Dhani Yahya Cleveland 7

Membawa sebuah merek baru ke Indonesia adalah hal yang tidak mudah. Namun itulah yang dilakukan oleh Dhani Yahya sekarang. Dengan Cleveland Cyclewerks, lulusan STIE Bandung ini mencoba untuk mengenalkan kelas baru di kelas 250cc dengan gaya modern classic. Penggemar sekaligus pelatih Taekwondo yang menjabat sebagai CEO Javas Cyclewerks Indonesia  ini menuturkan kepada kami bagaimana strategi dan keunggulan Cleveland untuk merebut hati para pecinta roda dua di tanah air. Berikut penuturannya:

Siapa yang mengenalkan Anda ke dunia otomotif?

Pertama-tama tentunya dari pergaulan. Kebetulan teman-teman sewaktu saya kuliah itu suka mobil. Mereka buat klub mobil kecil-kecilan dan sering nongkrong. Selain itu ada juga teman yang rajin ikutan drag race di Sentul. Sudah barang tentu modifikasi menjadi hal wajib. Waktu itu saya pakai Toyota Corolla ‘95 dengan gaya sesuai zaman; lowering kit, velg ‘18, adjustable shock,  dan sound system variasi.

Jadi itu mobil pertama Anda?

Kalau dibilang pertama juga belum ya. Mungkin waktu saya kerja di Mercedes-Benz, bisa dikatakan begitu tapi bukan benar-benar saya yang beli pribadi. Hahahaa… Terhitung 2005 sampai 2012 saya sudah pernah pakai mulaiMercedes-Benz B-Class sampai C-Class.

Kalau motor bagaimana?

Wah itu sudah lama sekali. Terakhir naik motor itu SMA tahun 1993 pakai Vespa PX punya orang tua saya. Mulai pakai lagi di tahun 2013 sewaktu saya pindah ke Piaggio. masa kerja di perusahaan motor tapi enggak punya motor? Makanya saat itulah saya kembali lagi bertemu dengan PX.

Dhani Yahya Cleveland

Karena sudah pernah mengalami semua, menurut Anda apa bedanya mobil dengan motor yang pernah Anda besut?

Kalau saya bilang sih sangat berbeda, walaupun sama-sama berada di kelas premium. Untuk mobil premium kan biasanya jadi moda transportasi utama, kalau umurnya sudah melebihi 10 tahun baru bisa masuk dalam kategori koleksi dan masuk ke Mercedes-Benz Club. Nah, beda halnya kalau di motor. Kita tidak bisa sekedar jual tapi harus juga paham komunitas mereka. Hal itu agar kita bisa diterima dan berkomunikasi langsung mengenai produk kita. Intinya adalah “Likes attract likes”. Kalau di motor ada filosofi tersebut yang mungkin tidak begitu kentara di mobil. Anak-anak motor akan cenderung bergaul dengan mereka yang suka motor juga.

Berarti dari situ timbul kegemaran akan motor?

Bisa dibilang begitu. Istilahnya ada menjiwai bisnis dengan menjadikannya hobi. Makanya mau tidak mau harus ‘nyemplung’. Dalam satu – dua tahun pergaulan saya berkembang, dari Piaggio Club sampai ke mogenya. Itu perbedaan yang cukup kuat antara kelas premium roda dua dan roda empat. Tidak melulu soal target tapi lebih kepada pergaulannya.

Dhani Yahya Cleveland 6

Kembali ke Cleveland, kalau dulu menggenggam Piaggio yang sudah punya nama dan mapan di tanah air, bagaimana strateginya dengan produk sekarang yang bisa dibilang belum memiliki nama?

Seharusnya simpel. Kami memiliki keunggulan sebuah kelas baru, alternatif modern market. Dengan bermain di kelas 250cc, yang biasanya dihuni oleh motorsport, kami mencoba menawarkan sebuah alternatif melalui gaya klasik modern. Bisa dilihat di pasaran bila tidak ada nama di klasik modern yang bermain di range harga 50 – 60 juta. Kita cukup optimistis, pasar kita gemuk dengan permintaan 50 – 60 ribu unit tiap tahun.

Selain itu, adakah keunggulan lain dari Cleveland?

Kita bicara saja value, untuk pembeli, apa yang dia korbankan dengan sejumlah dana setara dengan value yang dia dapatkan. Motor ini memiliki value yang tinggi, desain yang cukup bagus. Kalau berbicara teknologi malah kebalikannya. Kita kembali ke dasar; tidak ribet, suku cadang murah dan customable. Harga juga tentunya affordable. Untuk ukuran Amerika Serikat, memiliki motor di bawah 3,000 dolar dan dapat terlihat keren, Cuma kita yang punya. Inilah nilai jual kami di Indonesia.

Dhani Yahya Cleveland 2

Jadi apa target customer Cleveland di Indonesia?

Cleveland akan menyasar umur 25 sampai 35 tahun yang mana di usia tersebut mereka mencari motor sport,motor tua atau tidak mau main motor sama sekali. Bagi yang tidak mau maen motor sama sekali karena di pemikiran mereka harga motor mahal, makanya budget disisihkan untuk mencari motor di umur tua. Cleveland dapat menjadi wadah mereka. Di umur-umur baru kerja mereka bisa mendapatkan motor hobi, lifestyle kuat dan harga yang terjangkau.

Oke, berarti bisa diulangi lagi ada yang menjadi keistimewaan Cleveland?

Beautiful Design, Value, Simple engine dan affordable. Apa yang didapatkan konsumen melebihi pengorbanannya. Desain indah dan mesin yang simpel. Justru kita balik ke basic untuk mengejar kesitimewaan, tanpa perlu remapping dan lain-lain. Ini selling point kita yang unik. Istilahnya kalau motor Cleveland kita taruh di bengkel lulusan STM bisa dikerjain di sana.

Dhani Yahya Cleveland 8

Setelah keunggulan, adakah tantangannya untuk memasarkan di Indonesia?

Ini brand baru Cleveland muncul di tahun 2009 dan Indonesia adalah negara ke 19 dari pendistribusian di seluruh dunia. Setidaknya diperlukan waktu 10 tahun untuk satu brand dapat “establish”. Selain itu pasti bakal ada “doubt” atau keraguan dengan pabrik perakitan di China. Sebenarnya ini bisa menjadi kekuatan juga, karena jelas harganya juga bakal kompetitif. Tapi tuntutan dari Indonesia dan Jepang juga tinggi, maka kita juga bakal buat second manufacturing di Thailand. Kedua adalah adaptasi motor ini di Indonesia. Apakah sanggup beradaptasi dengan kondisi cuaca, jalan, dan kemacetan, itulah yang kita sedang gali. Namun kembali lagi yang paling utama adalah kita brand baru. Itulah yang paling kuat. Kita akan gencar untuk sosialisasikan.

 Adakah target pencapaian untuk ke depannya?

Kita berencana dalam 10 tahun akan dapat menjadi brand yang cukup diperhitungkan di Indonesia.Sampai kini kita sedang mencari partner yang mampu bersaing seara strategi untuk kuartal pertama 2015. Sebab mereka yang akan menjadi frontliner kita. Target diler kita ada di Jakarta, Bandung Jogja, Bali, Surabaya dan Medan. Saat ini sudah ada pendekatan untuk Bali dan Surabaya, untuk kandidat yang kuat sudah ada Bandung dan Jogja.

Dhani Yahya Cleveland 1

Ini yang menarik, apakah filosofi hidup Anda?

Prinsipnya sama dengan apa yang saya ajarkan untuk anak saya. Sejak dia sudah mulai berbicara saya tekankan dan kuatkan adalah don’t liedan tell the truth. Sederhana tapi saya tekankan disitu. Berani mengakui kesalahan, kalau salah just say sorry, dan minta maaf. Selalurespect ke orang dan say thank you. Fokus dan berikan 110 % kemampuan kita untuk profesi apapun juga, baik di keluarga dan pekerjaan. Selain kita harus kuat secara intelektual, kita sebagai orang timur harus mepunyai strong mental dan inner beauty. Selain IQ, EQ juga harus dipunyai. Itu dasarnya dengan hati nurani. Kita dapat mengerti apa yang ada di dalam hati kita, apakah hal yang kita perbuat adalah baik atau salah.

Menuju pertanyaan terakhir, adakah ajakan Anda agar orang beli Cleveland?

Saya rasa tidak perlu. Customer sudah pintar, apalagi yang mereka keluarkan bukan untuk kebutuhan sehari-hari. Satu hal yang pasti di kelas premium adalah decision maker bakal mencari informasi sebanyak-banyaknya. Dunia digital sudah terbuka dan mereka bisa mencari informasi sebanyak-banyaknya. Namun kami terus menekankan keterbukaan kami atas semua konsumen dan komunitas untuk merasakah pengalaman Cleveland. Kami tidak menutupi bila produk kami buatan China, toh nanti mereka akan mengerti dengan sendirinya di era keterbukaan sekarang ini. Apa yang kita harapkan adalah baik dan harapan kami adalah mereka bisa merasakan semua pengalaman. Merekalah nanti yang bisa membuat besar Cleaveland di Tanah Air.