Datsun GO+ Panca (2)

Bagi generasi muda saat ini, nama Datsun memang tak terlalu akrab di telinga. Utamanya pada anak belasan tahun hingga usia awal 30 tahunan. Tak bisa disalahkan bila mereka tak aware, sebab Datsun yang resmi dipasarkan di Indonesia memang berakhir masa jualnya di akhir 70-an.

Nah, bagi orang-orang berusia 40 tahun ke atas tentu saja banyak kenangan dengan brand ini. Seperti saya contohnya,  tetangga sebelah rumah punya Datsun 120Y, lalu beberapa rumah setelahnya ada Datsun 160J terparkir apik di garasi. Belum lagi ada beberapa tipe yang hingga saat ini menjadi ikon mobil retro atau modifikasi, seperti Datsun 120Y SSS, Datsun B120 pikup yang akrab disebut Datsun Curut atau Datsun Pertamina. Lalu Datsun 1600 Pickup yang populasinya lumayan banyak karena di jamannya sohor sebagai mobil angkutan toko dan material.

Datsun GO+ Panca (3)

Nah, masuk era 80-an nama Datsun memang mulai dihapuskan. Gantinya bendera Nissan yang dikibarkan. Seiring perjalanan waktu dan memang menjadi strategi Nissan Motor Corporation, brand Datsun mulai dibangkitkan untuk mengisi segmen mobil murah. Untuk pasar tanah air sendiri, Datsun mulai diperkenalkan pada IIMS 2013 lalu dengan dua varian sekaligus, Datsun Go+ dan Datsun Go+ Panca.

Kehadiran Datsun di tanah air memang bisa dikatakan sebagai hal yang ikonik. Sebab PT Nissan Motor Indonesia mendeklarasikan Go+ sebagai mobil paling murah saat ini. Tak pelak bila semua orang di kalangan menengah mendapat harapan baru untuk memperoleh kendaraan yang layak untuk dimiliki.

Datsun GO+ Panca (13)

Ada harga ada rupa.Ya inilah ungkapan yang tak boleh dikesampingkan. Artinya, dengan banderol sedikit di atas 100 juta Rupiah, seperti unit yang kami coba ini memang tak banyak hal istimewa yang disajikan.

Desain eksterior yang mengacu pada kendaraan MPV modern saat ini cukup aman-aman saja. Namun ada sedikit pendapat kami, bagian panel bodi samping belakang yang menggelembung rasanya sedikit aneh dan terkesan ingin sedikit keren tapi malah ‘enggak kena’ kerennya. Coba kalau lurus-lurus saja, mungkin lebih sedap dilihat. Ah sudahlah.

IMG_5582_resize

Nah, unit yang kami coba adalah tipe yang paling komplit. Ya, versi T Option sudah dilengkapi head unit yang memiliki outlet USB, adanya spoiler belakang dan sensor parkir.

Dibekali mesin 3 silinder, dengan kapasitas 1.198 cc yang sederhana tanpa pengatur katup variable ini cukup menghasilkan tenaga 67 dk dan torsi sebesar 104 Nm. Namun, bagi kami tarikan mobil bertransmisi 5-speed manual ini cukup wajar-wajar saja dan tak kedodoran. Trik yang dilakukan Datsun memang bisa dikatakan sengaja atau tak sengaja. Sebab material  besi yang digunakan sebagai pembalut tubuhnya memang tak memakai pelat tebal, alhasil bobot kosong yang menurut catatan hanya 812 kg tentu saja berimbas  pada power to weight ratio yang cukup

Datsun GO+ Panca (12)

Karakter mesin kecil tiga silinder memang sangat terasa di sini. Mungkin bagi yang pernah memiliki mobil bersilinder ganjil akan tahu ciri khasnya. Ya, ada sedikit gejala ‘ndut-ndutan’ pada saat stationer atau kala berjalan di kecepatan rendah.

Mobil ini memang diciptakan sebagai LCGC alias Low Cost Green Car, tak heran apapun yang dituju pasti mengarah pada segala hal yang berbau penghematan. Malah di spidometer ada panduan petunjuk pergantian gigi yang tertera di spidometer. Perpindahan gigi terjadi di kisaran 2.000 – 2.500 rpm ini tentu saja membuat mobil ini bisa menelan bensin 1:12 rata-rata seperti yang kami uji kemarin.

IMG_5599_resize

Secara stabilitas dan kenyamanan. Buat kami tentu saja mobil bermesin kecil ini bukan untuk jorjoran ke performa, tapi lebih kepada fungsi. Namun begitu, kami juga merasakan bahwa, ketika kami pacu di jalan tol, mobil ini walau ringan tak terlalu menimbulkan gejala limbung. Ajaib memang, mungkin desain ergonomisnya cukup membantu. Walau lingkar roda ukuran 13 inci bawaanya kerap kami tuduh sebagai penyebab kurangnya daya cengkram.

Oh ya, satu lagi yang menjadi keluhan kami. Yup, engine noise dan road noise masih lumayan masuk ke dalam kabin, hal ini tentu saja karena minimnya peranti peredaman demi memangkas harga. Tapi seketika kami memaafkan hal itu, sebab ya itu tadi. Harga enggak bisa bohong.

Datsun GO+ Panca (10)

Sektor interior memang dibuat sangat sederhana dan serba fungsional. Seperti jok depan yang menyatu bagai kendaraan pickup, kemudian tak tersedianya laci penyimpanan, tombol power window yang hanya berada di sisi pengemudi dan penumpang depan. Dashboard juga dibuat polos tanpa aksen aneh-aneh dan hmmm… tentu saja tanpa airbag. Yang pasti thanks semua kursi sudah dibekali seatbelt.

Duduk di dalamnya memang cukup menyenangkan. Susunan kursi 5 + 2 ini lumayan mengakomodasi kebutuhan keluarga. Nah, ada tapinya nih. Kursi pengemudi bagi saya yang hanya betinggi 168cm dan saya yakin rata-rata orang Indonesia bertinggi sama dengan saya. Kok sepertinya posisi kursi sangat rendah ya? Dinaikkan sedikit sepertinya lebih oke sih. Hahahaa..

Datsun GO+ Panca (6)

Di balik kesederhanaannya, ada hal yang cukup menarik. Seperti teknologi throttle by wire, dimana GO+ sudah tidak lagi menggunakan kabel gas. Lalu jangan tertipu juga dengan cluster spidometer yang kelihatannya hanya menampilkan petunjuk kecepatan. Coba simak layar digital Multi Information Display yang kecil itu. Putaran RPM, meteran bensin, konsumsi bbm rata-rata, lalu sisa bbm dengan jarak tempuh dan sebagainya diinformasikan di situ. Walau buat kami rumah spidometer nya menjadi seperti terlalu besar kalau cuma untuk diisi dua petunjuk itu.

Well, ada harga ada rupa. Dan overall, Datsun GO+ Panca fair enough bagi kami.