Bosch Indonesia boleh jadi banjir untung menutup tahun fiskal 2017 dengan pertumbuhan penjualan sebesar 1,6 triliun rupiah. Atau 28 persen lebih tinggi dibanding tahun sebelumnya.

Meski begitu bukan berarti tak ada pekerjaan rumah yang perlu dilakukan untuk bisnisnya.

Dalam konferensi pers tahunan, Rabu (18/7) di Jakarta, Bosch Indonesia mengakui bisnisnya belum maksimal di bidang aftermarket roda dua. Di bidang ini Bosch memiliki produk-produk seperti busi, aki, klakson, atau bohlam.

Bisa dibilang produk-produk tersebut belum menjadi pilihan utama bikers kebanyakan.

“Memang benar kalau dibilang begitu, karena untuk di aftermarket kita mulainya dari roda empat,” ujar Griselda Iwandi, Marketing Manager Automotive Aftermarket Division PT Robert Bosch Indonesia.

Masih kata Griselda, kelemahan Bosch Indonesia dalam memasarkan produk aftermarket roda dua ialah statusnya yang bukan agen pemegang merek kendaraan.

Dirinya melihat pemilik motor cenderung memilih produk serupa dengan Original Equipment Manufacturer (EOM) saat melakukan penggantian.

“Kalau beli motor di Indonesia, misalnya, businya kan sudah ada dari merek-merek tertentu,” sambung Griselda.

Mengakali situasi tersebut, Bosch berusaha memposisikan produknya di atas milik kompetitor bahkan produk OEM. Istilahnya, produk Bosch justru cocok buat yang pengin upgrade komponen.

“Untuk busi, kita punya kualitas dan teknologi, bahkan di atas busi OEM. Untuk upgrade, baik untuk busi platinum atau iridum, itulah target market yang lebih kita targetkan,” kata Griselda.

Data Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia (AISI) menunjukkan sepanjang 2017 ada sebanyak 5,88 juta unit sepeda motor terjual. Angka yang cukup besar untuk membuat Bosch terdorong untuk menyicipi manisnya pasar roda dua Tanah.

“Kalau untuk motor bisa dibilang kita lagi buka market nih, peluang besar untuk dua roda makanya kita perkenalkan produk-produknya,” tutup Griselda.