Jatuh bangunnya seorang pembalap untuk bisa bertahan hingga meraih titel di kompetisi Dakar Rally selalu menyimpan cerita tak biasa. Wajar, kompetisi ini masih memegang status sebagai ajang balap multi medan paling ganas hingga sekarang.

Film karya terkini sutradara Simon Lee yang berjudul Dream Racer membuktikan hal tersebut dengan mengisahkan kiprah pembalap Christophe Barriere-Varju dalam upayanya mewujudkan mimpi untuk turun di Dakar Rally. Sikap profesional dan kerja keras pembalap asal Sydney, Australia itu tergambar betul dalam film ini.

Laman Autoevolution pada Kamis (23/12) lalu menulis, pembuatan film Dream Racer diawali pertemuan kedua figur yang sama-sama punya rencana besar. Christophe yang merupakan kroser berprestasi semasa kecilnya, punya cita-cita untuk berkompetisi di Dakar Rally. Sedangkan Lee berambisi membuat dokumentasi sebuah balapan legendaris.

Christophe Barriere-Varju | Sumber : Dream Race Facebook

Christophe Barriere-Varju | Sumber : Dream Race Facebook

Kolaborasi yang pas walau tak lepas dari apa-apa yang terbatas. Kendati begitu, film ini tetap berhasil menampilkan kehidupan sesungguhnya mereka yang berkompetisi.

Masih menurut laman Autoevolution, melalui film Dream Racer penonton bakal melihat berbagai problem yang menimpa Christophe dan pembalap-pembalap lainnya. Bagaimana kehidupan mereka di dalam bivak (semacam tenda) serta upayanya berkompromi dengan keganasan gurun.

Belum lagi kerusakan peralatan, misalnya GPS, sehingga menimbulkan bayang-bayang tidak bisa menyelesaikan lomba. Semua itu harus dihadapi Christophe dan pembalap-pembalap lainnya dalam kondisi fisik yang terus merosot sebab kurang tidur.

Dengan segala kesulitan yang dihadapinya, Christophe tercatat mengakhiri Dakar Rally 2010 di posisi 72. Masuk ke dalam golongan setengah pertama urutan peserta.

Dream Racer dirilis dalam beberapa format, yakni DVD, BluRay, dan on demand di laman dreamracer.tv. Disebutkan, secara global film ini telah meraih 7 penghargaan perfilman.