Dua puluh lima tahun belakangan teknologi komputer terus berkembang. Produsen otomotif adalah salah satu pihak yang paling getol meng-upgrade pirantinya demi meningkatkan daya saing. Mulai dari proses produksi sampai berbagai kecanggihan yang disematkan pada produknya.

Sederet proses canggih yang mengawal lahirnya sebuah mobil masih menyisakan satu metode kuno yang dianggap tidak tergantikan. Model tanah liat atau yang biasa disebut clay model telah membantu produsen mewujudkan produk sesuai yang direncanakan selama 80 tahun lebih.

Ancaman bagi clay model, apalagi kalau bukan 3D printer. Lalu apa yang masih membuat produsen mobil mempertahankan clay model? Elemen kemanusiaan jawabnya. “Terdapat obsesi dalam teknologi yang bikin semua proses dilakukan secara tergesa-gesa secara digital.” jelas Joe Dehner, kepala disain eksterior Dodge & Ram, Fiat Chrysler Automobiles.

“Saya masih berpikir punya keinginan menciptakan disain yang cerdas secara teknis, tapi satu hal lain, adalah menambahkan unsur manusia,” tambahnya. Alasan kemanusiaan memang terkesan begitu abstrak. Tapi unsur ini penting mengingat interaksi yang begitu dalam antara mobil dan manusia saat mengendarainya.

Berbeda dengan pabrikan Ford yang punya alasan lebih teknis untuk mempertahankan clay model dalam proses produksinya. Dikutip dari Wall Street Journal, Chris Svensson, direktur disain Ford’s North dan South America mengatakan, Ford selalu kembali menggunakan clay, karena masalahnya proyeksi digital tidak bisa menggambarkan secara akurat bagaimana cahaya jatuh pada disain bodi mobil tersebut.

Walau begitu, beberapa produsen mobil di Eropa telah memangkas proses clay model ini untuk beberapa variannya. Majalah Autodesk melaporakan bahwa penggunaan clay model telah menurun sebanyak 70% di Eropa. Mengutip laman Fast Company, clay modeler yang punya gaji sampai Rp 1,3 miliar pertahun memang tidak akan punah pada waktu dekat. Tapi profesi ini memang terancam. Terbukti juga dari kampus-kampus di luar sana yang sudah tidak mengadakan kelas clay modeling.