Tak terhitung berapa banyak mobil ini muncul dalam film-film beken. Membuat namanya dikenal lebih dari sekadar sebuah kendaraan, tapi juga ikon budaya populer. Semua itu cukup untuk menggiring hasrat banyak penggemar roda empat menjadikannya mobil impian. Termasuk saya yang menaruh respect lebih padanya: Chevrolet Camaro SS 1969.

Saya berhasil mencobanya setelah melewati dilema cukup mendalam. Bukan apa-apa, tapi rasa hormat saya pada mobil ini dan pemiliknya yang bikin maju-mundur untuk melakukan test drive.

Beneran nih mobilnya boleh dicoba? Gimana kalau kenapa-kenapa di jalan nanti? Orang yang punya beneran percaya sama gue?” itulah sekelumit pertanyaan yang berseliweran di kepala selama dalam perjalanan menyambanginya. Jujur saja saya grogi setengah mati waktu itu.

Gimana nggak grogi coba? Saya pribadi melihat mobil semacam ini nilainya nyaris tak bisa diukur.

Oke, boleh dibilang saya memang sudah bolak-balik melakukan test drive mobil keren punya agen pemegang merek (APM). Tapi itu semua mobil baru yang sparepart-nya masih sangat, sangat, sangat banyak di pasaran. Tenaga profesional yang bisa menanganinya juga bisa ditemui di mana-mana.

Terlebih lagi mobil test drive milik APM kebanyakan di-cover asuransi yang bikin hati sedikit lebih tenang kalau ada apa-apa di jalan

Sedangkan ini adalah mobil langka hasil full restorasi yang aslinya keluar tahun 1969. Kalau saya ngerusak secuil aja komponen di interiornya, bisa mampus nyari gantinya! Atau, katakanlah bikin luka di bodinya, bisa jadi saya menodai kepercayaan orang yang rela menyerahkan kuncinya pada saya.

Saya percaya siapa pun orang yang memiliki mobil semacam ini kemungkinan besar punya ikatan emosional kuat dengan mobilnya. Dan saya sangat tak mau menciderai koneksi sakral tersebut.

Makanya, pada kesempatan test drive kali ini saya mencoba sangat berhati-hati dalam setiap injakan gasnya. Walau di sisi lain ada pula dorongan hasrat untuk besenang-senang di balik kemudinya.

Gimana bisa? “Udahlah, coba aja dulu,” gumam saya sambil memantapkan langkah ke workshop Gearhead Monkey Garage di Jakarta Selatan, lokasi mobil ini menghabiskan hari-harinya.

Masih dalam perjalanan, tiba-tiba bos saya yang tahu anak buahnya grogi berseloroh, “Tadinya mau di-convert jadi setir kanan, udah beli convertion kit-nya, tapi nggak jadi, sayang.”

Alamak, setir kiri pula mobil ini.

Mobil legendaris, full restorasi, mulus abis, setir kiri. Kombinasi lengkap untuk memunculkan rasa excited sekaligus nervous.

Sesampainya di workshop, Chevrolet Camaro SS 1969 berwarna kuning itu masih berada di dalam garasi. Setelah dikeluarkan, saya mulai memerhatikan sekeliling bodinya tanpa ada pikiran apapun selain rasa kagum.

Ini beda banget dengan ngetest mobil baru. Biasanya, Anda akan mulai mencari-cari celah saat dihadapkan dengan sebuah kendaraan anyar. Lalu membanding-bandingkan spesifikasi dan fiturnya dengan produk tetangga. Dari situlah lahir penilaian bagus atau tidaknya sebuah produk kendaraan roda empat.

Tapi nggak ada pikiran semacam itu saat saya dihadapkan pada mobil ini. Yang ada hanya perasaan kagum dan salut sama mereka yang ngasih effort luar biasa terhadap proses pembangunannya.

Sisi menarik dari desain Camaro ini ialah adanya dua kesan yang muncul berbarengan. Pertama, setiap lekuk bodinya menyuguhkan kecantikkan tersendiri. Terutama tarikan garis bahu mobil ini yang terlihat nyata apabila Anda berdiri di sampingnya.

Kedua, sisi maskulin nan sporti yang lahir dari detail-detailnya, seperti lip spoiler, hood scope, atau livery hitam di samping mobil. Ditambah lagi Anda tahu ada mesin 5.700 cc V8 (350 cu in) yang bersemayam di balik kapnya.

Punya usut, penampilan memukau bodi luarnya adalah hasil restorasi yang makan waktu tergolong singkat, sekitar dua bulan. Pengerjaannya dikebut lataran mengejar penyelenggaraan sebuah festival.

Setuhan maksimal pastinya juga merambah ke bagian dalamnya. Di mana Anda akan disuguhi keotentikan yang menyeluruh.

Dasbor di sisi driver diisi instrumen kluster yang desainnya klasik banget. Keunikan bisa ditemui pada tuas transmisinya yang punya bentuk mengotak atau biasa disebut “horse shoe”. Sensasinya sangat istimewa ketika Anda menggenggamnya untuk memainkan trasnmisi matic tiga percepatan yang dimliki mobil ini.

Di depan tuas transmisi itu Anda akan disuguhi berbagai informasi seperti tekanan oli, jumlah sisa bahan bakar, hingga temperatur mesin lewat beberapa panel meter.

Lalu, bagaimana rasanya berada di dalam kabin mobil ini secara general?

Lapang adalah istilah yang saya rasa cukup tepat untuk menggambarkannya. Meski hal ini tak berlaku untuk bangku baris belakang. Satu lagi hal positif yang saya rasakan adalah visibilitas sangat baik. Sebabnya tak lain adalah bentuk pilar A yang slim.

Merasakan pengalaman-pengalaman postif itu, lambat laun perasaan grogi saya mulai luntur. Joknya yang kelewat empuk juga memberi terapi khusus.

Injak gas dan suara mesin V8 yang sangat renyah begitu memanjakan telinga. Yang bikin kaget adalah rupanya setir mobil ini tegolong ringan. Maklum, restorasi yang dilakukan bukan sebatas pada penampilannya, melainkan juga menyentuh aspek teknis.

Di mana terdapat penginstalan power steering guna memudahkan pengendalian. Belum cukup sampai di situ karena mobil yang usianya sudah masuk 49 tahun ini juga mendapat sistem reinforcement sasis lansiran Hotchkis. Alhasil, mobil minim bodyroll dan kemudinya presisi.

Seingat saya test drive ini dilakukan masih dalam suasana libur Lebaran kemarin. Dan seperti Anda tahu bahwa kondisi jalanan saat itu begitu menggoda untuk menginjak gas lebih dalam dan lebih dalam lagi.

Dan memang hal itulah yang saya lakukan. Mengendarai pony car klasik dan merasakan setiap embusan tenaga yang dikeluarkannya. Adaptasi setir kiri  mobil ini pun berjalan lancar hingga saya benar-benar bisa menikmati setiap momen berada di dalam Chevrolet Camaro SS 1969.

Mobil yang lahir dengan satu-satunya objektif, yaitu untuk menjadi tandingan Ford Mustang.

Dari balik kemudinya, saya bisa melihat fotografer kami yang mengacungkan jempolnya. Menandakan bahwa ia sudah mendapat gambar yang cukup untuk laporan ini. Dan itu juga jadi tanda buat saya untuk kembali ke workshop. Mengakhiri kencan singkat dengan mobil yang rupanya tak lama lagi akan masuk garasi pemilik barunya tersebut.