Sudah jatuh tertimpa tangga. Mungkin ini ungkapan yang tepat untuk menggambarkan sepak terjang Ford Motor Indonesia di kancah otomotif tanah air. Setelah menginformasikan penutupan seluruh operasional Ford di Indonesia sejak Januari 2016 lalu, Ford harus rela menanggung tuntutan ganti rugi oleh para mitra dilernya.

Enam grup usaha resmi penjualan dan servis Ford di Indonesia yang membawahi 31 outlet dealer telah melayangkan dua kali surat somasi yang tercatat, somasi pertama 1 Juni dan somasi kedua pada tanggal 13 Juni. Somasi ini merupakan langkah terakhir yang diambil oleh mitra diler Ford karena dengan informasi penutupan yang dilakukan FMI sejak Januari, FMI telah merugikan puluhan diler, ribuan karyawan serta puluhan ribu konsumen Ford di Indonesia.

“Penghentian operasi dan penutupan dealership Ford di Indonesia ini diumumkan sangat mendadak pada 25 Januari lalu. Tidak ada pembicaraan apapun sebelumnya kepada para diler selaku mitra lokal. Keputusan Ford Motor Company (FMC) yang disampaikan melalui FMI merupakan tindakan yang sewenang – wenang dan telah melawan hukum. Keputusan sepihak ini sangat merugikan 31 dealer ini yang telah bekerja keras dan telah mengeluarkan investasi sangat besar untuk mendukung bisnis Ford di Indonesia,” ujar Harry Ponto, Kuasa Hukum diler Ford.

31 outler dealer yang melayangkan somasi tersebut merupakan diler terpercaya yang telah mengkontribusikan 85% dari total penjualan Ford di Indonesia pada tahun 2015. 31 diler tersebut juga telah mewakili total diler Ford yang berjumlah 44 outlet di Indonesia.

Andee Yoestong pemilik 11 outler dealer yang telah menjadi mitra lokal Ford sejak tahun 2002, mengatakan, pada Desember 2015, pihaknya masih dikejar – kejar oleh FMI untuk dapat memenuhi target pembukaan outlet dealer baru di Puri Pesanggrahan, Jakarta Barat. Sebelumnya dealer miliknya telah berdiri di Jalan Panjang, Jakarta Barat, namun lahannya masih sewa. FMI meminta andee untuk dapat merelokasi dealer miliknya agar berdiri di atas lahan sendiri. Namun nyatanya ia malah dikejutkan dengan penutupan seluruh operasional Ford di Indonesia.

Dari hasil rembukan dan melalui kuasa hukum yang telah ditunjuk, para pengusaha yang yang telah menginvestasikan sebagian hartanya untuk bekerja sama dengan Ford telah mengajukan ganti rugi yang nilainya mencapai 1 Triliun Rupiah.