Gemar menaklukkan medan off-road ringan sembari melakukan lompatan kecil di atas sepeda motor? Gandrung sama tampilan motor jalan raya yang agresif dengan postur jangkung, ban tahu plus stang lebar? Berarti selera Anda sebelas dua belas dengan Chris Pratt di film Jurassic World atau David Beckham yang menjelajahi pedalaman Amerika Selatan di atas motor bergenre Scrambler.

Sejatinya, Scrambler mulai mengakar mulai era 50-an. Saat itu marak digelar adu pacu roda dua dari titik A ke B melalui beragam karakter jalan dan pemenangnya dipilih berdasarkan waktu tempuh tercepat. Para peserta harus memodifikasi motornya agar mampu melahap padang rumput, melibas lumpur hingga mendaki bukit. Tak ayal travel suspensi harus didongkrak, jok dipangkas, knalpot dipasang lebih tinggi serta mengadopsi ban off-road.

Namun sejak popularitas motocross semakin berkembang di medio 60, banyak pabrikan yang mulai memproduksi motor-motor yang khusus digunakan di medan off-road. Hal ini membuat pamor motor jalan raya yang dimodifikasi menjadi scrambler secara perlahan meredup. Kendati demikian, Scrambler masih punya penggemar tersendiri. Fenomena ini terus membahana setelah tangan-tangan kreatif custom builder mengabadikan pakem Scrambler pada motor-motor ubahannya.

Hingga akhirnya beberapa pabrikan melirik pasar nostalgia ini dan memproduksi motor dengan pakem dimaksud di era 2.0. Sebut saja Ducati dengan Scramblernya, Moto Guzzi yang melansir Stornello Scrambler, BMW lewat R nineT Scrambler hingga Triumph yang menghadirkan Street Scrambler.