Sebagai sebuah kendaraan, mobil juga memiliki beragam mitos yang masih dipercaya oleh beberapa pemiliknya hingga saat ini. Berawal dari perilaku yang sering dilakukan di masa lalu, beberapa kebiasaan tersebut hingga kini masih dilakukan oleh beberapa lapisan masyarakat pengguna mobil di Indonesia.

Padahal kenyataannya, apa yang dilakukan para pemilik terhadap mobilnya sudah tak perlu lagi dilakukan seiring perkembangan teknologi pada kendaraan. Beberapa diantaranya, malah dianggap salah kaprah.

Berikut beberapa mitos yang masih kerap dilakukan pemilik mobil di era modern ini.

Nissan March Facelift 6

Memanaskan Mesin Sebelum Berkendara

Tak sedikit pemilik mobil yang masih memanaskan mesin mobilnya hingga 10 sampai 15 menit sebelum digunakan, terutama di pagi hari. Dengan maksud agar temperatur mesin telah mencapai suhu kerja optimal saat berjalan dan putaran mesin sudah merata.

Di masa kini, cara tersebut sudah dianggap tidak efisien dan ketinggalan zaman. Selain memerlukan konsumsi bensin yang cukup banyak saat idle dalam waktu yang cukup lama, pada mesin mobil masa kini juga telah dilengkapi dengan beberapa peranti yang bertugas untuk meningkatkan suhu temperatur secara instan.

Diantaranya Thermostat, Idle Speed Control atau mekanisme peningkat putaran mesin saat mesin dingin hingga Cold Start Injection atau Cold Start Valve yaitu injektor tambahan yang bertugas memperkaya campuran bahan bakar saat mesin dingin untuk menstabilkan putaran mesin.

Edo Dwi Putro, Workshop Manager PT Garansindo International menyebutkan idealnya saat di pagi hari atau mesin masih dalam kondisi dingin, cukup memerlukan waktu satu menit saja selepas starter mesin lalu mobil bisa langsung dijalankan. Waktu tersebut sudah dirasa cukup dan aman bagi mesin untuk mendapatkan pelumasan ke seluruh bagian komponen yang memerlukan sebelum memasuki tahap putaran mesin yang lebih tinggi lagi berikutnya.

indikator-bensin-1

Menginjak Pedal Gas Sesaat Sebelum Mematikan Mobil

Sudah menjadi kebiasaan bagi beberapa orang untuk menginjak pedal akselerator terlebih dahulu sebelum memamtikan mesin mobilnya. Mitos yang berkembang biasanya hal ini dilakukan untuk mengisi setrum baterai selepas digunakan agar terisi penuh sebelum digunakan kembali.

Nyatanya salah.

Pada perkembangannya, sistem pengisian listrik mobil yang bersumber dari alternator masa kini telah dilengkapi dengan Integrated Circuit (IC) sebagai pengganti sistem Cut Out Regulator yang mengatur suplai listrik ke baterai secara otomatis. Komponen pintar tersebut memiliki rentang batasan yang aman untuk menjembatani perpindahan setrum optimal secara otomatis. Berbeda dengan Cut Out Regulator yang berfungsi secara mekanis dengan kemungkinan tingkat keuasan komponen lebih tinggi.

Artinya saat mesin idle pun suplai listrik tetap berjalan sebagaimana mestinya sesuai dengan kebutuhan pengisian baterai. Demikian saat putaran mesin berevolusi hingga puncaknya, komponen IC tersebut akan membatasi jumlah setrum yang masuk agar tidak kelebihan dan berbahaya bagi baterai.

Pada kenyataannya, perlakuan seperti ini hanya membuang-buang bahan bakar saja dan tidak effisien.

refueling

Menggoyang-goyang Mobil Saat Mengisi Tanki Bahan Bakar

Masih banyak kita lihat di beberapa Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) pemilik mobil kerap menggoyang-goyangkan mobil saat mengisi penuh tanki bahan bakar. Alasannya agar bahan bakar yang terdapat di leher tanki pengisian dapat segera turun dan pengisian bisa lebih cepat.

Perlu diketahui sifat benda cair dengan sendirinya akan mudah larut atau turun akibat gaya gravitasi yang dialaminya. Dengan kata lain, tanpa harus digoyang-goyang pun secara otomatis cairan akan mengisi ruang kosong pada tanki akan turun dengan cepat dan mendorong udara yang ada di dalam ruang tanki keluar lewat saluran sirkulasi udaranya.

Nissan March Facelift 4

“Inreyen” Mobil Baru

Berasal dari kata inrijden dalam bahasa Belanda, pemilik mobil baru biasanya masih kerap dihantui oleh proses ini sebelum membesut kendaraannya. Dari mitos yang berkembang dahulu, setidaknya pemilik mobil harus melakukan inreyen atau break in sejauh 1.000 Km untuk membuat seluruh komponen pada internal mesin beradaptasi dan presisi dengan kondisi aktual penggunaan demi daya tahan yang tinggi.

“Rasanya kalau mobil zaman sekarang tidak perlu. Karena seiring perkembangan, teknologi fabrikasi juga semakin canggih dengan menghadirkan alat-alat yang lebih presisi, timpal Edo.

Belum lagi selepas masa produksinya, mesin pun telah melalui serangkaian pengetesan untuk pengujian performanya termasuk saat mobil yang telah usai dirakit wajib melakukan beberapa pengujian berjalan diatas roda dynamometer. Sehingga hampir bisa dipastikan saat mobil telah mencapai tangan konsumen sudah dalam kondisi siap pakai dan bisa langsung dibesut.