Sebuah komposisi yang dibuat dengan mengadopsi beragam improvisasi buah olah ide dan kreasi biasanya bakal menghasilkan sebuah karya yang indah. Tidak hanya di musik, hal serupa juga berlaku di ranah modifikasi roda dua. Ya, itulah yang bisa kami tangkap saat menyimak puluhan kreasi gerai modifikasi Negeri Sakura bernama Brat Style. Tidak hanya melahirkan motor-motor custom yang digadang sebagai motor yang indah, namun banyak media yang mengganjar gerai asal Tokyo ini sebagai penghasil motor yang rideable.

Brat Style Jepang

Hal dimaksud yang membuat kami memutuskan untuk langsung berkunjung ke Brat Style sesaat lepas kami tiba di Bandara Haneda dalam rangka menghadiri Yokohama Hot Rod Custom Show 2015 beberapa waktu lalu. Sebenarnya ada alasan lain kami datang ke rumah modifikasi bentukan Go Takamine tersebut. Sejatinya kami ingin meluruskan pakem Brat Style yang belakangan marak menjadi sebuah aliran modifikasi di Indonesia. Istilah kerennya metonimia aliasnya berubahnya nama brand menjadi istilah atau bahasa yang digunakan sehari-hari. Seperti penyebutan Aqua untuk air mineral hingga Odol untuk pasta gigi.

Brat Style Jepang

“Tujuan kita ke sini sebenarnya bukan hanya mau jalan-jalan sekaligus lihat-lihat motor-motor karyanya Brat Style. Tapi kita juga mau memberikan informasi yang benar soal Brat Style itu sendiri. Karena di Indonesia mulai berkembang istilah Brat Style untuk sebuah gaya modifikasi, bukan rumah modifikasi. Bahkan sampai ada komunitasnya lho,” ujar Veroland, builder papan atas asal Kickass Chopper yang menemani kami sampai ke Kita, Tokyo, tempat rumah modifikasi ini berdiri.

Brat Style Jepang

Kesibukan jelang dibukanya Yokohama Hot Rod Custom Show 2015 membuat Go Takamine tidak punya banyak waktu untuk menemani kami berkeliling. Dirinya hanya menjelaskan secuil soal Brat Style sambil lalu. Untungnya ada salah satu staf yang bersedia untuk menjawab rentetan pertanyaan yang kami ajukan dan membebaskan kami untuk berkeliling.

Brat Style Jepang

Bagian bawah dari gerai yang dibangun sejak 1998 ini merupakan ruang pajang hasil karya. Di salah satu sudut berdiri kokoh enam unit motor custom yang menggunakan mesin dari beragam merk dengan ciri khas Brat Style. Semisal rear end lengkap dengan sistem suspensi, jok tipis, minus chrome, penggunaan stang mini-apes sampai stang tinggi ala motocross. Yang terakhir biasanya diadopsi oleh motor-motor yang mereka juluki sebagai “Brat Tracker”.

Brat Style Jepang

Masih di lantai yang diramaikan oleh deretan sofa kulit guna kenyamanan pengunjung, kita juga bisa membeli beberapa aksesoris dan spare part motor, pernak-pernik, tote bag hingga t-shirt yang mereka produksi sendiri. Serunya, sebagian besar dari koleksi apparel Brat Style dibuat dalam jumlah terbatas. Paling banyak 50 buah. Jadi lebih terkesan eksklusif dan membanggakan penggunanya. Sementara bagian samping bangunan dua setengah lantai ini berfungsi sebagai ruang untuk serah terima sekaligus pengerjaan finishing motor-motor milik customer.

Brat Style Jepang

Pasalnya, workshop untuk proses pengerjaan yang lebih berat berada di lantai atas. Tak heran jika di sini juga ditemukan beberapa alat berat seperti pipe bender, tube bender, metal bender, milling machine, lathe machine, sampai beragam perkakas. Yang tidak kalah unik, di lantai ini kita tidak menemukan stall-stall canggih layaknya sebuah bengkel motor. Yang ada hanyalah portable stall untuk mempermudah sang mekanik. Cukup sederhana memang. Namun berkat dedikasi, membuat motor yang dikaryakan tidak kalah dengan hasil modifikasi bengkel-bengkel besar di Jepang.

Brat Style Jepang

Maka tak heran jika Brat Style kini telah melebarkan sayapnya dan membuka gerai anyar di California, Amerika Serikat. Tidak hanya itu. Nama besar  dan pengaruh Go Takamine tidak hanya di industri custom Jepang, namun juga skena modifikasi motor dunia juga telah membawa pria pendiam ini dititahkan untuk meracik motor-motor baru dari banyak pabrikan besar seperti Yamaha dan BMW.

Brat Style Jepang

Mengutip tulisan pelaku custom yang juga founder SSMC, Rizky Mandra di TheGaspolCom, “Nama seringkali dijadikan label yang mengkotak-kotakkan populasi ke dalam golongan tertentu yang akhirnya menjadi pemecah belah skena roda dua Indonesia. Sebuah fakta lucu adalah pemberian label yang salah terhadap sebuah golongan.” Jadi jangan salah lagi ya guys.. Adanya ranah custom diharapkan hanya untuk memperkaya dan mengguyubkan scene kesayangan ini. Bukan malah jalan sendiri-sendiri.