Fungsi klakson terbilang begitu penting saat berada di situasi lalu lintas yang padat. Selain untuk memperingati kendaraan lain akan kehadiran kendaraan yang Anda kemudikan, fungsi klakson terlihat begitu penting saat Anda mengantisipasi kendaraan roda dua lain yang terkenal berseliweran dekat kendaraan Anda.

Namun memencet klakson tentu ada etikanya. Tidak sembarang main pencet yang ujung-ujungnya akan membuat pengendara lain kesal dengan suara klakson dari mobil Anda.

Vincent Lo, General Manager PT Sarana Berkat sebagai agen tunggal Hella di Indonesia berbagi sedikit pengetahuannya soal etika berklakson di jalan raya. “Pertama jangan terlalu sering memencet klakson, karena akan terasa sangat mengganggu bagi pengendara lain. Jika kita balik kondisinya, Anda terus-terusan diklakson oleh pengendara lain, tentu akan mengesalkan,” ujar Vincent.

Lebih lanjut Vincent menjelaskan, yang kedua adalah ritme pencetan klakson. Idealnya fungsi klakson adalah untuk member tanda bagi pengendara lain, maka sebaiknya ritme pencetan klakson baiknya secara pendek saja. Tak perlu memberikan klakson bernada panjang yang mampu membangkitkan emosi pengendara lain.

“Terakhir adalah tingkat kebisingan suara klakson. Dalam sebuah peraturan Undang-Undang Lalu Lintas, tingkat kebisingan suara klakson sudah diatur dalam angka maksimal 118 db. Klakson yang terlalu bising akan memekakan telinga pengguna jalan lain, sehingga mengganggu,” tambah Vincent di gedung Sumber Berkat Group, Selasa (13/6).

Jadi bila Anda mengganti klakson standar kendaraan Anda dengan produk aftermarket, pastikan tingkat kebisingan suaranya tidak menyalahi aturan. Demikian soal saat Anda memencet klakson mobil, pastikan sesuai etika agar tidak mengganggu pengguna jalan lain.