Selain terlihat kusam, kabin mobil yang dibiarkan kotor berdebu terus menerus tentu akan mencitrakan seorang pemilik mobil yang jorok dan tidak memiliki kepedulian terhadap lingkungan sekitarnya. Tak sampai disitu, malas membersihkan kabin ternyata memiliki efek jangka panjang yang buruk terhadap kelangsungan umur komponen mobil.

Pada sistem penyejuk udara misalnya. Jika debu yang dibiarkan terus menerus menempel pada kabin kendaraan, berpotensi akan memperpendek umur salah satu komponen penting dalam sistem pendingin kabin tersebut.

Indikasi awal biasanya Air Conditioner (AC) mulai terasa kurang dingin. Ciri berikutnya, saat pertama kali AC dihidupkan, akan timbul bau kurang sedap dari ventilasi penyejuk udara saat udara dingin diembuskan.

Hal ini terjadi akibat evaporator atau cooling unit yang bertugas mengabutkan cairan panas freon bertekanan menjadi udara dingin pada bagian sisinya terselimuti residu yang berasal dari debu kabin. Paling utama, debu ini biasanya bersumber dari bagian bawah kabin seperti karpet dasar atau karpet alas kaki.

Akibat tertutup debu, maka pendinginan yang dihasilkan oleh evaporator ini tidak akan optimal. Jika didiamkan terus menerus, lama-lama evaporator tersebut akan mengalami kebocoran.

Rayizal Yamin, Kepala Teknisi dari Bambang AC Mobil menyebutkan, saat evaporator bekerja menyerap hawa panas dan kemudian mengeluarkannya dalam bentuk udara dingin, ada sebagian udara yang terdapat di sekitar kabin akan tertarik atau tersirkulasi ke bagian cooling unit.  Jika udara yang tertarik tersebut membawa partikel debu, maka akan menempel pada bagian cooling unit.

“Pada beberapa mobil keluaran terakhir, di bagian evaporator tersebut telah dilengkapi dengan filter kabin. Namun tetap saja dengan adanya bahan penyaring kotoran tersebut bukan berarti kondisi kabin tidak perlu dibersihkan. Apalagi dengan mobil yang belum dilengkapi dengan saringan, harus lebih rajin memperhatikan kebersihan kabin,” tambah Ray panggilan akrabnya.

Jika cukup lama residu tersebut dibiarkan menempel pada bagian dinding evaporator, lama kelamaan akan mengakibatkan kebocoran pada komponen cooling unit tersebut. Ini yang menyebabkan hilangnya udara dingin pada sistem pnyejuk udara saat diaktifkan.

Kebocoran pada evaporator, memang bisa diperbaiki dengan metode pengelasan alumunium pada bagian yang bocor. Namun jika terasa kebocorannya sudah terlalu parah, jalan satu-satunya untuk mengembalikan kesejukan udara di kabin adalah dengan mengganti cooling unit tersebut dengan yang baru.

Sekadar catatan, evaporator original lansiran Denso untuk Mitsubishi Lancer Cedia lansiran 2002-2007 di banderol seharga Rp 900 ribu per buah. Sementara untuk sebuah evaporator AC original Toyota Avanza generasi pertama dan kedua harus ditebus senilai Rp 1,1 juta.

Tentu bukan nominal yang sedikit untuk kondisi saat ini. Harga tersebut tentu belum termasuk biaya jasa bongkar pasang dan pembersihan jalur-jalur pendingin dan penggantian cairan freon yang berkisar mulai Rp 350 ribu – Rp 500 ribu.

Jadi sebaiknya perhatikan terus kondisi kebersihan kabin mobil Anda. Dengan kabin yang bersih, selain dapat memperpanjang umur komponen penyejuk udara juga akan memberikan kualitas udara yang baik pada seisi kabin.