Ali-Adrian-Moto2-7

Pendidikan dan pembinaan anak pada usia dini memang menentukan hasil yang akan dicapai di hari depan. Mungkin Erin Rusmiputro dan Ina Noor adalah pasangan yang paling berbangga hati saat ini. Doni Tata Pradita dan Rafid Topan Sucipto adalah pendahulu putranya yang kini sedang meniti karir balap demi membela nama Indonesia. Ya, Ali Adriansyah Rusmiputro alias Ali Adrian adalah harapan baru kita di ajang balap Moto2. Yup, bila ia berprestasi di kelas ini, bukan mustahil bagi anak muda yang santun dan taat berribadah ini bisa naik kelas ke pertarungan para raja MotoGP. Beruntung thegaspol.com sempat mewawancarai warga Bintaro, Tangsel kelahiran 29 September 1993 ini di sela kesibukan dalam rangka persiapannya terjun di Moto2 seri 2015.

Ali-Adrian-Moto2

Adrian, apa sih latar belakang pendidikan kamu?
Awal sekolah saya di An-Nisa, Bintaro. Lalu dilanjutkan ke SMP di Kharisma Bangsa, Pondok Cabe dan Home Schooling – Kak Seto. Lalu tidak kuliah karena ikut balap. Haha..

Sejak kapan kamu mulai sadar bahwa kamu punya bakat di balap sepeda motor?
Mungkin ayah saya yang melihat bakat ini. Seiring dengan belajar sepeda,  umur 3,5 tahun saya sudah dibelikan Yamaha PeeWee 50cc untuk mengisi waktu weekend dan pulang sekolah. Karena bapak melihat saya nampak suka dan serius. Lalu ia membuat sirkuit kecil di lahan kosong dekat rumah. Dan kemudian lama kelamaan kami dibelikan motor KTM 50.

Ali-Adrian-Moto2-1

Lalu kami pernah dengar dari ayah kamu, bahwa kamu punya cerita lucu dengan sebuah ATV. Bisa diceritakan?
Ya, saat saya sudah mulai bosan naik motor kecil Ayah sempat membelikan ATV Suzuki 50cc. Nah, saat itu saya mulai eksperimen dengan menyiram lantai garasi dengan air sabun. Alhasil saya melakukan beberapa kali gerakan sliding. Dari situ ayah saya diam-diam memperhatikan bahwa saya tak menyenggol barang-barang apapun di dalam garasi. Ia semakin yakin bahwa saya punya bakat di motorsport.

Apakah ada unsur ambisi orang tua (diceburin) atau memang minat dari diri sendiri yang memutuskan kamu ingin jadi pembalap?
Ayah saya memang tak pernah memaksa anaknya ikut jalur motorsport. Walau jaman dulu ia sempat ikut beberapa ajang reli nasional dan ibu saya juga pernah ikutan Country Rally di Copenhagen, Denmark. Jadi aslinya darah otomotif sudah mengalir di keempat anak laki-lakinya. (Adrian nomor dua dari empat bersaudara). Dan sebenernya kami (saya) enggak diceburin juga sih. Cuma karena ayah senang dengan itu, ya kami sebagai anak ikut saja.

Ali-Adrian-Moto2-8

Bagaimana cara ayahmu mendidik anaknya?
Kami dibiasakan bangun pagi setiap hari untuk olah raga. Entah itu renang, tennis ataupun lari pagi. Mesi malamnya kami habis tidur larut malam, paginya tetap saja harus olah raga. Apalagi weekend, tentu jadwal olah raga ini makin padat.

Nah, weekend itu biasanya diisi apa?
Dulu waktu SD saya sering bermain Go Kart di sirkuit Redline Pondok Indah. Ini kebetulan karena pemiliknya masih teman dekat ayah saya. Lalu SD kelas 5 saya mulai main motocross di sirkuit tanah Bintaro.

Ali-Adrian-Moto2-5

Sebagai anak kecil, pasti kamu punya kenakalan tersendiri dong? Ada cerita lucu?
Dulu yang lucu keempat anak cowok ini ‘membajak’ mobil ayah untuk balapan di sekitar rumah. VW Caravelle dan Jeep Cherokee milik ayah diam-diam kami keluarkan dari garasi. Dengan diganjal bantal, si adik memindahkan gigi dan saya yang nyetir dan injak gas. Tak heran bila kini tiga orang anaknya berkecimpung di dunia balap. Ada tiga yang di dunia olahraga, saya di Motor, anak ketiga di Go Kart Inggris dan yang bungsu dapat beasiswa Tennis. Sementara yang pertama menjalankan bisnis di perusahaan penyewaan Helikopter milik ayah saya.

Well, bagaimana titian karir kamu di balap motor?
Setelah beberapa kali mengikuti balap Nasional, mulai dari pasar senggol hingga kelas Supersport 600. Akhirnya tahun 2013 ayah saya mulai serius menerjunkan saya ke Eropa dan bermukim di Spanyol. Kami memutuskan untuk terjun di Eropa. Di European Junior Cup jelas bukan untuk bersenang-senang, dan sudah pasti kami akan berjibaku. Ketua IMI dan Mempora bilang, “Bila kamu bisa 15 – 20 besar saja sudah hebat, dan eksposure media akan terus bergulir.”

Ali-Adrian-Moto2-9

Jadi cari posisi 15 – 20 besar saja?
Tentu tidak, saya terus latihan hari demi hari agar melampaui 20 besar. Alhamdulillah saya bisa tembus urutan satu terus setiap trial di European Junior Cup. Dan ketika race, ekspektasi terus meningkat hingga lima besar. Nah, di sini uniknya. Orang Eropa tahu sekali kalau orang Asia bakal potensial untuk ‘dijual’. Karena sponsor Asia dan masyarakat sepeda motornya jauh lebih besar dari Eropa. So, akhirnya saya dipromosikan di Superstock Series.

Bagaimana cerita pertemuan kamu dengan sang legenda David Garcia?
Masuk di Superstock Series inilah, saya test dengan pabrikan Suzuki. Di sini saya bertemu dengan Simon Crafar. Hasil di Suzuki ini ternyata di luar ekspektasi Simon. Akhirnya dia merekomendasikan saya ke David Garcia.

Ali-Adrian-Moto2-6

Bagaimana setelah itu?
Semangat saya tentu saja membara, karena dipertemukan dengan David Garcia sebagai manajer saya. Mantan pembalap MotoGP era tahun 70-an dan pemilik sirkuit Almeira ini akhirnya memanggil saya untuk datang ke sirkuit jam 12 siang. Yes, saya sudah datang sejak jam 8 pagi. Saya bertanya kepada David, “Bisakah saya pinjam atau sewa motor untuk latihan?”.  David pun menjawab, “Tidak mungkin saya menarik uang dari anak Asia yang tinggal di antah berantah,” Akhirnya saya disuruh naik motornya. Honda CRF100cc yang dirancang sebagai sliding bike adalah tunggangan pertama saya. Ya sliding bike adalah basic dari semua balap sepeda motor, yang mana sayang sekali tak pernah kita jumpai di tanah air.

Lalu apa fungsi sliding bike itu?
Latian dengan sliding bike itu sangat penting. Saya disuruh latihan dasar seperti membuat angka 8. Hari pertama saya jatuh 10 kali, namun hari kedua makin berkurang dan hingga tak jatuh sama sekali di hari ketiga. Dari situ ia melihat potensi saya dan ia mulai membuat kontrak kerjasama dengan saya.

Ali-Adrian-Moto2-10

Lalu Anda sign kontrak itu? Apa kesan beliau?
Waktu itu sempat ada dua pilihan besar yang ditawarkan ke saya. Saya disuruh pilih Superstock yang natinya penjenjangan ke World Superbike. Atau kalau ambil jalur David, saya bisa lanjut ke  MotoGP. Untuk pilihan pertama lewat Simon Crafar, saya sebenarnya sudah bisa dapat uang dan tinggal berangkat kejuaraannya. Tapi kalau memilih arahan David, saya masih ada tugas cari sponsor dari Indonesia. Ayah saya bilang, tentu kita bakal kerja keras untuk cari sponsor. Tentu saja saya tak ingin orang tua saya keluar uang sendiri. Beruntung bagi saya, Pertamina mau menjadi sponsor.

So, apa persiapan kamu menuju Maret 2015?
Kami di bawah tim Pertamina Indonesia akan mengerahkan seluruh upaya. Kami latihan fisik maupun mental. Di balap ini mencakup fisik dan mental di atas motor. David Garcia tidak paham apa-apa tentang mental. Karena di Spain itu prinsipnya nomor 1.  Ya nomor 1. Just go!

Ali-Adrian-Moto2-11

Latihan mental dan fisik seperti apa yang kamu lakukan?
Mental itu mencakup mental harian, latian dan bertanding. Kalau kita terus membangun mental kita di atas motor itu akan terbawa sampai di lintasan. Bangun pagi – tidur cepat itu akan membangun alam bawah sadar. Confidence tidak bisa dibangun dalam satu hari. Mental diset buat balap dan whole season. Ini tak akan miss bila kita terus bentuk. Sekali lagi saya bertuntung dengan peace of mind yang saya dapatkan, dimana keluarga mendukung dan semua orang di belakang saya full support. Apalagi dapat sponsor dari one of the biggest company di Indonesia. Ini jelas menambah confidence.

Apa metode didik David Garcia? Ada yang spesial?
Karakter dan gaya tetap dari masing-masing pembalap. Tapi David menekankan di urusan mengubah merubah mind set. Sebut saja saya test pakai GSX 600 standar bisa lolos 1.44 detik. Itu semua standar stock pabrik. Lantas dia menyuruh aku untuk sanggup mencapai 1.42 detik di September tahun depan. Padahal kalau saya tak diberi motor standar bisa saja saya tembus 1.42 detik. Saya tinggal request motor setingan balap dari mesin hingga suspensi. Tapi David menolak, ia lebih suka yang berbau proses ketimbang instant.

Ali-Adrian-Moto2-3

Mengapa? Dan apa intinya?
David ingin kita bertumbuh secara natural dan slowly. Dia tak ingin kita turun langsung 1.42 detik. Contoh saja Tito Rabat. Dia pelan-pelan merangkak dari posisi belakang ke depan. Bukan 1 lap show saja. Ini urusan 25 lap show! David ingin kita sabar, ia tak mau kita terlalu push dan ada stress. Jadi at the end of September 2015 kita dapet 1.42 detik dengan santai. Tidak ada push dan stress. Jadi kita mencapai target dengan 70 – 80 persen.

Jadi apa sih yang ada di pikiran ketika mencapai titik ini?
Sebenarnya ada konsekwensi saat kontrak diterima. Jadi waktu membaca kontrak itu ada tiga hal yang di luar kontrak. David bilang aku harus tinggal di Spain, latihan setiap hari dan ikuti semua peraturan saya . Tahun 2010 aku punya mimpi, aku pengen tinggal di Spain, latian motor tiap hari dan balap di Moto2. Itu bukan halangan, semua dimiliki, pas banget. Jadi let’s go! Hahahaha.

Ali-Adrian-Moto2-2

Apa yang paling berkesan dari persahabatan dengan Tito Rabat?
Tito rabat adalah one of the richest man in Spain. Ayahnya juga pengusaha jewelry dengan nama Rabat. Jadi waktu dia menang di Sepang aku langsung diberikan hadiah jam tangan Richard Mille (RM).

Apa moto hidup kamu?
SEMERU! Semangat Merah Putih!

Lalu apa kunci sukses di mata kamu?
Ada tiga hal, Puasa, Sholat Malam dan Sedekah.