Senang rasanya punya partner yang dapat diandalkan setiap waktu. Bagaimana tidak, ia selalu siap mendampingi Anda 1×24 jam setiap hari, ia juga gesit dan dapat diajak kemana saja Anda mau. Apalagi, ia juga bisa membuat Anda nyaman di setiap kondisi. Hampir bisa dikatakan, ia belum pernah mengecewakan Anda hingga kini.

Well,  mungkin inilah relationship yang didambakan orang-orang di dunia. Dimana sebuah hubungan tercipta antar dua belah pihak yang erat kaitannya akan rasa keberuntungan dan dapat diandalkan. Namun hubungan  yang dimaksud bukanlah bersama seorang lawan jenis pasangan hidup, melainkan antar sebuah mobil dengan pemiliknya.

Percaya nggak sih, meski mobil adalah sebuah benda mati, terkadang ia juga menuntut perlakuan yang tak kalah dengan manusia. Bahkan beberapa orang merasa mobil itu punya ‘nyawa’ layaknya makhluk hidup.

Seperti partner saya kali ini, sebuah Audi A3 Sportback 1.2 TFSI. Dengan ‘nyawanya’, ia berhasil menemani saya beberapa hari ini tanpa memberikan satupun kekecewaan.

Hari-hari saya berjalan seperti biasanya. Aktivitas ke tempat kerja, menjadi menu utama hari ini. Namun saya punya agenda lain hari ini, yakni memenuhi sebuah undangan dari penyelenggara pameran otomotif akbar dalam rangka mempresentasikan kegiatan eksebisinya selama 10 hari. Usai urusan pekerjaan beres, saya kerap duduk bareng menemui kawan dekat di tempat kopi favorit demi menjaga tali pertemanan.

Bagi sebagian orang, rutinitas saya kadang menimbulkan kecemburuan. Bagaimana tidak, dengan jam kantor yang tidak mengikat, saya sering menghabiskan waktu di beberapa tempat dalam sehari untuk berbagai macam kepentingan. Mulai dari urusan dengan tingkat urgensi tinggi (dalam hal ini pekerjaan), hingga urusan tidak penting seperti menjumpai kawan di berbagai tempat untuk bersosialisasi yang berujung pada eksistensi.

Rutinitas tersebut, menuntut saya untuk ber-partner dengan sebuah kendaraan yang mampu memenuhi aspek akomodasi dalam sebuah alat mobilisasi. Seperti efisien dalam urusan bahan bakar tapi nggak power-less, nyaman dan yang terpenting fun to drive.

Pilihan saya pada Audi A3 Sportback 1.2 TFSI sebagai partner keseharian, sama sekali tidak salah. Pertama, mobil paling murah yang dijual oleh Audi Indonesia ini punya sumber tenaga 4-silinder berkapasitas 1.2 liter yang dilengkapi Turbocharger. Dengan teknologi sistem pasokan udara dan injeksi bahan bakar yang ditembak langsung keatas piston yang disebut Audi sebagai Turbo Fuel Stratified Injection (TFSI), mobil ini punya tenaga 112 dk dan torsi 175 Nm.

Sebuah mesin yang cukup bertenaga untuk sebuah mobil perkotaan dengan tingkat kehematan bahan bakar mencapai 12,2 km/liter bahan bakar untuk didalam kota dengan rata-rata kecepatan 20 km/jam dan 20,8 km/liter untuk di jalan tol dengan rata-rata kecepatan 90 km/jam sesuai dengan yang saya uji. Kendati butuh bahan bakar dengan oktan minimal 95 yang kini dijual Rp 10 ribu lebih, namun konsumsi bahan bakarnya terbilang irit. Artinya Anda tak perlu sering-sering mampir ke Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU).

Yang kedua adalah kenyamanan. Ya, meski ini adalah Audi entry level, namun ini tetaplah sebuah mobil yang punya build quality setara dengan seri lain yang lebih mahal sesuai standar pabrikan di Ingolstadt, Jerman.

Ia punya bahan pelapis kulit pada jok, dasbor dan plafon dengan kualitas premium yang sangat menyenangkan saat disentuh.  Bagi saya yang lebih sering menghabiskan waktu menelusuri jalan ibukota, kualitas rancang bangun kabin tentu perlu perhatian khusus. Bagaimana mungkin Anda betah duduk berlama-lama di kabin mobil bila menggunakan bahan kulit ala-ala pada pelapis jok yang dapat menimbulkan rasa panas di punggung.

Penggunaan nama Sportback pada varian Audi A3 1.2 TFSI ini bukan tanpa alasan. Rasanya duduk dan mengendalikan sebuah mobil sport dibawa Audi ke kabin hatchback A3 ini. Semisal penggunan jok model semi-bucket, secara kontan menghadirkan aura sportif saat berkendara.

Jok ini juga punya moda pengaturan elektrik di sisi kiri dan kanan depan, dengan mudah Anda dapat sesuaikan posisi mengemudi dengan kebutuhan postur Anda. Saya dengan tinggi badan 172 cm sangat menyukai posisi duduk yang hampir mencapai pilar B.

Caranya, turunkan jok serendah-rendahnya, lalu mundurkan posisi jok hingga batas maksimal jangkauan kaki Anda dalam mengakses pedal-pedal. Tegakkan sedikit sandarannya, lalu atur lingkar kemudi sedekat mungkin dengan fitur tilt and telescopic-nya. Dengan begini, melintas di sepanjang Jl. Arteri Pondok Indah rasanya bagaikan mengemudi di sebuah sirkuit balap atau melintas di rute reli tarmac bersama Audi.

Ada lagi sisi kenyamanan yang timbul dari sebuah mobil racikan Audi. Bagi saya yang pernah memiliki kendaraan buatan Jerman lain, duduk di dalam Audi terasa lebih menyenangkan. Mengapa demikian? Saat saya masih berpartner dengan mobil rancangan pabrikan Stuttgart, entah mengapa posisi pedal gas agak menjorok ke sisi dalam, akhirnya posisi kaki saat mengemudi cenderung mengarah kekiri dan cukup mengganggu saat perjalanan jauh. Kemudian partner lain saya yang merupakan sebuah mobil rancangan pabrikan bermarkas di Munchen, saya merasakan busa jok yang lebih keras. Akibatnya mengemudi jarak jauh atau lama terasa lebih kaku dan cenderung terasa panas pada punggung.

Bersama rekan sekerja yang juga menggemari kendaraan roda dua maupun roda empat, secara tak sengaja sering timbul gurauan seputar kegemaran kami. Seperti, “ada mobil yang dipikirin sebelum dibuat, ada juga mobil yang jadi pikiran setelah dibuat,”.

Audi adalah salah satu pabrikan yang termasuk dalam kategori “mobil yang dipikirin sebelum dibuat”. Mudahnya begini, saat duduk di dalam kabin A3 Sportback 1.2 TFSI, saya merasa apapun dimudahkan. Misalnya, mengakses kenop pengaturan Audi MMI di konsol tengah, mengakses tombol electric parking brake dan auto brake hold hingga mengakses tuas transmisi S-Tronic. Saat duduk pun posisi siku lengan bisa sedemikian rupa setinggi dengan handle tarikan pintu dan kompartemen konsol tengah. Anda jadi punya arm rest di sisi kiri dan kanan, mirip di sofa.

Sementara untuk kategori “mobil yang jadi pikiran setelah dibuat” bisa tercermin dari sebuah produksi mobil lokal harga murah hemat bahan bakar yang mengabdi pada program pemerintah tentang lingkungan hidup demi subsidi keringanan pajak. Benar-benar jadi pikiran rasanya mengemudikan mobil itu. Namun kembali, itu hanyalah sebuah candaan saat rehat makan siang bagi kami.

Kembali pada aspek ketiga, tentang fun to drive. Bagi saya, keasyikkan berkendara amatlah penting. Apakah ada makhluk hidup di bumi ini yang senang bila partnernya nggak asyik?

Keasyikkan berkendara ini memang masih erat  kaitannya dengan kenyamanan. Mengemudikan Audi A3 Sportback 1.2 TFSI sungguh menyenangkan. Mulai dari posisi duduk yang sudah saya impresikan diatas, blind spot yang sangat minim berkat model pilar A yang pipih dan model kaca spion yang menempel di pintu, serta kemudahan akses tombol-tombol di dasbor dan konsol akibat posisi duduk yang ergonomis.

Tingkat pengendalian terbilang cukup responsif. Gerakan setir terkomunikasikan dengan baik pada gerakan arah roda. Sehingga untuk bermanuver di kecepatan tinggi, Anda tak perlu risau hilang kendali. Dengan dimensi bodi yang kompak dan radius putar yang tajam, maka melewati jalanan sempit adalah sebuah pekerjaan yang mudah.

Sebagaimana produk-produk keluaran Jerman, ayunan suspensi terasa cukup keras. Apalagi karet bundar yang memeluk pelek ring 17 punya profil yang cukup tipis, yakni 225/45. Namun hal ini sangat dibutuhkan untuk menjaga stabilitas mobil ini di kecepatan tinggi.

Kendati demikian, tingkat kekerasan suspensi yang dihasilkan dari keempat roda Audi A3 Sportback 1.2 TFSI ini masih mampu teredam baik oleh ketebalan busa jok yang punya tingkat kekerasan cukup empuk.

Hatchback ini juga punya sistem tata suara yang disokong oleh delapan buah pengeras suara di dalam kabin. Lantunan lagu favorit terdistribusi dengan baik dan dapat memanjakan telinga seisi kabin. Tambah lagi, sebagai mobil yang dipasarkan di zaman modern, Audi A3 ini juga punya fitur koneksi Bluetooth yang dapat memutar lagu dari ponsel dan melakukan panggilan telepon.

Tak perlu kemampuan mengemudi tingkat tinggi untuk mengendarai Audi A3 Sportback 1.2 TFSI. Mobil ini dilengkapi dengan fitur-fitur canggih yang dapat menjaga keselamatan Anda dijalan. Seperti hill start assist with auto release function, automatic slip control differential, electronic differential lock, enam buah kantung udara dan sistem pengereman anti-lock brake system serta electronic brake-force distribution.

Jangan pernah meremehkan kepiawaian Audi dalam mengembangkan lampu mobil. Pasalnya Audi merupakan pionir dalam menciptakan sebuah signature LED Light yang tersemat didalam sepasang lampu utama. Seluruh sistem penerangan di Audi A3 Sportback 1.2 TFSI sepenuhnya sudah menggunakan LED pintar yang terintegrasi dengan sistem otomatik on/off termasuk untuk lampu kabut depan dan lampu belakang penanda posisi mobil saat hujan deras.

Bukan hanya mampu memberantas sisi gelap di sisi sekitar mobil yang berguna untuk berkendara malam hari, pancaran sinar LED ini juga cukup jelas dan memancing mata pengendara lain untuk betah menatapnya. Apalagi lampu tanda belok di sisi belakang sudah mengadopsi sistem Dynamic Turn Signal Indicator yang sangat atraktif.

Mobil ini juga punya perbedaan yang cukup signifikan diantara Audi A3 Sportback 1.2 TFSI lain di Indonesia. Tak jarang kami menjadi pusat perhatian orang-orang yang kami lalui berkat warna khusus kuning doff yang melekat pada sekujur bodi mobil ini.

Urusan barang bawaan, Audi menyediakan banyak kompartemen tertutup dan terbuka di sekeliling kabin. Ruang bagasipun cukup fungsional dengan pilihan kapasitas 380 liter atau bisa dua kali lipatnya saat jok belakang dilipat.

Audi terpaksa mengoreksi beberapa fiturnya guna menekan banderol untuk berjualan di tanah air, seperti tak tersedianya sunroof, sistem navigasi dan cruise control. Semestinya Audi Indonesia lewat PT Garuda Mataram Motor bisa menekan lagi harga jualnya yang kini mencapai Rp 655 juta. Padahal saat baru diperkenalkan tahun lalu, banderolnya ‘hanya’Rp 595 juta.

Pun demikian dengan layanan penjualan dan purnajual yang cukup terbatas di Indonesia. Mengingat Audi A3 Sportback 1.2 TFSI ini punya potensi sebagai daily use car bagi penggemar mobil Eropa garis keras, karena kompak, efisien dan punya mutu yang baik.

Tapi bagi saya, inilah partner terbaik meski harus rela merogoh kocek sedikit lebih dalam untuk menebus dan merawatnya.