Ria Enes dan bonekanya Susan. Jika Anda paham betul soal dua tokoh kanak-kanak ini mungkin saat ini Anda telah menginjak usia kepala 3 dan mulai menjaga konsumsi makanan yang Anda makan demi kesehatan.

Awal medio 1990-an, Ria Enes dan Susan merupakan salah satu tokoh yang saat itu menjadi idola anak-anak Indonesia. Di masanya, Susan kerap melontarkan cerita menarik yang selalu menginspirasi dan memberi semangat pada anak-anak untuk meraih cita-citanya saat sudah besar nanti.

Meski Susan hanyalah sebuah boneka, namun pada kenyataannya banyak anak-anak saat itu yang menganggap Susan hidup dan bisa berbicara. Pasalnya Susan kerap bercerita dalam logat bahasa Jawa Timur yang kental berkat kepandaian Ria Enes dalam mengisi suara Susan dalam setiap kesempatan.

Kini dalam sebuah kesempatan bersama seremonial Closing Datsun Rising Hope 2 di Jakarta, Senin (27/2), Ria Enes dan Susan tampil kembali dalam acara penutupan dan pemberian hadiah bagi anak-anak berprestasi yang memenangi sebuah lomba menulis yang dibuat oleh PT Nissan Motor Indonesia (NMI).

Ada yang menarik dalam penampilan Ria Enes dan Susan kali ini. Walaupun ‘fisik’ Susan tak berubah sejak 27 tahun lalu, namun Ria Enes yang kini tengah berusia 48 tahun tetap tampil cantik dan enerjik mirip dua dekade lalu.

Pendidik anak-anak lewat sebuah karya audio dan visual di radio dan televisi zaman itu masih terus menyampaikan pesan semangat dan mendidik untuk anak-anak kecil masa kini ditengah serangan kecanggihan teknologi lewat gadget. Wanita kelahiran Malang, 29 Juni 1968 tersebut mengatakan membaca amatlah penting bagi perkembangan pendidikan anak Indonesia.

“Tak bisa dipungkiri, kini gadget memiliki peran penting di hampir setiap keluarga Indonesia. Lewat gadget, beberapa orang tua mengaplikasikan kecanggihan teknologi tersebut untuk mendidik anak-anaknya dirumah,” ungkapnya saat mengisi acara Closing Ceremony Datsun Rising Hope 2.

Ria Enes menambahkan, peran orang tua begitu penting bagi pola pikir pendidikan anak. Ada baiknya para orang tua tetap memberikan buku bacaan fisik kepada anak-anaknya sebagai bahan pembelajaran dirumah. Karena menurut Ria Enes, membaca itu merupakan dasar dari pendidikan untuk anak-anak untuk mengenal lebih banyak hal di dunia.

“Di satu sisi, lewat gadget beberapa bacaan dengan mudah didapat secara instan untuk anak-anak yang hidup di kota-kota besar. Sementara di pedalaman, dimana segalanya menjadi sangat terbatas dan sulit didapat, bisa membaca buku menjadi sebuah hal yang spesial bagi anak-anak yang hidup di golongan ekonomi masyarakat tertentu,” tambah Ibu tiga anak tersebut.

Dengan apa yang dilakukan oleh NMI lewat kegiatan Datsun Rising Hope 2 ini menurut Ria sangatlah berarti bagi masyarakat khususnya anak-anak di daerah terpencil. Dimana berbagai kendala harus dihadapi untuk mendapatkan pendidikan yang layak dari sekolah.

Mulai dari kekurangannya fasilitas penunjang seperti buku-buku bacaan, kondisi bangunan sekolah yang sudah kurang layak dan cenderung membahayakan para murid, hingga terkendalanya biaya untuk bersekolah bagi masyarakat ekonomi lemah.

Dalam Datsun Rising Hope 2, NMI telah melakukan lima hal yang begitu menunjang bagi kebutuhan pendidikan anak-anak di daerah. Yakni sumbangan sejumlah 12.546 buku, renovasi lapangan sekolah, renovasi taman bacaan daerah, pemberian beasiswa kepada 60 pelajar hingga kompetisi menulis surat  yang bertujuan untuk mendorong imajinasi anak.

Lewat Ria Enes, hingga kini Susan masih terus dapat bercerita untuk berbagi kepintarannya dengan anak Indonesia. Lewat membaca, Susan dapat menuangkannya menjadi sebuah kisah menarik yang akan terus disampaikan untuk anak-anak Indonesia masa kini dan masa yang akan datang.