Supernova memiliki arti sebuah ledakan dari suatu bintang di galaksi yang memancarkan energi lebih banyak daripada ledakan bintang biasa yang memancarkan sebuah sinar yang cemerlang. Arti kata tersebut membawa semangat khusus bagi Hafiedz Pahlevie dalam mendirikan sebuah bengkel modifikasi yang memutuskan untuk mengusung nama Supernova.

Di adu kebut trek lurus 402 meter, nama Supernova kian harum dengan prestasi-prestasi yang diukir dalam kurun waktu beberapa tahun terakhir. Sejumlah rekor waktu tercepat di Indonesia, berhasil diraih Supernova bersama tim balapnya.

Tampilan ruang mesin dipercantik dengan lapisan chrome dan metode wiretucked

Diantaranya D series Honda 12,856 detik, B series Honda 11,920 detik dan H series Honda 11,530 detik. Ketiganya merupakan varian all motor Honda tanpa tambahan induksi udara atau N/A (Normally Aspirated).

Sebagai seorang tuner, kepuasan Hafiedz tentu belum berakhir disini. Ia masih ingin membuat sesuatu hal yang spektakuler yang sebelumnya belum pernah ada di Indonesia. Hafiedz ingin menjadi seperti sebuah supernova yang mempunyai ledakan ekstra untuk memancarkan energi lebih dari biasanya.

Memaksimalkan pengereman, sistem penghenti laju milik Honda Prelude diadopsi ke kaki-kaki Brio

Namun bedanya, kali ini ia bukan ingin berkarya untuk membuat sebuah mobil kompetisi untuk diterjunkan khusus di arena balap. Melainkan sebuah mobil superkencang bertenaga besar yang bisa dipakai menjadi mobil harian.

Suspensi menggunakan Tein coilover demi memberikan redaman dan traksi terbaik

Sebuah Honda Brio baru, ia tebus setahun lalu dari diler untuk dijadikan basis operasinya kali ini. Citycar tersebut dirancang untuk melakukan transplantasi sumber tenaga baru yang lebih besar hasil cangkok dari Honda Civic Type-R!

Thai Look, kental akan aplikasi karbon di bagian interior dan eksterior

“Inspirasinya sih gara-gara sering lihat sosial media anak-anak Honda di Bangkok. Disana mereka bikin Brio yang kenceng-kenceng. Kebetulan di Indonesia belum ada, jadi kenapa engga kalo kita jadi yang pertama,” ujar Hafiedz.

Sebelum dipasang, mesin Civic Type R berkode K20A tersebut dibedah hingga ke jeroan bagian dalamnya. Hafiedz tak ingin mesin tersebut terpasang dalam keadaan standard, meskipun sesuai data spesifikasinya sumber pacu ini memiliki tenaga 200 dk dan torsi 232 Nm.

Hampir seluruh komponen mesin dipasok dari Amerika Serikat

Bagian blok mesin sengaja diganti milik K24A demi memasukan piston Arias 87 mm, setang piston Eagle dan metal ACL Bearings. Dengan komposisi jeroan diatas, kapasitas Brio ini melonjak menjadi 2.4 liter dengan rasio kompresi mencapai 10,5:1.

Di bagian kepala silinder, ubahan dilakukan di bagian noken as yang menggunakan Skunk 2 stage 3, per klep Skunk 2 dan retainer klep Skunk 2. Aliran udara yang masuk ke mesin diperbesar lewat intake manifold lansiran Skunk 2 Ultra Series dan throttle body K Tuned 90 mm. Sementara aliran gas buangnya diperlancar dengan mengadopsi produk lokal ORD Exhaust System yang secara khusus men-develop sistem gas buang Brio K24 ini.

Sumber tenaga yang besar tentu menuntut transfer tenaga yang optimal ke dua roda depan yang bertugas sebagai penggerak. Demi tercapainya traksi yang maksimal, Hafiedz menggunakan kopling set Ogura Single Clucth yang dipadukan dengan Limited Slip Differential (LSD) pada girboks 6-percepatan close ratio final 4,3 milik Type R.

Dengan power mesin yang maksimal, Hafiedz melengkapi bagian kabinnya dengan peranti yang dapat mendukung performa berkendaranya di kecepatan tinggi. Seperti tuas transmisi K Tuned Race quick shift dengan knob Legrima.

Untuk memantau kinerja mesinnya, Hafiedz mengaplikasikan AIM Dash Logger yang menggantikan fungsi speedometer aslinya. Sementara lingkar kemudi standard digantikan dengan Momo Tuner berlapis kulit.

Mengejar cengkraman optimal, pelek Advan RG II dipadu Toyo T1R

Hampir  tak ada kesulitan khusus saat merealiasiskan proyek Honda ‘Superbrio’ ini. Hafiedz menjelaskan hanya perlu waktu tiga minggu setelah mesin terakit untuk menaikannya ke ruang mesin Brio. Sementara beberapa sisi kompartemen terpaksa dipangkas untuk memberikan ruang bagi peranti-peranti yang menempel pada mesin K24A.

“Mobil ini tiap hari jadi transportasi saya untuk dari rumah ke bengkel. Pernah juga sekali dipakai mudik lho.. Sensasinya ya luar biasa punya mobil harian bertenaga 360 dk dengan torsi 340 Nm,” tutup Hafiedz bangga.

Hafiedz masih memiliki satu keinginan untuk menerjunkan Superbrio ini di kompetisi balap resmi drag race. meski dengan mudah mobil ini dapat berlari hingga 207 Km/jam, namun Ia masih penasaran berapa waktu tercepat yang dapat ditempuh mobil ini sepanjang 402 meter.

Faktor keamanan diutamakan lewat bucket seat karbon Java Composite dan safety belt Takata empat titik