Belakangan ini kondisi lalu lintas di jalan raya, terutama di Jakarta dan kota-kota besar lainnya di Indonesia terlihat semakin seperti benang kusut. Selain diakibatkan oleh pertumbuhan kendaraan yang tidak diimbangi dengan pertumbuhan jalan, sikap egois dan mau menang sendiri dari beberapa pengguna jalan turut berperan dalam menciptakan kondisi lalu lintas yang semakin hari semakin semrawut. Kondisi ini tentu saja juga menambah resiko berkendara saat di jalan raya.

Lalu bagaimana cara meminimalisir resiko tersebut? Jawabannya adalah dengan menerapkan defensive driving saat berkendara.

HYE-Training-Lapangan-3

Defensive driving adalah perilaku mengemudi yang dapat membuat kita terhindar dari masalah, baik yang disebabkan oleh orang lain atau diri kita sendiri. Lebih merupakan pendekatan intelektual tentang bagaimana cara mengemudi dengan aman, benar, efisien dan bertanggung jawab,” buka Ir. Bintarto Agung, President Director Indonesia Defensive Driving Center (IDDC), salah satu perusahaan penyelenggara pelatihan safety and defensive driving di Indonesia. “Kunci untuk menjadi pengemudi defensive ada empat A, yaitu Alertness (kewaspadaan), Awareness (kesadaran), Attitude (perilaku) dan Anticipation (antisipasi),” tambah pria yang telah mengantongi banyak sertifikat safety driving tingkat internasional dari berbagai pelatihan ini.

HYE---training-kelas

“Selalu waspada akan lingkungan sekitar dan selalu beri jarak aman antar kendaraan saat mengemudi. Kemudian pastikan kesadaran kita saat mengemudi selalu dalam kondisi puncak. Hindari perilaku agresif dan emosional saat mengemudi, dan selalu siapkan antisipasi dalam berkendara,” ujar Ir. Bintarto lagi.

HYE-Training-in-car-2

Ir. Bintarto menambahkan, terdapat tiga faktor utama dari defensive driving, yaitu kondisi pengemudi, karakter pengemudi dan kondisi kendaraan. “Salah satu hal penting dalam kondisi pengemudi adalah kemampuan mengontrol emosi. Dalam defensive driving, kita harus bisa mengatur dan mengontrol emosi. Jika Anda menemui pengemudi yang tidak sabaran, jangan sampai terpengaruh, sediakan ruang dan biarkan dia melewati kita. Perlu diingat bahwa kita tidak akan dapat merubah atau memberi pelajaran padanya dalam waktu singkat,” tukas pria yang memiliki pengalaman lebih dari 25 tahun di kejuaraan nasional sprint rally dan slalom ini.

HYE-Hyundai-Grand-i10-X

Faktor kedua defensive driving yaitu karakter pengemudi dibedakan menjadi dua. Pertama adalah pengemudi berkarakter agressive driving, yaitu pengemudi yang memiliki resiko tinggi dalam berkendara, seperti ngebut, tidak memberi tanda saat belok atau pindah lajur, melanggar rambu lalu lintas, berjalan tidak pada lajurnya dan lain sebagainya. Karakter kedua adalah pengemudi defensive driving, yang tentu saja lebih cerdas dan bertanggung jawab.

hye-training-in-car-3

Faktor ketiga defensive driving yaitu kondisi kendaraan, sebelum berkendara sebaiknya selalu sempatkan untuk memeriksa POWER, yaitu Petrol (bahan bakar), Oil (oli mesin), Water (air radiator dan air wiper), Electrical (lampu-lampu) dan Rubber (ban, wiper, dan lainnya).

HYE---training-lapangan2 (1)

Selasa, 10 Juni lalu PT Hyundai Motor Indonesia (HMI) menggandeng IDDC mengundang jurnalis untuk merasakan sendiri apa dan bagaimana defensive driving tersebut dapat diaplikasikan dalam berkendara sehari-hari. Tim TheGaspol merasakan sendiri pengalaman dan manfaat yang didapat dari praktek defensive driving yang berlangsung di daerah Cikeas, Jawa Barat ini. Andai saja semua pengguna jalan mau menerapkan defensive driving dalam berkendara sehari-hari, dapat dipastikan risiko di jalan akan menjadi lebih kecil, kondisi lalu lintas pun pastinya akan lebih aman dan nyaman. Anda berminat mencoba menerapkan defensive driving dalam berkendara sehari-hari? Bagus sekali untuk diri sendiri dan pengguna jalan lain lho.