Bokap lagi latihan slalom bersama Om Agus Djohansyah (ayah Demas Agil), saya iseng mau nyobain mobil manual. Akhirnya dipinjamkan Daihatsu Charade bekas mobil balap Bokap dulu. Bareng Demas waktu itu kita niru-niru Bokap dan Om Agus, bedanya mereka meliuk-meliuk diantara cone, kita diantara pohon.

Cuma waktu itu aku yang bertugas putar setir, Demas yang tarik hand brake sampe bisa ngesot. Terus begitu disamperin Bokap. Sempat panik awalnya takut dimarahin, nggak taunya malah diketawain. Dan dari situ baru diajarin caranya slalom yang benar.

Seperti apa sosok ayah di mata Alinka?

Sosok Bokap itu justru jadi motivasi dan inspirasi, karena dia pembalap serba bisa! Saat itu pembalap wanita banyak banget di cabangnya masing-masing. Lalu terbersit di pikiran saya bagaimana caranya supaya bisa lebih spesial diantara pembalap wanita lain. Salah satunya ya mengikuti jejak Bokap yang bisa menjadi pembalap di beberapa cabang.

Alhamdulillah kesampaian dan ada jalannya. Intinya sih gue nggak mau kalau cuma jual penampilan. Gue harus punya skill dan dapat bersaing dengan pembalap lainnya untuk mencapai prestasi.

2005 jadi tahun yang sangat bersejarah bagi pembalap wanita yang berdomisili di bilangan Lebak Bulus tersebut. Pasalnya saat itu ia berhasil meraih prestasi pertamanya sebagai Juara di Kelas Wanita saat Suzuki Aerio Super Slalom di Kelapa Gading, Jakarta.

Apa prestasi terbaik yang pernah diraih sepanjang karir kamu?

Hmmm.. Banyak ya. Namanya prestasi ya rasanya semua pasti terbaik Hahahaaa… Kalau di Slalom ya jadi Juara Nasional kelas F waktu final di Lampung lewat proses perjalanan mulai dari Pemula, Seeded B dan Seeded A.

Untuk balap internasional, apa yang paling berkesan hingga saat ini?

Dulu pernah berdoa pengin balapan di luar negeri. Alhamdulillah kesampaian. Mulai dari beberapa event Drifting di Malaysia hingga balap turing Toyota Gazoo Racing Netz Cup Vitz di Jepang kemarin. Balap di Jepang kemarin sih paling berkesan ya, karena jadi balapan yang paling jauh. Kemarin juga sempat berlaga di Tonka Drift King 2017 di Malaysia lawan 14 drifter-drifter professional dari Jepang, Hongkong, Thailand, Singapura dan Malaysia.

Dari sekian cabang balap yang pernah ia ikuti seperti Slalom, Drifting, Speed Offroad dan Turing, ternyata menurutnya Drifiting adalah yang paling menarik.

Mengapa begitu excited dengan Drifting?

Drifting itu menarik karena ada unsur keindahannya. Orang yang nonton itu bukan cuma lihat balapannya, tapi ada entertainment-nya. Jadi pembalap dan penonton sama-sama seru. “Serunya karena ada seninya, selain memang adu kencang tapi juga ada adrenalin rush-nya karena bisa mepet-mepet lawan.

Dari sekian banyak mobil kompetisi yang pernah dipakai, mana yang menurut Alinka paling berkesan?

Apa ya? Ooh.. belum lama nyobain mobil drift yang baru dibeli tim Hotel Grand Mutiara Pangandaran, Nissan 200 SX. Mobilnya ‘ngejambak’ banget. Padahal jeroan mesin 2JZ-nya masih belum full spec dan cuma pakai dogbox sequential. Tapi rasanya gila banget.

Soal kompetisi balap Nasional, apa harapan khusus dari seorang Alinka Hardianti?

Secara pribadi sih saya pengennya kompetisi balap di sini nggak berhenti di Nasional saja. Supaya pembalapnya juga semakin go international dan didukung atau dijembatani pemerintah lewat IMI (Ikatan Motor Indonesia). Kalau bisa ada pembibitan pembalap muda untuk melatih bakatnya supaya dapat lebih berprestasi.

Untuk karir sebagai pembalap di tanah air, bisakah balapan menjadi sebuah mata pencaharian?

Bisa saja sih, asal tergabung di tim besar. Alhamdulillah selama ini dengan Toyota Team Indonesia (TTI) sudah berjalan delapan tahun bisa mencukupi kebutuhan hidup plus liburan bareng teman-teman. Hahahaaa..

Sebagai seorang wanita, apakah terus ingin berkarir di dunia balap setelah berumah tangga nantinya?

Maunya sih terus balap, cuma ya bagaimana nanti suaminya. Biar bagaimana pun kan Istri harus nurut sama Suami.

Balap ini kan nggak mungkin seumur hidup. Apa rencana kamu setelah pensiun? 

Rencana bisnis sih sudah ada. Tapi masih belum bisa di publish sekarang. Yang jelas ada satu perusahaan BUMN yang tertarik dengan bisnis ini.