Insiden maut pada balapan Sunday’s IndyCar yang mengakibatkan pebalap Justin Wilson meninggal dunia, Minggu (23/8) memicu kembali wacana penggunaan kokpit berpelindung pada balap mobil single seater kelas profesional. FIA pun kembali berencana melakukan uji coba konsep tersebut bulan depan.

Pada balapan yang digelar di Pocono Raceway, AS tersebut, mantan pebalap F1 berusia 37 tahun tersebut sempat menderita cidera fatal di bagian kepala akibat menghantam puing-puing dari mobil Sage Karam yang mengalami insiden di depan Justin.

Wacana penggunaan kokpit berkanopi layaknya pesawat tempur memang bukanlah barang baru di dunia adu cepat jet darat. Selama bertahun-tahun, setidaknya ada dua masalah yang menunda terwujudnya konsep tersebut.

Pertama, seandainya terjadi kecelakaan, serpihan bahan polycarbonate yang disarankan sebagai material kanopi dikhawatirkan bisa mengakibatkan cider pula bagi penonton.  Kedua, kekhawatiran FIA yang lebih besar ialah kesulitan mengeluarkan pebalap dari kokpit pada situasi genting. Hal ini bisa mengakibatkan tertundanya penanganan medis.

Mengutip situs Motorsports, tim-tim yang berlaga di Formula 1 malah menganggap penggunaan kanopi pada kokpit mengurangi unsur olahraga pada balapan itu sendiri.

Namun, di tengah pro-kontra tersebut muncul ide pelindung kokpit dengan bentuk blade atau bilah. Struktur bilah itu dirancang untuk melindungi bagian depan kokpit tanpa menghalangi jalan keluar bagi pembalap.

Masih menurut Motorsports, kebetulan para kepala teknis tim F1 telah berdiskusi dengan FIA dan mendapat persetujuan mengenai konsep ini. Sebagai gambaran, tim Mercedes telah mengajukan rancangan evolusi pelindung kokpit model ini dengan desain halo-style yang bisa melindungi sekeliling kokpit.