Bulan Ramadhan begini, biasanya menjadi salah satu momentum yang paling ditunggu oleh para pengusaha mobil bekas. Bagaimana tidak, dari tahun ke tahun permintaan akan mobil bekas melonjak tinggi menjelang Hari Raya Idul Fitri.

Sebagaimana kita tahu, banyak orang yang memanfaatkan Hari Raya Idul Fitri untuk “menunjukan” tunggangannya ke sanak saudara saat bersilaturahmi ataupun mudik Lebaran. Otomatis, permintaan akan mobil bekas juga turut terdongkrak akibat budaya ini.

Sayangnya tahun ini kenyataan tidak menunjukan demikian. Wabah virus Corona yang telah menjadi pandemi di negeri ini sejak awal Maret lalu, memporak-porandakan harapan para pengusaha mobil bekas di tanah air.

Tidak pandang bulu, seluruh pemain mobil bekas di masing-masing segmen ikut kena terjang badai pandemi COVID-19 lantaran menurunnya daya beli atau perekonomian masyarakat. Tambah lagi, Pembatasan Sosial Berskala Besar atau PSBB yang dicanangkan oleh Pemerintah Pusat Republik ini yang melarang kegiatan mudik Lebaran, semakin membuat para pengusaha mobil bekas terperosok ke lubang yang semakin dalam.

Diakui oleh Hendro Kaligis, Bussiness Development Indomobil Sales untuk cabang mobil bekas Auto Value, bursa mobil bekas penjualannya turun hingga 80 persen setelah terjadi pandemi. Ditambah dengan aturan Pembatasan Sosial Berskala Besar di sejumlah wilayah.

Pengakuan yang sama juga datang dari Andre Soeltan, punggawa Duta Perkasa Auto, pebisnis mobil bekas di bilangan Lubang Buaya, Jakarta Timur. Ia mengakui jualannya anjlok setelah wabah Corona dan PSBB ini.

Jika secara rutin ia dan timnya mampu menjual mobil dengan rata-rata 12 unit per bulan, sepanjang April hingga jelang pertengahan Mei ini hanya berhasil melepas empat unit saja.

“Biasanya di bulan puasa gini, ada aja yang datang untuk melihat mobil selepas waktu sahur atau Subuh. Sekarang semenjak ada PSBB konsumen datang untuk melihat mobil siang hari juga jadi mikir,” ujar pria asal Ngadirojo, Wonogiri, Jawa Tengah tersebut.

Kesedihan serupa juga dialami oleh Gilang Soedibyo, pemilik Karunia Panca Selaras atau KPS Bimmer di Blok M Mall. Pengusaha mobil bekas khusus BMW tersebut malah mengaku terakhir menjual unit dagangannya pada akhir Maret lalu.

“Showroom Blok M Mall yang hari biasa saja tidak begitu banyak pengunjung, semenjak PSBB malah menjadi makin sepi,” ujar Gilang.  Kendati biasanya ia mengandalkan jalur digital untuk memasarkan mobil-mobilnya, diakui cara tersebut saat ini juga tidak menolong.

Saat ini bisa dibilang mobil bekas memiliki stok yang melimpah, alias kelebihan stok. Mereka mengakui banyak konsumen yang menawarkan tunggangannya dengan harga yang sangat miring karena alasan kebutuhan finansial dampak dari pandemi Corona.

Mereka semua berharap kondisi yang terpuruk ini segera berakhir untuk menyelamatkan bisnisnya dari gulung tikar dan menjaga kelangsungan hidup para pekerjanya. Segala cara telah mereka tempuh, seperti Duta Perkasa Auto misalnya, mereka telah mengkorting harga jualnya habis-habisan di bawah harga pasaran demi berputarnya roda bisnis. Demikian halnya dengan Karunia Panca Selaras yang telah menjalankan layanan peninjauan dan pembelian mobil dari tempat konsumen, namun belum berhasil mendongkrak penjualannya.

Semoga pandemi ini segera usai agar daya beli konsumen kembali meningkat dan perekonomian negara kembali normal.