Tak ada habisnya bukti bahwa Anda bisa menciptakan apapun tanpa mengenal motor yang dijadikan donornya. Membangun sebuah flat track dari sports bike fairing. Kenapa tidak? Transformasi besar semacam ini kembali lahir dari tangan dingin kreator bernama Arnessto Rico dalam proyeknya bersama Gearhead Monkey Garage (GMG) merombak seunit Kawasaki Ninja 250.

Mengawali pertemuan saya dengan Rico untuk membicarakan motor ini, saya bertanya, “Apakah Anda sudah memberinya nama?” Belum, jawabnya sambil melihat hasil kerjanya sendiri yang mengisi workbench di gerai GMG. Tanpa bermaksud mendahului empunya, tapi saya benar-benar ingin menjuluki Kawasaki Ninja 250 Flat Track ini sebagai “The City Rebel”.

Alasannya sederhana. Motor ini dibuat untuk melenggang di jalanan kota. Dan ia “membangkang” dari kodratnya sebagai sports bike sampai akhirnya punya wujud seperti hasil akhir ini. Selama pertemuan, Rico banyak bercerita mengenai proses pengerjaan motor ini yang memakan waktu cukup singkat, sekitar dua bulan. Dalam prosesnya ada prinsip yang coba dipegang.

Yaitu setiap ubahan sebisa mungkin mempertahankan kemudahan berkendara motor ini. Terutama untuk di kawasan urban yang terkenal dengan lalu lintas padatnya. Well, pada poin ini Rico cukup berhasil. Meski setiap komponen kaki-kaki menggunakan limbah motor besar Triumph Speed Triple, namun panjang wheelbase tetaplah terjaga proporsional. Motor gampang diajak bermanuver.

Pemasangan komponen kaki-kaki ini diakui Rico sebagai salah satu tahapan yang menantang. “Pro arm ini punya motor gede, tapi kita harus memasukkannya ke rangka yang tergolong kecil. Jadi banyak ubahan yang kita lakukan di sana,” terangnya. Untuk diketahui, bukan hanya di belakang, namun front end juga memanfaatkan komponen dari Triumph Speed Triple.

Pemasangan komponen-komponen tadi membuat hasil akhir motor begitu gagah berdiri. Sementara itu penampilan visualnya didominasi warna hitam dan terdapat sapuan livery klasik hijau khas Kawasaki mengisi sisi samping bodi. “Jadi meski motor dan komponennya cukup modern, tapi ada kesan retro. Karena pada dasarnya motor flat track populer di masa lalu,” terang Rico.

Bagi GMG, Kawasaki Ninja 250 Flat Track dimaksud punya arti spesial. Karena ini adalah eksperimen pertamanya bermain dengan motor kecil. Meski demikian hasil akhirnya tidak kalah mentereng dengan deretan motor-motor besar yang terparkir di dalam gerai yang berdiri di Jl. Kapten P. Tendean tersebut.

Sebuah langkah cerdik pula dilakukan oleh GMG dalam memilih Kawasaki Ninja 250 lansiran 2010 yang masih menggunakan karburator. Karena sudah pasti memudahkan proses pengerjaan kustomnya dibanding varian lebih baru yang sudah injeksi. Ruang bakarnya pun dibiarkan standar dengan hanya memanfaatkan porting dan polish.