Tepat satu abad lalu (1914 – 1917), Sir Ernest Shackleton, mencoba mencetak sebuah sejarah sebagai orang pertama yang melakukan perjalanan lintas benua ke Antartika. Namun nahas, pria berkebangsaan Inggris ini harus kehilangan kapalnya saat perjalanan belum berakhir akibat karam di lempengan es diatas laut.

Akhirnya Shackleton bersama timnya yang terdiri dari beberapa penjelajah dan lima orang berlayar sejauh 800 mil diatas lautan terbuka penuh badai ke tempat tujuan akhir. Di tempat tujuan akhir inilah Shackleton dan tim penjelajahnya berhasil di evakuasi oleh regu penyelamat dalam kondisi dingin yang mencekam.

Untuk merayakan 100 tahun kesuksesan perjalanan dari tim penjelajah Shackleton, para cucu dari mendiang tim penjelajah Shackleton mengulang perjalanan serupa mengunjungi Antartika, namun menggunakan  sebuah Hyundai Santa Fe diesel yang telah dimodifikasi khusus.

Adalah Patrick Bergel, cucu dari Sir Ernest Shackleton yang memimpin tim perjalanan ini bersama timnya dan Hyundai. Perjalanan ini juga menjadi sebuah cetakan sejarah baru bagi Hyundai, dimana ini adalah kali pertamanya sebuah mobil penumpang datang melintasi beberapa benua ke Antartika.

Semangat ketahanan inilah yang ditunjukkan oleh Shackleton yang mengilhami Hyundai Motor untuk mengunjungi Antartika dan memungkinkan anggota keluarganya menyelesaikan apa yang telah dimulai lebih dari 100 tahun yang lalu dengan melakukan perjalanan dari Union Camp ke McMurdo dan kembali lagi.

SUV diesel berkapasitas 2,2 liter tersebut tak dibiarkan dalam kondisi standar sepenuhnya. Sejumlah modifikasi dilakukan agar Santa Fe mampu bertahan melintasi medan berkondisi ekstrim, mengingat belum pernah ada satupun mobil beroda yang melewati jalur ekpedisi ini. Diantaranya ban berdiameter besar yang mampu menampung angin bertekanan rendah dengan tapak khusus jalur es serta overfender besar yang mampu menghalau cipratan es ke bagian kaca.

Namun secara keseluruhan, Santa Fe ini bisa dbilang masih dalam kondisi bawaan pabrik. Seperti mesin, transmisi, sistem manajemen mesin hingga as roda penggerak seluruhnya adalah bawaan pabrik perakitan Hyundai.

Perjalanan selama 30 hari ini menempuh jarak total hingga 5.800 Km dan melintasi berbagai medan. Mulai gundukan salju, es hingga trek berpasir yang diselimuti salju. Tim ekspedisi dan mobil diharuskan mampu bertahan untuk berjalan di suhu udara yang sangat dingin, yakni -28 derajat Celcius.

“Perjalanan ini begitu mengesankan, mobil yang kami kendarai juga sangat nyaman dikendarai. Mengemudikan Santa Fe ini juga tak sulit, meski terkadang rasanya seperti berseluncur diatas es yang licin. Namun secara keseluruhan, ini adalah sebuah perjalanan ketahanan yang mumpuni dan layak dilakukan untuk mengenang apa yang telah leluhur kami lakukan 100 tahun lalu,” ungkap Patrick Bergel.

Bergel menambahkan, sebagai orang yang bukan memiliki jiwa penjelajah, melakukan perjalanan ini sejujurnya begitu sulit. DImana kami dan tim harus beradaptasi terhadap suhu ekstrim dan mobil juga dituntut untuk mumpuni mengantar kami berekspedisi.

Perjalanan tim dimulai dari gletser Union melintasi gletser Leverett. Kemudian para tim dan Hyundai Santa Fe harus melewati pegunungan Trans Atlantic yang terkenal bersuhu sangat rendah bebrapa ribu meter diatas permukaan laut. Lalu sebelum mencapai Mc Murdo di Kutub Selatan, tim ekspedisi harus melintasi jalur gunung merapi Erebus dan padang es Ross Shelf.

“Momen ini begitu berarti bagi kami para cucu dari tim ekspedisi Shackleton. Kami berhasil melintasi jalur yang sama untuk mencapai tujuan akhir, serta merasakan betul suasana di tempat yang sama satu abad lalu saat mencapai Mc Murdo dari Union Camp,” tambah Bergel.

Tentunya perjalanan ini berlangsung bukan tanpa hambatan. Sejumlah kendala teknis sempat terjadi pada SUV yang telah dimodifikasi tangki bahan bakar dengan pemanas berkapasitas 250 liter ini. Namun Bergel dan personil tak mudah menyerah dan berhasil menanggulanginya serta melanjutkan perjalanan hingga akhir.