Bukan sekali dua kali kami mendengar nama Geopark Ciletuh. Dari media sosial atau obrolan langsung dengan penggemar traveling, kami tahu kawasan wisata di selatan Sukabumi ini memiliki daya tarik luar biasa. Rasa penasaran itupun terus bertambah, hingga akhirnya terpuaskan oleh petualangan singkat bersama Datsun Cross.

Ada dua pengalaman berkesan dalam perjalanan kami ke sana selama dua hari. Pertama sudah barang tentu kesempatan kembali ke alam untuk menikmati lanskap asri yang mengisinya. Tebing-tebing hijau dihiasi air terjun merupakan salah satu pemandangan yang tersaji. Ditambah lagi garis pantai terpampang luas berhasil mendatangkan perasaan damai tersendiri.

Sungguh sebuah terapi mujarab buat mereka yang sehari-hari hanya berkutat di hadapan layar komputer. Membosankan. Pemandangan alam yang bisa dinikmati paling hanya menyaksikan matahari terbenam dari lantai atas tempat kerja. Itupun kalau sang surya tak terhalang asap polusi yang kian menggila.

Kami “melarikan diri” dari Jakarta menuju Sukabumi, tepatnya arah Pelabuhanratu pada Jumat malam. Totalnya ada lima orang yang sudah siap dengan barang bawaan masing-masing. Plan A, kami akan berkemah di pinggir pantai. Plan B, jangan ditanya, mana mungkin kami yang berjiwa spontan punya rencana matang untuk hal-hal seperti ini.

Menjelang waktu berangkat, seorang rekan redaksi bertanya, “Memang muat nih mobil untuk berlima?” Pikir saya, seharusnya tak ada masalah mengingat Datsun Cross masuk kategori compact crossover yang menawarkan tujuh bangku penumpang.

Belum lama diluncurkan, mobil ini lahir sebagai model ketiga Datsun di Indonesia.

Ada Datsun Go, Datsun Go+ (yang juga punya tujuh bangku penumpang), dan kini Datsun Cross. Ada anggapan mobil ini hanyalah Datsun Go+ yang ditinggikan. Anggapan tersebut tak sepenuhnya salah mengingat basis yang dipakainya merupakan milik Datsun Go+.

Dalam perjalanan ini kami memanfaatkan bangku baris ketiga sebagai bagasi tambahan mengingat barang bawaan yang cukup banyak. Dan informasinya pun bangku baris terakhir itu tak disarankan diisi penumpang bertinggi badan lebih dari 159 cm.

Ruang kabin belakang, mulai dari leg room hingga tempat duduknya berada di level cukup. Cukup untuk diisi hingga tiga orang, namun sama sekali tak ada ruang tersisa.

Perjalanan pun dimulai dengan melintasi tol dalam kota, jalanan dengan kontur relatif datar. Di sini Datsun Cross tak menghadapi kendala diajak berlari meski membawa kargo penuh. Kebetulan kami menggunakan tipe CVT, varian termahal dengan banderol Rp 173,99 juta yang dengan sendirinya membawa kenyamanan saat merayap di kemacetan.

Masuk Sukabumi perjalanan masih normal, hingga kami benar-benar berada di kawasan Geopark Ciletuh. Mendekati lokasi kami akan berkemah, Pantai Palangpang, jalanannya boleh jadi mulus dengan permukaan berupa aspal dan beton.

Namun jangan terbuai dengan hal itu karena ada banyak tanjakan dan turunan curam. Esktremnya lagi, kondisi tersebut dikombinasi dengan berbagai jenis tikungan. Di sini Anda bisa menemui mulai tikungan parabolik, hairpin, hingga chicane dengan sudut sangat sempit. Ujian buat mobil ini yang punya karakter bantingan cukup rigid.

Di sinilah mesin 1.200 cc 3-silinder Datsun Cross benar-benar diuji. Kami harus jujur, kondisi jalan berupa tanjakan ekstrem bukan habitat yang ideal buat mesin bertenaga puncak 78 ps ini. Cara paling ampuh untuk membawa mobil ini melalui tanjakan-tanjakan itu ialah dengan memanfaatkan momentun yang didapat dari turunan.

Jika tidak, habislah tenaga mobil berpenggerak CVT 5-percepatan ini di tengah-tengah tanjakan. Kami sempat berpikir justru varian transmisi manualnya yang dijual seharga Rp 161,49 juta bakal lebih asyik buat diajak ke sini.

Decit roda berkali-kali terdengar setiap kami melahap tikungan yang kadang tak terprediksi arahnya. Bisa ke kanan atau kiri, arahnya terhalang oleh tanjakan. Perasaan ketar-ketir itu nyata adanya setiap kami harus mengoreksi lingkar kemudi.

Gila, jalur ini jelas bukan buat driver pemula,” soloroh salah satu anggota rombongan kami yang akrab dengan dunia off road.

Situasi ini menjadi pengalaman selanjutnya yang tak bisa kami lupakan dalam perjalanan ke Geopark Ciletuh. Pengalaman melewati jalur aspal, namun memiliki tantangan tersendiri.

Soal safety, sebenarnya mobil ini bisa dibilang sudah mumpuni dengan sejumlah fitur keselamatan aktif yang menempel. Sebut saja Anti-lock Braking System (ABS), Electronic Brake-force Distribution (EBD), Traction Control, dan Brake Limited Slip Differential.

Kami melintasi rute utama itu saat waktu sudah lewat tengah malam, otomatis kondisi sekitar gelap gulita. Pada momen ini kami menggantungkan visibilitas pada lampu depan Datsun Cross yang sudah menggunakan proyektor LED. Lampu depan tersebut pun kenyataannya dibuat berbekal “kecerdasan” khusus.

Yaitu dengan bekal fitur auto headlamp yang secara otomatis akan menyalakan lampu utama bila kondisi pencahayaan di luar dirasa kurang. Misal saat masuk terowongan atau tempat parkir basement. Fitur yang jamak ditemui pada mobil-mobil kelas atas ini bekerja memanfaatkan sensor yang terletak di atas dasbor.

Dari sini nampak Datsun ingin memberikan sesuatu yang lebih untuk konsumen mobil seharga Rp170 jutaan. Dan bila saya boleh berpendapat, desain lampu depannya pun terlihat keren dengan mengusung konsep eagle eye untuk bagian Daytime Running Light (DRL). Ditambah sepasang lampu bulat, fascia depan mobil ini terlihat macho.

Tak terasa nyaris tujuh jam kami berkendara hingga tiba di Pantai Palangpang. Kami pun disapa debur ombak dan langit malam bertabur bintang. Pikiran dan hati terasa damai berada di tengah-tengah alam lepas dihangatkan api unggun di depan tenda.

Menjelang subuh kami memejamkan mata dengan perasaan bahagia dan hasrat berpetualang yang nyaris terpenuhi. Nyaris, karena eksplorasi sesungguhnya baru dapat dilakukan keesokan hari ketika matahari benar-benar mengekspos seluruh pesona yang dimiliki Geopark Ciletuh.

Pantai Palangpang sudah pasti menjadi lokasi utama kami “bermain” selama di Geopark Ciletuh. Di sini pula kami mengambil beberapa gambar Datsun Cross. Di bawah siraman matahari pagi, eksterior mobil ini cukup atraktif terutama untuk bagian depannya.

Lower grille yang dimiliki mobil ini menyiratkan kesan Datsun Cross gagah. Desainnya dibuat menyambung dengan bagian plastik hitam yang berada di atas fender hingga lanjut ke bagian samping bodi. Lalu, untuk bagian belakang sebanarnya identik dengan yang dimiliki Datsun Go+.

Sekilas spoiler atas kedua mobil tersebut sama. Begitu juga dengan bentuk lampunya. Pembeda yang nyata ialah desain bumper-nya, di mana lagi-lagi milik Datsun Cross dibuat lebih berotot.

Tepat sehabis makan siang, kami membawa Datsun Cross kembali ke Jakarta. Mampir ke air terjun Curug Cimarinjung, kemudian Puuncak Darma. Melewati rute menantang seperti yang kami lewati kemarin malam.

Pada momen ini kami benar-benar dibuat takjub oleh pemandangan birunya laut yang terpampang sepanjang jalur tersebut. Kami menikmatinya dari dalam mobil yang tengah bersaing merebut hati konsumen yang menggemari atkivitas luar ruangan seperti ini.

Namun sekedar catatan kecil dari kami, mobil ini bukanlah sebuah armada yang tepat untuk digunakan di jalur tanjakan terjal dan turunan curam. Apalagi yang bertransmisi CVT, perlu keahlian khusus dari pengemudi untuk terus menggali momentum yang tepat guna membawa Datsun Cross hingga pucuk tanjakan.

Tak sekali dua kali, kami yang pergi berlima bermuatan kargo penuh dengan Datsun Cross ini harus mengulang kembali beberapa tanjakan terjal karena kehabisan nafas ditengah tanjakan akibat zona ancang-ancang yang terbatas. Pun sejujurnya, sempat timbul perasaan sedikit cemas akibat transmisi CVT yang tiba-tiba mengeluarkan asap dan timbul aroma karet terbakar.