Saat Juha Kankkunen merajai lintasan reli dunia di pertengahan hingga akhir 1980-an, mobil berbentuk coupe atau sedan dua pintu saat itu digandrungi mayoritas pereli dunia. Sebut saja mulai Celica GT-TS, Ford RS 200 hingga Audi Quattro S1 semuanya saling terdaftar dalam homologasi FIA dan berlomba di berbagai arena reli dunia.

Kemudian seiring berkembangnya mobil-mobil produksi massal di dunia, trend besutan reli pun ikut bergeser sesuai zamannya. Mobil pabrikan berbasis sedan empat pintu merajai lintasan gravel, salju dan tarmac sepanjang 1990-an.

Seperti Mitsubishi Galant VR4 besutan Kenjiro Shinozuka, Possum Bourne dengan Subaru Legacy hingga era perebutan gelar juara dunia yang dilakoni oleh Colin McRae versus Tommi Makinen bersama Subaru Impreza WRX STI dan Mitsubishi Lancer Evolution.

Dunia reli terus hadir mengikuti perkembangan industri otomotif yang terjadi di masing-masing pabrikan. Saat di belahan Eropa mobil berbasis hatchback makin digemari konsumen, dunia reli yang berkiblat di benua biru tersebut pun akhirnya mulai melombakan mobil tak berbagasi di ajang World Rally Championship.

Hyundai yang kembali hadir di 2014 lalu setelah absen sejak 2003 silam di reli dunia, mendaftarkan homologasi hatchback i20-nya sebagai besutan kompetisi melawan dominasi pabrikan negara lain, seperti Volkswagen Polo, Citroen C3 dan Ford Fiesta. Tak tanggung-tanggung, saat itu Hyundai menerjunkan hingga tujuh pembalap pembesut i20 di reli dunia 2014.

Di musim 2016 lalu, bersama new generation i20 atau i20 generasi kedua, Hyundai berhasil meraih posisi tertingginya sebagai juara kedua konstruktor di musim balap reli dunia. Hatchback racikan negeri ginseng ini membuktikan dirinya mampu bersaing melawan dominasi pabrikan lain yang telah lebih dulu eksis.

Prestasinya di dunia reli, membawa rasa penasaran kami soal bagaimana rasanya mengemudikan sebuah besutan reli yang di produksi massal untuk pasar Indonesia. Sengaja kami pilih varian All New i20 GL bertransmisi manual ini agar semakin kental hawa kompetisi reli di kabin hatchback seharga Rp 249 juta (OTR Jabodetabek).

Seperti ekspektasi kami, duduk didalam kabin i20 mirip seperti yang kami rasakan pada umumnya duduk di sedan Eropa. Hyundai yang memang berkiblat ke pasar benua biru tersebut memang merancang sedemikian rupa ruang kabinnya demi sebuah kenyamanan.

Material fabric berwarna hitam yang menempel pada jok, memberikan kenyamanan tersendiri bagi tubuh. Bahan model seperti ini memang tidak terlalu menyerap panas yang biasanya membuat bagian belakang baju menjadi basah saat terlalu lama bersandar. Apalagi ditambah dengan model semi-bucket yang mampu menyanggah tubuh secara prima saat duduk maupun bermanuver.

Saat Anda telah mendapatkan posisi ideal untuk mengemudi ataupun sekadar duduk di bangku depan, seluruh tombol-tombol pengaturan di seputar kolom kemudi dan dasbor begitu mudah digapai. Lingkar kemudi yang telah dilengkapi dengan pengaturan tilt dan teleskopik menambah mudahnya pencarian posisi paling ideal saat mengemudi.

Desain dasbor secara keseluruhan memang begitu sederhana, namun memiliki tampilan yang elegan. Mulai dari aksen silver di pinggir tombol headunit dan palang setir. Lingkar kemudi dan shift knob berlapis kulit serta kenop AC model putar.

Panel instrumennya pun begitu informatif. Bila Anda seorang pengemudi yang peduli dengan konsumsi bahan bakar, layar Multi Information Display (MID) di bagian tengah speedometer mampu memberikan data statistik mengemudi yang cukup akurat. Mulai dari jarak tempuh, sisa bahan bakar, konsumsi BBM hingga pengingat jadwal service.

Menikmati hatchback ini banyak caranya. Perjalanan keseharian Anda dari rumah ke tempat kerja pun bisa menjadi menyenangkan, asal tahu caranya. Putarlah lagu favorit Anda melalui layar sentuh multimedia yang dilengkapi dengan koneksi Bluetooth dan sistem navigasi.

Lalu nikmatilah perpindahan gigi demi gigi dari transmisi manual enam percepatan yang memiliki rasio perbandingan gigi rapat. Lalu bayangkan diri Anda menjadi seperti Thierry Neuville di lintasan reli yang sedang beraksi memindahkan tuas persneling sequential secara cepat.

Kendati ia tidak memiliki kapasitas mesin terbesar di kelasnya, namun sumber tenaga dengan isi silinder 1.368 cc MPI ini memiliki tenaga yang cukup andal untuk bertarung di padatnya perkotaan dan jalur antarkota. Hyundai mengklaim, mesin Kappa ini memiliki tenaga maksimum 98 dk dengan momen puntir 133 Nm.

Ada hal menarik lain yang dapat dinikmati dari sebuah Hyundai i20. Meski bersifat relatif, namun kami menyukai tarikan garis dari desainer Casey Hyun ini. Bayangkan jika seluruh emblem dilepas dari tempatnya, orang awam di Indonesia tentu tak akan menyangka mobil elegan ini adalah sebuah produk buatan Korea Selatan.

Bagaimana tidak, bagian haluan dan buritan mobil yang tampil dengan aksen garis tajam begitu terlihat futuristis. Apalagi bila sinar LED menggantikan pencahayaan halogen yang menjadi standar di lampu depan digunakan untuk mengimbangi lampu LED di bagian belakang.

Dari sisi samping pun Hyundai mengaplikasikan gaya floating roof dengan warna hitam di pilar C yang membuat atap terlihat tidak menyatu dengan struktur body bagian bawah. Belakangan rancangan seperti ini banyak digunakan pabrikan mobil mancanegara untuk memberikan kesan berdimensi besar.

Desain yang elegan juga hadir dari pelek palang enam ganda berwarna hitam dengan finishing polished di bagian pinggirnya. Demikian di bagian depan, grill honeycomb berbentuk hexagonal dilengkapi dengan list krom yang membuatnya terlihat ‘mahal’.

Bila berminat menimang generasi penerus Hyundai Getz ini, pertimbangkanlah lokasi layanan aftersales-nya.  Apakah tersedia dan mudah dijangkau di tempat tinggal Anda?

Namun yang menjadi catatan kami, untuk sebuah hatchback, Hyundai i20 memberikan kenyamanan dan keamana berkendara yang prima diatas para pesaingnya dari Jepang sekalipun. Dengan harga yang lebih terjangkau, besutan negeri ginseng ini hadir dengan built quality yang lebih baik daripada hatchback rakitan lokal yang kini ada di pasaran.